Ini seperti sebuah malam yang murung atau pagi yang mendadak mendung. Anak sungai sebelah rumah masih tetap seperti luapan susu coklat segar dari buangan sisa lelaki pendiam penikmat teh hangat. Pepohan merunduk memberi teduh pada jenggal tanah yang lusuh. Dedaunan jatuh terbawa angin, terbang kemananpun angin ingin merengkuhnya. Para pengembara muda yang membawa sepotong hatinya masih bersenandung, bernyanyi sembari mengobati pilunya patah hati.
Diam dan kemudian meniru tindakan seseorang; memeluk pohon pisang untuk dijadikannya ungkapan atas betapa patah hatinya semalam. “apa kamu tak punya sedikit hati?” menangis. Mengusap air mata. Menangis lagi.
Cerah berawan dan hujan ringan, begitu perkiraan cuaca kota pagi ini menurut suara radio tetangga. Langit banyak awan juga sisa senyummu yang masih sesak menawan. Sesak. Tambah sesak. Tumbuh sesak. Semakin sesak.
Dan akan kulupakan senyummu setelah sesak berikutnya. Semoga saja.
Aku merasakan seperti melukai ranting, membuatnya patah lalu kubanting, andai kamu sejumawa itu. Andai. Nyatanya, kamu tetaplah kamu dengan senyuman bekas sendu. Perempuan pemilik tawa paling bahagia.
Aku menahan sesak.
Aku masih menahan sesak.
Aku kembali pada tabiat lama. Masuk kamar lalu menghukum diri. Aku senang selalu salah. Bahkan jika aku merasa benar, aku ingin disalahkan saja. Aku ingin bersedih. Aku ingin mempunyai kekuatan besar untuk dijadikan alasan mengapa aku menangis. Aku ingin mempunyai kesalahan yang fatal atas apa yang aku kira benar. Aku ingin murung lalu memilih lagu-lagu melankolis untuk aku dengar seharian suntuk. Aku ingin sore seperti pagi, atau aku seperti ini terus setiap hari.
Aku ingin membuat keputusan tunggal dan menanmbahkan satu lagi keputusan janggal. Akan kuputuskan tapi tidak secara langsung biar terasa sedikit janggal. Aku ingin berakhir sebagai banyak tanda baca. Aku ingin seluruh tahun dalam sewindu kedepan bisa masuk kategori apa saja dan bisa membawa pulang separuh lebih hati terlanjur dendam. Aku ingin memakai kesedihanku sebagai kebiasaan yang bisa ditiru banyak orang. Aku ingin menjadi pusing. Aku ingin meniru banyak orang yang memakai kesedihanku untuk ditiru.
Aku ingin lebih banyak terlihat bersedih daripada harus banyak bahagia. Aku ingin cukup meski rasa puas ini tertutup. Aku ingin mengeja namaku seperti membuat huruf pertama saat di taman kanak-kanak dulu.
Aku ingin terjatuh saat aku merasa sudah di dahan pohon terakhir. Aku ingin melihat jelas saat terjatuh bebas dari kepergian yang membuatku jauh. Aku ingin nelangsa di antara sedikit kebahagianku yang terenggut paksa.
Aku ingin bersedih.
Aku ingin sesekali berharap ruang kamar dalam setiap malamku terlihat senyum sesaat aku ingin menutup mata. Aku ingin tenggelam dengan mengubah mata menjadi sumber air. Aku ingin dekat. Aku ingin terasa dekat. Aku ingin mendekat lalu kupeluk diriku erat-erat.
Aku ingin sisi melankolisku menjadi dominan dan mayoritas. Aku ingin seisi mulut bisa menahan kata-kataku untuk mengutarakan pernyataaan beserta pertanyaan. “aku suka bersedih, kamu bahagia?”
Aku ingin hujan datang bukan turun. Aku tidak ingin hujan jatuh, biar air mataku saja yang jatuh menetes. Aku ingin dengan secara halus memperlakukan hujan. Aku ingin menyambut kedatangannya bukan menerima jatuhnya. Aku ingin hati berubah berdebar seketika mencium aroma basahnya. Aku ingin menambah kadar sukaku terhadap hujan. Aku suka hujan. Aku ingin hujan setiap jam.
Aku ingin bersedih.
Aku ingin duduk di kedai kopi pinggir jalan dan memesan coklat panas. Aku ingin menyamakan atau sekedar membandingkan bising dalam diriku dengan bising jalanan. Aku ingin mengumpat pelayan jika senang hati menambahkan banyak gula dalam gelasku. Aku ingin menjadi bangku kosong di tempat yang ramai. Aku ingin diam dan menunggu isi gelasku meminta untuk dibayar. Aku ingin menebus hal yang mereka rasa sepi dengan sejumlah menit pada setiap waktu. Aku ingin bertanya rahasia umum yang rahasia pada pelayan tadi. Aku ingin bersedih dan meminta jalan untuk ramai pada lenggang yang sebenarnya.
Aku ingin bersedih.
Aku ingin menonton sebuah pertunjukkan komedi. Aku ingin mengamati mereka yang membuat tawa. Aku ingin teliti sekali dalam menilai. Aku ingin sesekali mereka mengundang kesedihan di hadapan khalayak ramai. Aku ingin mereka bersedih dan jujur. Aku ingin penonton juga yang lain menyamakan tujuan mereka datang ke tempat ini; meredam sesak, membuat tawa. Aku ingin jujur tapi kalian terlalu bertindak dewasa.
Aku ingin bersedih.
Aku ingin membeli makanan ringan dan membuang pandangan pada penjaga toko. Aku ingin mengamati yang sedari tadi mengamatiku. Aku ingin seolah tidak membeli dan bersembunyi kemudian secara tiba-tiba membawa sekeranjang belanjaan. Aku ingin memberi kejutan. Aku ingin puas dalam membeli, seperti kata-kata yang ada dalam papan penanda.
Aku ingin bersedih.
Aku ingin mempunyai sebuah kotak kecil. Aku ingin menaruh kebahagianku di dalamnya. Aku ingin memperindah dengan sedikit senyum tipis di sela kotak yang tak rapat. Aku ingin memberi. Aku ingin berbagi kebahagianku pada seseorang. Aku ingin dia senang menerima kotakku. Aku ingin dia selama dalam menunggu membuka kotak itu. Aku ingin dia terhibur.
Tetapi, aku ingin bersedih setidaknya sekali dalam sehari. Aku ingin bersedih bersama diriku sendiri yang kupeluk. Lalu besok atau waktu yang akan datang biarkan sedih ini bersambung.