Tuesday, December 29, 2015

Tentang satu tahun ini

Tentang satu tahun ini. Tentang Hal yang begitu cepat melesat.

Setengah tahun pertama, aku kembali mengulang pelajaran yang sama pada tahun kemarin yang belum sempat tergenapi. Aku mengulang. Mengulang lalu terulang lagi. Belajar-ujian-gagal. Ya, aku bodoh untuk hal yang satu ini. Entah.

Setengah tahun pertama, aku lebih menyukai apa yang aku sukai. Membaca buku. Membeli juga mengunduhnya. Beberapa kali mampir ke toko buku. Beberapa kali meminjam buku juga. Aku membaca. Mencoba belajar dari membaca. Katanya membaca sama halnya dengan mendengarkan. Ya, aku mungkin bisa jadi pendengar yang baik.

Setengah tahun pertama, aku tidak pernah kehabisan kuota internet. Kuotaku lancar tak berbatas. Aku juga suka selanjar di dunia maya. Melihat - lihat apa saja. Menonton video bahkan film. Bagiku itu hal yang menyenangkan.

Setengah tahun pertama, aku masih saja pemalas. Tidur yang terlalu pagi, bangun yang terlalu siang dan malam yang menurutku begitu sayang untuk dilewatkan.

Setengah tahun pertama, aku tidak begitu memikirkan uang. Asal ada pulsa, asal kuota internet cukup, asal biaya belajar lunas, asal uang saku bulanan memenuhi dan yang terpenting asalkan aku selalu senang. Semua teratur tidak asal-asalan.

****

Setengah tahun sisanya, aku sudah tidak banyak memusingkan kebodohanku dalam ujian yang gagal. Aku menaruhnya didalam kotak kardus lalu menyimpannya.

Setengah tahun sisanya, aku masih suka membaca buku walau tidak begitu sering walau tak begitu rutin.

Setengah tahun sisanya, aku tersendat untuk urusan kuota internet. Pernah dalam satu bulan, babar blas tanpa internet.

Setengah tahun sisanya, aku tidak begitu pemalas. Aku jarang tidur pagi juga jarang bangun kesiangan tapi malam tetaplah waktu yang sulit untuk dilewatkan.

Setengah tahun sisanya, aku begitu memikirkan kebutuhan karena sudah tidak ada yang meyuplai lagi. Jangan tanya pulsa, kuota, apalagi uang saku bulanan.

****

Tapi satu tahun ini, aku belajar tentang pemahaman yang baik.

Tapi satu tahun ini, aku lebih banyak menghabiskan waktu bersama bapak. Mendengar ceritanya. Tentang kekuaran super yang ia miliki. Tentang hal yang masih belum aku percayai.

Tapi satu tahun ini, aku mencoba senang dengan hanya ucapan 'terimakasih' untukku. Untuk segala yang sekiranya aku bisa berikan.

Tapi satu tahun ini, aku terus berjalan.

Tapi satu tahun ini.

Tentang satu tahun ini yang semua tidak bisa diterjemahkan dalam kata, karena satu tahun ini memang masih menyimpan rahasianya.

Tentang satu tahun ini, aku, kamu, ibu, cerita bapak dan hal-hal absurd disekitar kita.

Sunday, December 20, 2015

Poswan

Poswan begitu Bapak menyebutnya. Perihal tentang menjualnya ke loakan atau menitipkannya di toko antik, Bapak lebih memilih menyimpannya, memuseumkannya dan telah dengan sengaja tidak mencari lagi kunci Poswan yang entah kemana.

Pernah beberapa kali ketika waktu luang Bapak hanya duduk sembari menonton, mengamati dan mengenang. Semacam berdialog dengan Poswan.

Mungkin bagi Bapak cerita bersama Poswan lebih dari sekedar secuil sejarah dihidupnya, lebih dari itu. Walaupun suka bikin semutan tivi tetangga, karena suara knalpotnya bisa dengan cepat meretas sistem saluran tivi seketika.

Dan satu kemungkinan lagi. Barangkali Poswan akan dijadikan salah satu warisan yang paling berharga dengan surat-suratnya yang masih lengkap dan tunggakan pajak tahunan yang begitu hebat.

Monday, November 30, 2015

Aku adalah cerita yang akan terus berlanjut

Aku adalah cerita yang akan terus diceritakan dari sesuatu ke sesuatu hingga waktu ke waktu.

Ya, kecilku hanyalah lelucon bagi mereka orang-orang yang mengaku dewasa. Iya, bagi mereka itu hanya sebuah lelucon belaka. Bagiku?

****

Aku terlahir sebagai pendiam dan pendendam juga beralasan apapun untuk menutupi kemalasan. Sedari kecil sampai saat ini pun masih. Cukup beralasan memang aku begitu. Di lingkungan yang sangat mengutamakan perbandingan-perbandingan sebagai salah satu acuan untuk menilai sesuatu. Menghakimi hingga mematahkan apa yang belum sempat dilakukan. Iya, agar mereka puas dan senang. Culek matane!

Mengatasnamakan perbandingan.

Semisal, setelah melewati rangkaian perbandingan-perbandingan itu (njlimet), Beberapa orang-orang yang mengaku dewasa dengan bangga mempopulerkan anaknya sebagai anak contohan, anak yang patut dibanggakan. Akibatnya? Beberapa dari mereka yang menganggap anaknya sialan, kurang ajar, bahkan bajingan akan terus memarahinya, menjelekkannya didepan atau dibelakang mereka, para orang-orang yang mengaku dewasa. Dan menjadi lelucon bagi mereka. Dasar!

Maka lahirlah pertanyaan sangar "kamu anaknya siapa?"

Lingkungan ini begitu kejam, begitu parah. Lantas mereka mulai berasumsi tanpa jelas, melebel Si anak ini baik, pemalas, badung, pendiam. Kurang ajar. Mati!

Lingkungan macam apa ini? Tidak bisa menghargai perbedaan, terlalu mengacu pada standar orang kebanyakan. Arrghh!

****

Lihatlah sekarang orang-orang yang mengaku dewasa, lihatlah. Apa kabar anakmu? Iya anakmu, anak yang kau manjakan dengan hasil leloconmu? Anak yang kau impikan dengan perbandingan-perbandingan konyolmu? Semoga kabar baik buat anakmu, juga bagimu. Kabarku? Waras sekali hai orang-orang yang mengaku dewasa. Apa sekarang kau merasa berat menerima kenyataan wahai orang-orang yang mengaku dewasa? Masih mau lanjut? Hai orang-orang yang mengaku dewasa? Ayo kita teruskan.

Sekarang aku bisa dengan terbahak, menertawakan lelucon masa kecilku. Ternyata itu memang lucu sekali. Yes! Lebih lucu lagi, sekarang aku juga bisa lebih lancang menertawakan kalian, wahai orang-orang yang mengaku dewasa yang semakin tambah tua. Yes! Mesakke men

APAKAH AKU PENDIAM YANG BALAS DENDAM? WAHAI KALIAN ORANG-ORANG YANG MENGAKU DEWASA?

HAH? APA?

LUCU SEKALI JAWABAN KALIAN, WAHAI ORANG-ORANG YANG MENGAKU DEWASA.

Monday, November 16, 2015

Kamu; Momen sepersekian detik

Kamu, sepersekian detik dalam sehari. Diantara pukul enam dan tujuh malam. Menunggumu. Menanti saat-saat yang bisa kunikmati, kukenang lalu kusimpan dalam hati.

Kamu, terkadang kamu hanya lewat, melempar senyum, bersapa seadanya dan berlalu begitu saja. Namun tidak jarang pula kamu berhenti lantas menghampiri, mengisi dan sedikit menghiasi bola mata ini.

Kamu, Mungkin entah sengaja atau tidak. Kamu hanya membuang muka, membuatku setengah gila. Sepersekian detik yang patah tersia-sia.

Kamu, terkadang aku juga sengaja duduk lebih lama disini hanya untuk mengamati jalanan. Kubuang pandangan. Mengulur waktu. Enggan beranjak sebelum kutemui mata ini menangkap sosokmu.

Kamu, maaf, mungkin kamu tak menemukanku ditempat biasa. Aku tak ada. Mungkin juga kamu berhenti, sembari mencuri pandangan, bertanya dan mencari. Tapi tetap aku tak ada disana, ditempat biasa aku balik menyapa. Dan maaf lagi bila ternyata kamu kecewa.

Tetapi, satu hal yang begitu kurindu,

"sapaanmu tetap indah meski kudapati kamu kelihatan lelah" kataku pelan, tak terdengar.

Kamu

Wednesday, September 30, 2015

Kamu; Petak Umpet

Hompipah aja dulu, lalu main petak umpet. Aku yang cari kamu atau kamu yang mencari aku, gimana?

Hingga, siapa yang menemukan dan siapa yang ditemukan. Hingga kamu menyerah mencariku. Hingga aku lelah menunggumu. Hingga, aku, kamu dengan sendirinya pulang, berhenti atas permainan ini. Hingga, aku, kamu bertemu lagi. Hingga permainan ini selesai.

Sunday, September 6, 2015

Curhat buat Ibu (11)

Ibu, dia yang baik pada gerimis. Dia yang suka menemani gerimis dari balik jendela maupun tak jauh dari beranda. Dia yang begitu menikmati saat-saat bersentuhan dengan gerimis. Dia yang sanggup melupakan waktu, meninggalkan apa saja demi gerimis. Dia yang selalu setia menanti pelangi sesaat gerimis perlahan terhenti.
Ibu, dia mendapatkan apa yang dia mau. Dia meraihnya dengan keras. Dia tahu apa itu bahagia. Dia mengerti mengapa harus berjalan sejauh ini. Dia menulis, menceritakan, menyanyikan beberapa kisah hidupnya. Dia merasa masih belum selesai. Dia harus terus berlanjut.
Ibu, dia yang sesekali rindu tentang hal itu. Tentang hal yang dia sembunyikan. Tentang hal yang aku sendiri tidak begitu mengerti. Tentang hal yang masih rahasia. Mungkin tentang sepenggal kisah hidupnya, mungkin. Karena dia hanya mengangguk ketika tanyaku seperti itu.
Ibu, aku juga seperti dia yang menunggu pelangi. Aku juga menunggu dia. Juga tentang hal itu, tentang rahasia.

Curhat buat Ibu (10)

Ibu, siapa yang lupa? Gerimis tak mungkin amnesia, begitupun pelangi. Tapi sederhana saja malam juga pernah lupa.
“Pelangi tak melupa, hanya disembunyikan semesta, di antara senja yang tengah tenggelam, di bawah hujan yang tak kunjung reda.”
Ibu, lantas lupa menjadi alasan, menjadi kata kerja, bukan lagi kata sifat, lebih lagi, kosa kata yang terbuang. Lupa yang selalu disempatkan. Lupa yang jadi prioritas utama.
Ibu, lupa semesta?

Thursday, September 3, 2015

Kamu; Tentang pesan pagiku

Kamu, mungkin besok atau kapan, aku tidak akan (lagi) mengirim pesan untukmu diawal hari. Kenapa? Ya, biar kusimpan saja pesan ini. Sengaja. Ya, aku masih (terus) menulis pesan itu tiap hari untukmu kok, tapi mungkin aku urung sentuh tombol kirim. Ya, biar tersimpan saja. Tenang, ngga ada yang berganti pada ritual pagiku saat ini. Dan kamu harus tahu itu.

Kamu, sebenarnya tentang pesan itu hanya tentang siasat saja, tentang bagaimana aku bisa bangun pagi dan bagaimana aku bisa sedikit berubah nanti, begitulah. Saat malam hari aku mulai berdialog dengan diriku sendiri “besok pagi harus kirim pesan, jadi bangunlah.” Ya, pesan itu semacam alarm yang sudah diatur otak bawah sadarku untuk aku bangun sendiri, benar-benar sendiri. Aku bangun dengan sendirinya tanpa bantuan alarm atau ibu yang sesekali memanggil namaku, tidak! Aku bangun sendiri, berdo'a lalu berterimakasih. Kamu, ternyata siasat itu berhasil. Tanpa paksaan. Tanpa adanya nada sebal. Tapi, untuk ini aku tidak sedang memanfaatkanmu dan tidak pula me-me-lainya. Lebih dari itu. Kamu menginspirasiku. Bahagia.

Kamu, tapi tidak tadi pagi, aku bangun kesiangan. Entah? Mungkin? Ya mungkin ini waktunya pesan itu benar-benar aku tulis tapi tak kukirim, kusimpan saja. Aku malu. Tapi, aku tetap menulis pesan itu tadi pagi.

Kamu, anggap saja pesanku tak pernah terkirim dan kamu terima kemudian kamu baca atau hanya kamu abaikan saja. Anggap saja begitu. Karena, sebenarnya aku malu. Malu sekali. Aku juga anggap begitu. Pesan itu hanya kutulis dan kusimpan tapi tak kukirim.

Kamu, terimakasih telah menjadi cara untuk aku bangun pagi beberapa pagi ini dan untuk beberapa pagi kedepan. Terimakasih. Tentang pesan itu, yang isinya selalu sama, yang waktu kirimnya juga hampir sama, masih akan kutulis besok tapi mungkin tak kukirim, kusimpan saja. Jadi, pagi-pagimu akan biasa saja seperti biasanya, seperti sebelum pesan itu aku kirim setiap pagi selama beberapa pagi ini. Terimakasih.

Kamu, bila besok kamu bertanya atau sekedar bergumam. “Kok, pagi ini ngga ada pesan dari dia ya?” Nah, ini jawabannya. Terimakasih ya.

Curhat buat Ibu (9)

Ibu, aku bahagia sudah bisa mengungkapkannya. Walaupun aku tak meminta langsung balasannya.
Ibu, pagi memang waktu yang sempurna untuk merindukannya. Lain dengan malam. Malam begitu menyiksa ketika rindu itu tiba. Bahkan aku masih terjaga hingga pagi buta.
Ibu, aku mulai terbiasa tanpa pelangi. Karena saat ini mendung pun tak terlihat apalagi awan pekat, gerimis juga masih terikat. Saat ini, begitu indah, begitu cerah.
Ibu, Sebenarnya aku urung untuk menulis ini, untuk menceritakan padamu. Urung sekali. Aku bahkan tidak tahu mengapa. Tentang tulisan ini sudah terabaikan, mengendap beberapa hari, mungkin sudah memasuki hitungan minggu. Dan aku mendadak baik pada hal yang begitu kubenci dan kudendam.
Ibu, mungkin kata “entah” masih berada di posisi teratas yang aku sukai saat ini. Kata ini memang cerdas dan juga pas untuk segala tanya dan jawaban.
“entah?”
“entah”
Ibu, aku lebih sering bangun pagi sampai seminggu ini. Entah? Aku juga tak tahu. Ibu juga tahu, kemarin-kemarin aku lebih sering terlihat masih memaksa untuk terus tertidur. Tertidur dan terus tertidur. Entah!
Ibu, marahi aku untuk urusan sarapan pagi saja, tak usah menengok kamarku lagi saat pagi, tenang Bu, aku sudah bangun, juga sudah berdo'a juga sudah bersapa “pagi?” sekali lagi, aku tak meminta langsung balasannya.
Ibu, begitupun hari ini, pagi ini. Aku biasa saja tetapi selalu istimewa. Aku entah apa? entah bagaimana? Aku terbangun dengan sendirinya. Keajaiban. Mungkin malamnya aku sudah melepaskan, sudah menceritakan, sudah menumpaskan kecemasan, kegelisahan, ke-ke-lainnya. Aku bisa setenang, selega ini sampai aku bisa tertidur. Tertidur. Tertidur. Tertidur. Tidur. Meskipun sampai pukul dua, tiga, bahkan pula hingga lima. Karena tertidur bisa untuk menidurkan bahkan meniduri rindu ini sendiri.
Ibu, mungkin besok aku lebih sering tidak tahu, kalau aku telah dengan sadar menceritakan ini, dan ketika kau bertanya. “cinta?”  “entah, Bu”
Ibu, selamat pagi?

Saturday, August 29, 2015

Kamu; Hingga

Kamu, hingga aku telah berhenti nanti. Kamu masih ada, kamu masih disana, jauh. Kamu, semakin jauh. Kamu, aku sudah sedekat ini dan senekat ini. Kamu...

Kamu, hingga aku menulis ini dan hingga kamu (mungkin/tidak) membacanya. Kamu hanya diam. Kamu hanya terdiam.Kamu tak memintaku untuk berlari atau terbang atau bahkan kamu tak memintaku untuk tersandung atau jatuh terperosok. Kamu hanya diam, terdiam. Kamu...

Kamu, hingga kemudian aku telah memaki diriku sendiri, hingga aku benar-benar telah merasa bodoh, hingga aku juga hanya diam. Kamu...

Kamu, hingga kamu, hingga aku masih saja lugu sedikit dungu. Kamu, apa aku segitunya? Kamu, apa kamu juga segitunya? Kamu...

Kamu, hingga hanya hingga, sehingga tetap hingga. Kamu hingga kapan...? Kamu hingga apa.....? Kamu...

Kamu...

Kamu...

Kamu...


Saturday, August 15, 2015

Curhat buat Ibu (8)

Ibu, malam ini sebelum tidur, aku ingin bercerita.

Ibu, sepertinya aku sampai dimana aku sudah mulai gila. Cinta?

Ibu, dihadapanku saat ini, bola matanya selalu menatap dekat menjadikan aku selalu ingat. Cinta?

Ibu, rindu membawa aku membaca sesuatu yang begitu parah. Beroponi dengan sesuka hati. Cinta?

Ibu, sedari kemarin sampai saat ini, pernyataan yang menyisipkan pertanyaan masih menunggu pernyataan darinya dengan berharap dia juga menyisipkan jawabannya. Cinta?

Ibu, ketika malam, sesaat setelah berdo'a, aku mulai menutup mata. Berdialog sendiri dengan lirih mengungkapkan perasaan ini, bahkan sampai aku tertidur hingga pagi. Cinta?

Ibu, terkadang mungkin dia juga begini? Cinta?

Ibu, terakhir, semoga Sang Maha Cinta mengamini aku dengannya. Dan menbiarkan dia menjadi surga untuk anak-anak kami kelak. Cinta?

Ibu, selamat tidur.

Wednesday, August 12, 2015

Fiyuh

Hai? Kembali lagi aku kalah. Aku lelah. Sudah dua kali, merasa seperti ini. Aku mati. Aku masih bernafas tapi tak begitu lepas. Aku menangis bersamaan dengan itu aku meringis, tragis.

Hai? Aku gagal juga kehabisan akal karena ketidak ketersediaan banyak bekal, terpingkal-pingkal. Aku juga terjebak karena keadaan yang mendesak membuatku menjadi sesak.

Tuesday, August 11, 2015

Tips cara mendekati gebetan jika kamu seorang pemalu

1. Pastikan kalian berteman dalam jejaring sosial atau setidaknya punya nomer hp masing - masing.

2. Jika kamu pemalu dan pemalas, pastikan Dewi fortuna ada dipihakmu. Berharap si Dia nge-chat duluan. Kalau ngga ya, lupakan. Dasar pecundang!

3. Ketika si Dia sudah nge-chat duluan dan hanya ungkapan 'hai?' Atau sebuah emoticon. Pastikan kamu balas dengan hal yang sama.

4. Mulai chat dengan obrolan ringan, seperti 'apa kabar?' 'Sibuk apa?' Gitu saja.

5. Ketika si Dia sudah balas chat kamu dengan 'ohh' 'ehmm' pastikan kamu punya rencana cadangan atau segudang kosa-kota untuk melanjutkannya. Dan satu hal; jangan pernah balas 'ohh' 'ehmm' juga. Itu bahaya. Itu berarti kamu juga ingin mengakhiri chat juga.

6. Pastikan chat kamu dimalam hari atau sorelah. Karena apa?  Biar bisa dilanjutkan besoknya lagi. Seperti, kamu sudah kehabisan akal lagi untuk jawaban si Dia yang hanya 'Oh' saja. Kamu bisa jawab chatnya dengan ucapan selamat tidur dalam bahasa asing. Itu pasti lebih keren. Dan di akhir chat bisa kamu selipkan kata 'makasih, jangan lupa bahagia' pasti deh si Dia langsung tidur.

7. Jika keesokan harinya kamu masih malu dan chat duluan. Pastikan tips no 2 berjalan. Kalau tidak?  Sudahlah lupakan. Dasar pecundang!

8. "Selamat pagi, Gimana sudah mendingan atau masih jomblo?" Pakai kalimat itu diawal kamu chat. Karena apa? Kamu dapat 2 poin. Yang pertama;  kamu bisa chat duluan dan ngga terkesan biasa saja (keren). Yang kedua; kamu bisa tahu atau mastiin kalau si dia masih pacaran, jomblo atau lagi ngambang. Gimana?

9. Seandainya dia bales 'hahaha' atau 'emoticon' dan hanya itu. Bisa diprediksi dia masih jomblo. Horeee.

10. Seandainya dia bales 'heh apaan emangnya kamu' dengan tambahan emoticon 'melet' pastikan kamu sudah sedia tisu basah, seandainya kamu ingin nangis. Tapi tenang. Selama balesnya masih ada nada ejekan berarti si dia masih pengen chat sama kamu. Masih ada jalan lain kok.

11. Chat sama dia dengan banyolan2 yang keren jangan yang garing2 (baca buku, lihat google)

12. Sebaiknya hindari dulu pertanyaan2 yang terlalu serius. Karena apa? Si dia pasti tidak suka! Dan saat itu juga chat kalian akan terputus. PASTI!! Santai saja jangan terburu2. Buat soalah2 pertanyaan2 yang serius itu jadi tersirat tanpa harus dengan jelas menanyakannya. Tetap dengan banyolan2 yang keren pastinya. Caranya? Kembali ke no 11

13. Kalau sudah ada hitungan minggu kamu bisa teratur chat dengan dia berarti kamu 'Berhasil' horee.

14. Kamu sudah bisa tidak canggung lagi memulai chat baru dengan dia. Berkat kamu sering2 baca buku dan lihat google. Gimana keren kan?

15. Selesai. (lanjutin sendiri)

Sebenarnya seorang pemalu bisa juga terbuka bisa juga buat tertawa dan bisa buat bahagia. Tapi biasanya seorang pemalu sering terjebak dengan situasi yang entah apa, yang hanya semakin membuat semuanya jadi berantakan. Maka dari itu dekati jangan jauhi. Dekati seorang pemalu seolah-olah tak ada apa2 natural. Karena seorang pemalu bisa sangat tahu, peka pada sekelilingnya. Dekati dan rasakan bahagia dengan sebenar-benarnya. Karena apa? Jika sudah seorang pemalu terbuka maka siapapun akan bahagia juga.

Monday, August 10, 2015

Kamu; Seharusnya

Seharusnya aku nyatakan ini sejak lama. Sejak beberapa tahun yang lalu, satu tahun yang lalu, satu bulan yang lalu, satu minggu yang lalu bahkan seharusnya kemarin sore, tadi malam, tadi pagi pun ingin aku nyatakan. Tapi mau dikata apa? Aku belum bisa nyatakan secara langsung. Entah? Akupun tak tahu mengapa. Aku mendadak tak tahu harus berbuat apa, berbicara apa saat berhadapan denganmu. Bahkan sampai sekarang bicara sama kamu sampai 5 menit pun kita belum pernah bukan?. Tapi berkali-kali sebenarnya aku sudah nyatakan ini lewat tatapan mata. Iya mata. Mata tak pernah berbohong. Bola matamu menatap seribu kali lebih indah. Entah kamu menyadarinya, menerimanya atau tidak. Aku tak pedulikan itu, karena dikatakan atau tidak itu tetap Cinta bukan?

Thursday, June 25, 2015

Yeah !!

Hai? Kembali lagi kita dengan hal yang masih sama di tempat yang berbeda. Kali ini aku benar-benar mengancammu untuk mengalah, setidaknya biarkan aku yang harus menang.

Hai?

Wednesday, June 17, 2015

Curhat buat Ibu ( 7 )

Malam ini aku hanya berandai-andai menyimpulkan banyak hal. Tentang keresahanku selama ini. Tentang berbagai kejadian yang terasa ganjil(?). Tentang ketidak-nyamanan ini. Banyak.

Bagiku, ini teramat begitu sering ku lupakan dan ku ingat lagi. Mematahkannya lalu menyambung kemudian mematahkannya lagi untuk kesekian kali. Begitu terus.

Tapi tidak malam ini. Aku tidak ingin tidur. Aku ingin terjaga sampai pagi. Aku harus menang. Aku harus senang.

Wednesday, June 3, 2015

Teman Senja

Kali ini, senja mengingatkan aku pada kalian, pada tingkah kalian, pada celotehan kalian, semuanya nampak polos dan ikhlas.

Ketika kita duduk menikmati obrolan ringan  dengan guyonan-guyonan khas kalian. Tanpa sadar kalian selipkan mimpi dan harapan kalian.

Saat deburan ombak menghempas tali pancing kita, senja pun di sana. Saat petikan gitar memanjakan suasana, senja pun di sana. Saat kita hanya sekedar duduk dan bererita tentang cinta, konflik, mimpi, harapan, persahabatan dan sepenggal pemikiran kita tentang kehidupan, senja pun hadir untuk kita.

Aku tak peduli extrovert atau introvert, lebay atau pendiam bagaimanpun kalian tetap temanku. Aku ingin kalian bahagia menjadi diri kalian sendiri dan jika kalian ingin brtemu denganku, lihatlah senja aku ada disana di ujung senja itu sedang menatap kalian dan tersenyum untuk kalian.





***
Tulisan dari teman senjaku (Tio H. St)
 

Monday, May 18, 2015

Kamu Sibuk

Masih bersama kamu
Terlelap menunggumu pulang
Terbangun seketika pergi

Masih bersama kamu
Melihat senyummu hanya dalam foto
Berbicara tanpa tatap muka

Masih bersama kamu
Satu meja dengan satu bangku kosong
Menghabiskan dua cangkir teh sendirian

Masih bersama kamu
Sibuk menjadi orang lain

Friday, April 24, 2015

Demi Puisi Aku Bertasbih

Demi puisi aku bertasbih
Menahan lupa dalam hening
Setidaknya tanganku turut mengadah
Pinta sedikit aksara; memohon

Demi puisi aku bertasbih
Panjatkan gelisah dalam pikiran
Hujatan mereka menjatuhkan
Tuhan buka otakku; memohon

Demi puisi aku bertasbih
Membunuh malu ketika senja
Alasanku bersujud merendah diri
Terimalah doa air mata; memohon

Demi puisi aku bertasbih
Menyelaraskan mulut, hati dan pikiran

Wednesday, April 22, 2015

Kamu; Titik Mustahil

Kamu adalah titik kegatelan dipunggungku yang tak dapat ku gapai dengan mudah bahkan mustahil rasanya. Tapi tidak sulit bagi orang lain untuk mencapainya.

Kamu titik itu. Titik yang selalu aku cari susah payah. Tapi begitu mudahnya orang lain mendapatkanmu.

Mungkin hanya dengan bantuan alat, aku bisa sampai titik itu. Seperti halnya Nobita bisa mendapatkan kekasih impiannya Sishuka dengan bantuan alat Doraemon. Hiks!

Tuesday, April 21, 2015

Curhat buat ibu (6)

Ibu, sepertinya malam ini aku patah lagi. Iya, patah bukan terbelah.
Entah? Aku pun masih bernafas sampai saat ini. Aku merasa hatiku setengahnya tidak sampai ke tujuannya. Hatiku menggantung dilangit - langit gelap. Hatiku patah! Bukan terbelah!
Ibu, aku lanjutkan ini esok saja. Malam ini sudah terlalu murung untuk meneruskannya.

Monday, April 20, 2015

Parade Senja


Kala langit menyembuhkan luka karena pengharapan harapan yang pupus.

Langit tersenyum, melipat egonya rapat- rapat.

Rasa lelah atas segala kemunafikan seharian, sedikit terbayar.

Sesekali meredam amarah untuk memberi hormat pada langit.

Tetapi kehidupan tak hanya sekedar mengamati langit. Lebih dari itu.

Dan senja hanya sebatas senja meskipun indah tak seorangpun bisa memiliki, lalu membawanya pulang.

Tetapi semesta menginjinkan kita untuk setiap hari menikmatinya. Sendirian maupun bersama. Gembira maupun luka.

Sunday, April 19, 2015

Kamu; Dialog malam hari 2

"Apa kabar gerimis, masih berharap pelangi menemuimu malam ini?"

Sudahlah, jangan merusak siklus semesta ini Gerimis! Dengan memaksa Pelangi ada disini, malam ini.

Mungkin kamu (gerimis) harus menjadi apa yang semesta mau, merelakan rasa rindumu terpangkas lepas, menggantung diantara langit.

Ketika kamu (gerimis) sudah lelah dengan sistem semesta yang semakin merumit ini. Dengarkan ini sebuah lagu "senandung ini untuk gerimis" untukmu.

Tapi kenapa kamu hilang seketika malam ini, mereda dengan sendirinya. Belum sampai senandung ini selesai. Tapi sudahlah, aku....

***

Malam ini kamu hanya terdiam, hanya menempati nada-nada fals dalam lagumu. Kamu pun tak begitu banyak perubahan mimik muka malam ini. Kamu pun tak meneteskan air mata malam ini. Kamu hanya jauh, hanya pergi saja, hanya aku disini, hanya malam ini yang terus ada.

Saturday, April 18, 2015

Bukan Cerita Biasa

Bapak hanya butuh teman cerita. Terus aku mendengarnya lalu menulis kalimat ini.

Selanjutnya aku yang harus meneruskan cerita bapak. Lalu Bapak yang mendengarkannya kemudian menyuruhku menulis kalimat ini.

Friday, April 17, 2015

Mati Muda

Aku juga pernah mati hari ini, mati seketika pagi menghampiri. Pagi menyeramkan, seperti sosok yang begitu jahat. Aku bersembunyi dibalik selimut dan aku mati seketika itu juga, tepatnya mati suri. Aku hidup disiang harinya. Begitu, selalu begitu setiap hari. Aku mati!

Perjalanan patah hati

Tuhan aku lelah
Jalani hidup tanpa arah
Tuhan aku bosan
Jalani hidup tanpa kepastian

Perjalanan yang susah
Hanya sesekali singgah
Aku melemah
Aku berserah

Perjalanan tak mudah
Hanya sesekali indah
Aku mengalah
Aku menyerah

Keren kan?

“Kamu akan lebih keren ketika alas kakimu yang berbentuk sepatu terdapat logo atau inisial seperti tanda ‘centang’ atau inisial huruf ‘N’. Itu sudah lebih keren daripada kamu hanya memakai sepasang sandal buntut cinderamata dari tempat beribadatan.”

Kalimat diatas sebagian dari kutipan kata-kata keren dalam seminar saya.

Bagaimana tidak?

Dikamar saya sudah seperti outlet barang-barang gaul dan hits layaknya distro semuanya saya punya dari atas sampai bawah, dari luar sampai dalam dan saya juga ubah konsep kamar saya yang biasa saja jadi bisa dikatakann ‘distro mini’ lah. Keran kan? Ya begitulah.

Itu keren menurut saya*.




















*shit!! Bohong saya. Itu cuma imajinasi saya saja kalau jadi kaya uang ada. Keren masa kini dengan uang. Kalau saya pribadi, keren itu jadi dirimu sendiri! Pakai kaos buatanmu sendiri, pakai alas kaki yang nyaman, pakai celana yang ngga kekecilan. Dan tempatkan sesuatu pada tempatnya. Lebih keren lagi bisa buat tulisan ini😉


Wednesday, April 8, 2015

Moonbow

Hujan kembali membasahi ribuan mimpi-mimpi
                                     
Berjuta pasang kelopak mata tak menyadari

Sebagian berdiam diri menanti akan datangnya pelangi dini hari

Friday, April 3, 2015

Curhat buat Ibu (5)

Ibu, sore tadi gerimis datang membawa jawaban atas tanyaku waktu lalu. Aku terdiam sejenak ketika gerimis mulai merembes, mulai meresap ke dalam tubuh. Aku sudah tahu Bu jawabannya seketika itu juga.

Monday, March 23, 2015

Curhat Buat Ibu (4)

Ibu, terimakasih
Aku membenci apapun dirumah ini
Ya, hampir semuanya

Ibu, terimakasih
Aku pendemdam yang baik
Ya, hampir tak terlihat

Ibu, terimakasih

Ibu, seharusnya aku tuliskan ini sejak dulu, sejak ketidak nyamanan ini mulai terasa, mulai berkembang biak pesat dalam diri ini.

Ibu, SUMPAH AKU MUAK!!

Ibu, bagaimana dan dengan apa aku harus memulai menceritakan ini? Bagaimana?

Ibu, ini bukan bualan belaka, ini lebih dari nyata. Aku memang benci rumah ini. Aku memang pendendam yang baik, yang baik menyimpannya dengan rapi, hingga tak tak tercium bau amarah pendendam diri ini.

Ibu, rumah ini sudah kecil jangan dibuat terkucil. Mengucilkan hati pendendam ini. Mengucilkan niat untuk berubah. Mengucilkan semua niat baik.



Wednesday, March 18, 2015

Senandung ini untuk gerimis

Senandung ini untuk gerimis

Awan hitam menggantung
Terjemahkan sesuatu jenuh
Tanah menebarkan pertanda
Aura kedamaian menghampiri

Terlalu lama terjadilah hujan
Kilatan serta petir menggema
Coba pahami jejak basahnya
Menempati dera dalam suka

Pelangi itu terlalu indah
Tak ada kegelapan dalam warnamu
Alasan setia pada gerimis terhenti
Pelangi menyeka air mata

Senandung ini untuk gerimis

Friday, March 13, 2015

Rondokan selalu begitu

Sebut saja “rondokan”, reruntuhan sisa-sisa gorengan yang tersia-sia. Sesuatu yang tak pernah diharapkan saat menggoreng gorengan. Dimanapun. Seperti hal nya rumput sebagai hama padi. Rondokan pun begitu. Saat menggoreng gorengan pasti akan ada rondokan. Tapi tak sebaliknya. Saat menggoreng rondokan pasti tak akan ada gorengan. Ya, selalu begitu.

Jadilah gorengan yang bermatabat, berkharisma, bermanfaat juga berkualitas. Karena sebaik apapun gorengan, pasti ada rondokan di sekitarnya.

Sunday, March 8, 2015

Kamu; Aku suka kamu

Namamu sebenarnya biasa saja, biasa seperti kebanyakan nama pada umumnya, ada unsur jawa, indonesia dan arabnya. Biasa saja bukan? Tidak ada yang aneh dari namanya kan? Sederhana. Tapi aku suka kamu.

Aku suka kamu. Suka menyukai apa saja yang baik tentangmu, yang jelek? Ngga tau yang jelek hampir tidak ada, mungkin tertutupi kebaikanmu, mungkin. Tapi aku ngga peduli, peduli apa aku tentang kejelakanmu. Aku suka kamu.

Aku suka kamu. Ya suka saja, suka ya suka saja, ngga ada alasannya. Tapi saat ditanya langsung olehmu, aku berbohong, aku bilang kalau aku suka kamu karena baik, cantik, manis, asyik bahkan sampai kalimat ini ‘kamu seperti bidadari’ bohong kan? Padahal itu presepsi pada pandangan pertama saja dan satu lagi aku belum pernah melihat bidadari secara lansung. Tapi aku suka kamu.

Aku suka kamu, ya karena itu kamu bukan yang lain. Karena didunia katanya ada beberapa orang yang sama dengan kamu. Aku ngga peduli, yang aku pedulikan aku suka kamu. Aku suka kamu.

Aku suka kamu dari dulu, dari sebelum kita dilahirkan. Aku suka kamu memang sudah digariskan, sudah dari sananya begitu. Aku suka kamu.

Aku suka kamu. Tapi eh, kamunya suka dia. Aku mau apa kalau kamu bilang sama dia sepertiku bilang suka sama kamu? Tapi aku suka kamu.

Aku suka kamu.

Saturday, March 7, 2015

Kamu; Gerimis pagi ini untukmu

Hai kamu, masih ingat gerimis pagi yang lalu? Iya, gerimis yang romantis karena pagi itu masih dingin dan kita tanpa sengaja saling bergandengan tangan. Indah ya? Gerimis pagi yang itu buat aku ya? Buat aku kenang.

Hai kamu, pagi ini juga gerimis. Masih pagi yang dingin, tapi tak seromantis pagi waktu itu, kita tak saling bergandeng tangan saat ini. Masih indahkah? Gerimis pagi ini buat kamu ya? Biar kamu ingat, setidaknya kamu tidak lupa akan gerimis romantis pagi itu. Kamu pelupa sih, bahkan hampir amnesia ketika semuanya yang berhubungan tentangku. Apa karena ada momen gerimis yang lebih romantis dari pagi itu, Jadi kamu melupa atas segala hal tentangku, tentang semuanya?

Aku menyeringai. Terkadang kamu menawan mempesona membuatku terkesima. Terkadang sih, tapi banyak bohongnya.

Kamu; Pagi ini untukmu saja

Untuk kamu saja pagi ini. Pagiku lupakan saja. Aku hampir setiap hari tak menemuinya. Aku selalu lupa kalau pagi selalu menyuruhku untuk bangun dari selimut lelapku. Ya ngga tau. Aku sedang malas saja bersapa dengannya, kemudian berdialog layaknya aku dan pantulan dari cermin kamarku.

Jadi pagiku buat kamu saja, buat cadangan kalau pagimu tidak bersahabat denganmu atau kamu tidak menyukai pagi di hari senin, misalnya. Pagiku baik kok. Pagiku pasti senang bisa menemanimu.

Kamu; Lupa muka luguku?

Kacang lupa kulitnya, Sate ayam lupa sambal kacangannya. Rasanya absrud. Tapi kulit ayam enak kok.

Lupa daratan? Mungkin? Tapi, ah mana mungkin! Itu kamu bukan ya? sudah lupa muka lugu saya? Ah, ganjil sekali. Bagaimana mungkin? Terus kenapa kamu lupa denganku? Rasanya absrud. Tapi parasmu indah kok.

Senyum perih

Kenapa senyum itu selalu dan semakin membuat aku tenggelam? Kenapa? Padahal sudah ku tutup senyum itu dengan kelopak mataku, agar aku tak bisa melihat lagi. Tapi entah kenapa, saat aku memejamkan mata, senyum itu jadi semakin jelas, terlihat manis. Ah! Aku benci saat-saat seperti itu. Semakin lama semakin menikam perasaan ini. Sudah susah payah aku lumpuhkan perasaan itu. Tapi, senyummu selalu menyayatnya secara perlahan. Ah! Aku benci! Senyummu menyakitkanku tak menyembuhkan rindu terlarangku. Merindu yang tak pernah dirindu. Merindukan kamu sakit.

Friday, March 6, 2015

Iba? Ah, ini hanya soal pemahaman saja

Anak kecil menangis histeris. Takut menatap mata ibunya secara lansung. Hanya sesekali lirikan matanya mencuri tatapan geram ibunya. Entah atas dasar apa ibunya memarahi habis dirinya, mengumpat, mengancam, menyumpah. Atas dasar yang mana? Menerimakah anak itu? Coba saja tanya pada ibu dan anaknya. Coba saja bandingkan sebab-akibat masalahnya. Coba saja. Iba? Ah, ini hanya soal pemahaman saja.

Kejadian seperti ini sudah jadi rutinas, sudah berubah jadi kebiasaan. Tapi ya sudahlah. Mungkin ibunya anak itu memang passion di dalam hal ini. Ah, sekali lagi, ini hanya soal pemahaman saja.

Setiap ibu punya cara yang istimewa untuk memperlakukan anaknya. Ya istimewa menurut pemahamannya. Tapi mungkin anaknya berbeda pemahaman dengannya dengan cara istimewanya.

Terhina!

Terhina sendiri karena sering menghina diri sendiri. Salah sendiri, menghina diri sendiri. Terhina sendiri kan? Silahkan saja teruskan menghinanya. Terus, terus sampai benar-benar merasa terhina. Terhina. Terhina! Menghina lalu terhina sendiri!

Monday, March 2, 2015

Biarkan

Bila mungkin ini terjadi, biarkan terjadi dengan sendirinya, biarkan. Biarkan saja aku sendirian, biarkan. Biarkan, meskipun itu memang terjadi. Biarkan, bagaimana pun juga waktu ini harus berjalan, biarkan. Biarkan, sesaat lagi mungkin terlewati, biarkan. Biarkan, dan detik ini tak pernah terlupakan, biarkan. Biarkan, aku menjadi aku, biarkan. Biarkan aku menjadi buas atas impianku, biarkan. Biarkan, aku terlepas dari malasku, biarkan. Tetapi sekali lagi, biarkan aku sendiri malam ini, mengikhlaskan beberapa beban, biarkan. Biarkan, aku sembuhkan luka malam ini juga, biarkan. Biarkan, mungkin seterusnya berjalan seperti ini, biarkan.

Friday, February 20, 2015

Sederhana saja; “Selamat tidur dan biarkan pagi yang membangunkanmu”

Segelas air putih terakhir. Sebelum semuanya gelap sampai fase itu tiba. Ketika kamu sudah melelahkan diri, melumpuhkan perasaan seharian. Perasaan berkecamuk muak sebal dengan rutinitas. “Entah?” mungkin itu kosa kata yang bermakna apa saja. “kamu sudah lebih baik?” “Entah?”

Sayang, dengar ini. Memastikamu baik-baik saja akan menambah kekhawatiranku malam ini. Merusak logika yang berjalan selama ini. Menolak kewarasaanku belakangan ini. Sayang, aku ingin menjadi pendengar yang baik. Dan menjadi pelukan erat ketika kau merinduku, itu saja.

Tapi untuk malam ini biarlah semesta menemanimu dengan sedikit gerimis. Sederhana saja dariku “Selamat tidur dan biarkan pagi yang membangunkanmu”

Wednesday, February 18, 2015

Momentum Delapan Belas Februari

Ini senandung terimakasihku pada
kalian. Dedikasi terbesarku saat ini.
Semua do’a yang kailan panjatkan
untukku akan berbalik menimpa
kalian. Terlalu istimewa pelampiasan
kalian untuk memperingati
momentum kelahiranku.

Aku berkaca “akankahh ada lagi
pelampiasan untukku di masa yang
akan datang?”

Tepat delapan belas februari dua ribu lima belas tahun ini. Usia saya setara dua dekade atau dua setengah windu.

Nama saya Agung Pamukti dan saya bangga jadi bagian hidup kalian.

Tuesday, February 10, 2015

Kamu; Masih dalam pelukan yang salah

Dari jauh tak terlihat
Aku sembunyikan sesuatu
Tetapi pelangi menanyakannya
Gerimis mungkin tahu

Kamu
Masih dalam pelukan yang salah
Aku
Mati dalam perasaan yang patah

Diam rindu sendirian
Melempar jauh sepi
Tetapi pelangi menanyakannya
Gerimis mungkin tahu

Monday, February 9, 2015

Teman Semeja

Malam sendiri menunggu
Aku temukan dia disana
Bola matanya indah
Mencari tempat yang kosong

Disini disampingku
Dia bersapa menyapaku
Terdiam terpesona
Duduk semeja bersama

Teman cerita malam
Menghabiskan sisa malam
Semalam ini sederhana
Duduk semeja bersama

Sunday, January 25, 2015

Kamu; Arrghh

Kamu, aku muak dengan muka kamu!
Ingin aku amuk muka muak kaum kamu!

Kamu, Arrghh

Friday, January 23, 2015

Curhat buat Ibu (3)

Ibu, sampaikan ini pada gerimis ketika dia bercinta lagi dengan pelangi. Katakan saja aku ... Aku....

Ibu, pelangi itu mimpi bagiku. Mimpi yang patah karena gerimis mengambil posisi terindah itu.

Ibu, aku tersingkir dari mimpiku sendiri. Terbuang. Secara mengejutkan gerimis merusak-masuk tatanan rapi mimpi ini.

Ibu tahu? sejak senja itu, ketika pelangi menyapaku saat aku menangis bersama hujan. Sejak itu juga aku bermimpi. Memimpikan indah dengannya.

Ibu, senja kali ini berbeda. Aku kembali menangis bersama hujan, kembali mengingat, kembali berharap itu akan terulang kembali.

Ibu, aku tak menemukan lagi dia menyapaku sehabis hujan. Aku malah sering bertemu dan bertengkar dengan gerimis. Meributkan, menyalahkan seolah-olah aku yang tertuduh bersalah.

Ibu, dimana pelangi? Hilang kah? Sengaja sembunyi kah? Marah kah? Benci kah?

Ibu, aku mati! Terbunuh pengaharapanku sendiri. Cinta atau amarah. Ah, sialan!

Thursday, January 22, 2015

Kamu; Dialog Malam Hari

Seribujuta kemalasan malamkolia setengah gila gerimis yang berencana menjemput pelangi secara paksa.

Pelangi? Entahlah. Bersedia tidak dia kencan buta saat hujan reda. Mungkin?

Menghitung hujan, berharap pada hitungan ke-sekian ratusribujuta akan berhenti. Alasan pelangi malam ini tetap istimewa untuk gerimis.

Gerimis? Apa kabarnya? Tetap dengan senandungnya merayu Pelangi untuk ada pada malamkolia ini.

Hanya dibalik jendela dengan kaca yang merembes basah, menatap nanar. “Simpan saja aku untuk esok hari Gerimis.”

***

Kamu, ketika hujan keridakwarasanku berimajinasi. “Mungkinkah kita bisa menatap kencan butanya Gerimis dan Pelangi dibalik kaca jendela yang sama bersama, iya bersama?”