Beberapa kali, langit tak berharap mendung pada selembar kertas yang dilipatnya rindu menjadi rintik hujan di antara hal yang tidak teramat begitu cemas.
Memulai mengantarkan kembali senyuman terhadap mata yang manis tanpa bermaksud menaruh rasa berlebihan. Seperti berlayar menuju perlabuhan terakhir dan terindahku, misalnya.
Dari jauh mungkin kamu berharap ada sekilas waktu untuk mengungkapkan perasaan. Menumpahkannya dalam semangkuk asmara. Sehingga, apa pun yang akan kamu terima lebih dari apa yang dimaksud dengan cukup.
Tapi. ...
Sore bolehkah sekiranya aku meminta kekasih menyimpan kenangan itu saja? Tidak, dan jangan biarkan yang sedikit tersisa itu menjadi tuan rumah lalu mengusir tanpa pernah ingin lama-lama berpikir? Merubah suasana yang teduh dengan romansa hari kemarin yang tidak kunjung berakhir?
Iya. Kamu tetap seperti ini saja. Tetap menawan hati. Tetap mempesona. Tetap menyuguhkan senyuman, tanpa mengenakan kesedihan sebagai alat untuk berpelukan.
Aku jatuh cinta. Hampir setiap langkah, semenjak tidak ada lagi hari-hari seperti kemarin, sore ini dan pagi dalam kemasan matahari keemasaan tanpa kecemasan. Aku ingin sekali menghadiahkan kamu dengan sebuah payung kertas berhias anggrek dengan taburan biji bunga matahari yang mekar mewangi.
Mungkinkah?