Bagiku pulang adalah kembali tersesat bersama buku-buku. Tersesat. Dari halaman ke halaman, judul ke judul. Serupa menyusuri beranda hingga halaman belakang rumahku. Pulang juga, bebas memaikan lagu melankolis sejak malam hari sampai pagi. Serupa berbicara sepuasnya kepada apa saja dalam rumah kita, rumahku. Pulang. Pulang.
Sesederhana kamu mengambil pensil warna, mengarang beberapa mimpimu, mendaur ulang alasan-alasan membaurnya hingga seragam dan sedikit teratur. Menulisnya lalu dibaca. Membaca apa yang tertulis. Hingga. Merilisnya supaya bisa terbaca. Apa saja tentang berbagai hal. Tentang tetangga. Tentang rumahku.
Malam ini, malam perpulangan. Mungkin beberapa rasa, perasaan akan kembali. Seperti rasa malas. Rasa sayang yang tak sempat terbalas. Rasa benci juga dendam. Rasa sesak berhari-hari yang diam terpendam. Juga lainya. Mereka juga pulang. Pulang. Pulang.
Pulang. Pulang. Lalu pulang. Lalu hilang. Lalu petang. Lalu malam. Lalu pulang. Terulang. Mengulang. Terulang. Lalu pulang. Pulang. Pulang. Setelah jauh berpetualang. Pulang. Pulang.
Aku pulang senang bukan kepalang. Rumah, ramah beserta banyaknya kata terserah. Pulang. Pulang.