Monday, May 23, 2016

Malam perpulangan

Bagiku pulang adalah kembali tersesat bersama buku-buku. Tersesat. Dari halaman ke halaman, judul ke judul. Serupa menyusuri beranda hingga halaman belakang rumahku. Pulang juga, bebas memaikan lagu melankolis sejak malam hari sampai pagi. Serupa berbicara sepuasnya kepada apa saja dalam rumah kita, rumahku. Pulang. Pulang.

Sesederhana kamu mengambil pensil warna, mengarang beberapa mimpimu, mendaur ulang alasan-alasan membaurnya hingga seragam dan sedikit teratur. Menulisnya lalu dibaca. Membaca apa yang tertulis. Hingga. Merilisnya supaya bisa terbaca. Apa saja tentang berbagai hal. Tentang tetangga. Tentang rumahku.

Malam ini, malam perpulangan. Mungkin beberapa rasa, perasaan akan kembali. Seperti rasa malas. Rasa sayang yang tak sempat terbalas. Rasa benci juga dendam. Rasa sesak berhari-hari yang diam terpendam. Juga lainya. Mereka juga pulang. Pulang. Pulang.

Pulang. Pulang. Lalu pulang. Lalu hilang. Lalu petang. Lalu malam. Lalu pulang. Terulang. Mengulang. Terulang. Lalu pulang. Pulang. Pulang. Setelah jauh berpetualang. Pulang. Pulang.

Aku pulang senang bukan kepalang. Rumah, ramah beserta banyaknya kata terserah. Pulang. Pulang.

Thursday, May 12, 2016

Kamu; Aku adalah pengecualian


Kamu. Aku adalah pengecualian. Rasa hambar yang terakumulasi oleh seyummu yang lebar, bola mata yang tetap teduh kupandangi, juga mimik lupamu yang sering menggantung nanggung.

Kamu. Aku adalah pengecualian. Terabaikan olehmu sekarang mejadi hela nafas panjang. Malam-malam panjang. Perasaan yang sangat melelahkan. Betapa tidak? Aku selalu, terlalu terbawa perasaan. Mengartikanya secara berlebihan. Berharap kamu memang menghindar adalah upaya yang menjadikanmu tetap terlihat wajar. Karena kamu memang sengaja menghindar. Aku tersadar juga terhindar. Kamu memberi jarak tersendiri. Aku mengamini, tanpa pernah kita berdiskusi sebelumnya tentang ini. Tentang ini.

Kamu. Aku adalah pengecualian. Minggu-minggu terburuk, membuat rindu ini semakin membusuk. Tak lagi dapat dikenali. Imajinasi? Halusinasi? Mimpi? Atau semacam khayalan tingkat tinggi?

Kamu. Aku masih saja terkesima oleh cara kerja perasaan ini. Masih saja. Besok atau lusa yang mereka janjikan tak kunjung datang: Hari besok kan lebih baik. Hari besok kan lebih bahagia. Aku menerima. Menerima. Membiarkan apa saja masuk dan kupaksa membaik. Lekas sembuh, sembuh, sembuh dan membaik.

Kamu. Aku bisa saja terlihat biasa saja namun belum terbiasa. Maafkan, pesan kamu masih juga tersimpan. Semua. Kuhapus? Tidak. Aku harus memaksa hati menerima bukan melupakan. Meski sulit. Meski pahit. Meski sakit.

Kamu. Aku. Malam-malam yang panjang. Bersamaan dengan bintang jatuh; harus berapa banyak lagi permohonan atasmu perihal sembuh?

Kamu. Aku kambuh!