Monday, March 23, 2015

Curhat Buat Ibu (4)

Ibu, terimakasih
Aku membenci apapun dirumah ini
Ya, hampir semuanya

Ibu, terimakasih
Aku pendemdam yang baik
Ya, hampir tak terlihat

Ibu, terimakasih

Ibu, seharusnya aku tuliskan ini sejak dulu, sejak ketidak nyamanan ini mulai terasa, mulai berkembang biak pesat dalam diri ini.

Ibu, SUMPAH AKU MUAK!!

Ibu, bagaimana dan dengan apa aku harus memulai menceritakan ini? Bagaimana?

Ibu, ini bukan bualan belaka, ini lebih dari nyata. Aku memang benci rumah ini. Aku memang pendendam yang baik, yang baik menyimpannya dengan rapi, hingga tak tak tercium bau amarah pendendam diri ini.

Ibu, rumah ini sudah kecil jangan dibuat terkucil. Mengucilkan hati pendendam ini. Mengucilkan niat untuk berubah. Mengucilkan semua niat baik.



Wednesday, March 18, 2015

Senandung ini untuk gerimis

Senandung ini untuk gerimis

Awan hitam menggantung
Terjemahkan sesuatu jenuh
Tanah menebarkan pertanda
Aura kedamaian menghampiri

Terlalu lama terjadilah hujan
Kilatan serta petir menggema
Coba pahami jejak basahnya
Menempati dera dalam suka

Pelangi itu terlalu indah
Tak ada kegelapan dalam warnamu
Alasan setia pada gerimis terhenti
Pelangi menyeka air mata

Senandung ini untuk gerimis

Friday, March 13, 2015

Rondokan selalu begitu

Sebut saja “rondokan”, reruntuhan sisa-sisa gorengan yang tersia-sia. Sesuatu yang tak pernah diharapkan saat menggoreng gorengan. Dimanapun. Seperti hal nya rumput sebagai hama padi. Rondokan pun begitu. Saat menggoreng gorengan pasti akan ada rondokan. Tapi tak sebaliknya. Saat menggoreng rondokan pasti tak akan ada gorengan. Ya, selalu begitu.

Jadilah gorengan yang bermatabat, berkharisma, bermanfaat juga berkualitas. Karena sebaik apapun gorengan, pasti ada rondokan di sekitarnya.

Sunday, March 8, 2015

Kamu; Aku suka kamu

Namamu sebenarnya biasa saja, biasa seperti kebanyakan nama pada umumnya, ada unsur jawa, indonesia dan arabnya. Biasa saja bukan? Tidak ada yang aneh dari namanya kan? Sederhana. Tapi aku suka kamu.

Aku suka kamu. Suka menyukai apa saja yang baik tentangmu, yang jelek? Ngga tau yang jelek hampir tidak ada, mungkin tertutupi kebaikanmu, mungkin. Tapi aku ngga peduli, peduli apa aku tentang kejelakanmu. Aku suka kamu.

Aku suka kamu. Ya suka saja, suka ya suka saja, ngga ada alasannya. Tapi saat ditanya langsung olehmu, aku berbohong, aku bilang kalau aku suka kamu karena baik, cantik, manis, asyik bahkan sampai kalimat ini ‘kamu seperti bidadari’ bohong kan? Padahal itu presepsi pada pandangan pertama saja dan satu lagi aku belum pernah melihat bidadari secara lansung. Tapi aku suka kamu.

Aku suka kamu, ya karena itu kamu bukan yang lain. Karena didunia katanya ada beberapa orang yang sama dengan kamu. Aku ngga peduli, yang aku pedulikan aku suka kamu. Aku suka kamu.

Aku suka kamu dari dulu, dari sebelum kita dilahirkan. Aku suka kamu memang sudah digariskan, sudah dari sananya begitu. Aku suka kamu.

Aku suka kamu. Tapi eh, kamunya suka dia. Aku mau apa kalau kamu bilang sama dia sepertiku bilang suka sama kamu? Tapi aku suka kamu.

Aku suka kamu.

Saturday, March 7, 2015

Kamu; Gerimis pagi ini untukmu

Hai kamu, masih ingat gerimis pagi yang lalu? Iya, gerimis yang romantis karena pagi itu masih dingin dan kita tanpa sengaja saling bergandengan tangan. Indah ya? Gerimis pagi yang itu buat aku ya? Buat aku kenang.

Hai kamu, pagi ini juga gerimis. Masih pagi yang dingin, tapi tak seromantis pagi waktu itu, kita tak saling bergandeng tangan saat ini. Masih indahkah? Gerimis pagi ini buat kamu ya? Biar kamu ingat, setidaknya kamu tidak lupa akan gerimis romantis pagi itu. Kamu pelupa sih, bahkan hampir amnesia ketika semuanya yang berhubungan tentangku. Apa karena ada momen gerimis yang lebih romantis dari pagi itu, Jadi kamu melupa atas segala hal tentangku, tentang semuanya?

Aku menyeringai. Terkadang kamu menawan mempesona membuatku terkesima. Terkadang sih, tapi banyak bohongnya.

Kamu; Pagi ini untukmu saja

Untuk kamu saja pagi ini. Pagiku lupakan saja. Aku hampir setiap hari tak menemuinya. Aku selalu lupa kalau pagi selalu menyuruhku untuk bangun dari selimut lelapku. Ya ngga tau. Aku sedang malas saja bersapa dengannya, kemudian berdialog layaknya aku dan pantulan dari cermin kamarku.

Jadi pagiku buat kamu saja, buat cadangan kalau pagimu tidak bersahabat denganmu atau kamu tidak menyukai pagi di hari senin, misalnya. Pagiku baik kok. Pagiku pasti senang bisa menemanimu.

Kamu; Lupa muka luguku?

Kacang lupa kulitnya, Sate ayam lupa sambal kacangannya. Rasanya absrud. Tapi kulit ayam enak kok.

Lupa daratan? Mungkin? Tapi, ah mana mungkin! Itu kamu bukan ya? sudah lupa muka lugu saya? Ah, ganjil sekali. Bagaimana mungkin? Terus kenapa kamu lupa denganku? Rasanya absrud. Tapi parasmu indah kok.

Senyum perih

Kenapa senyum itu selalu dan semakin membuat aku tenggelam? Kenapa? Padahal sudah ku tutup senyum itu dengan kelopak mataku, agar aku tak bisa melihat lagi. Tapi entah kenapa, saat aku memejamkan mata, senyum itu jadi semakin jelas, terlihat manis. Ah! Aku benci saat-saat seperti itu. Semakin lama semakin menikam perasaan ini. Sudah susah payah aku lumpuhkan perasaan itu. Tapi, senyummu selalu menyayatnya secara perlahan. Ah! Aku benci! Senyummu menyakitkanku tak menyembuhkan rindu terlarangku. Merindu yang tak pernah dirindu. Merindukan kamu sakit.

Friday, March 6, 2015

Iba? Ah, ini hanya soal pemahaman saja

Anak kecil menangis histeris. Takut menatap mata ibunya secara lansung. Hanya sesekali lirikan matanya mencuri tatapan geram ibunya. Entah atas dasar apa ibunya memarahi habis dirinya, mengumpat, mengancam, menyumpah. Atas dasar yang mana? Menerimakah anak itu? Coba saja tanya pada ibu dan anaknya. Coba saja bandingkan sebab-akibat masalahnya. Coba saja. Iba? Ah, ini hanya soal pemahaman saja.

Kejadian seperti ini sudah jadi rutinas, sudah berubah jadi kebiasaan. Tapi ya sudahlah. Mungkin ibunya anak itu memang passion di dalam hal ini. Ah, sekali lagi, ini hanya soal pemahaman saja.

Setiap ibu punya cara yang istimewa untuk memperlakukan anaknya. Ya istimewa menurut pemahamannya. Tapi mungkin anaknya berbeda pemahaman dengannya dengan cara istimewanya.

Terhina!

Terhina sendiri karena sering menghina diri sendiri. Salah sendiri, menghina diri sendiri. Terhina sendiri kan? Silahkan saja teruskan menghinanya. Terus, terus sampai benar-benar merasa terhina. Terhina. Terhina! Menghina lalu terhina sendiri!

Monday, March 2, 2015

Biarkan

Bila mungkin ini terjadi, biarkan terjadi dengan sendirinya, biarkan. Biarkan saja aku sendirian, biarkan. Biarkan, meskipun itu memang terjadi. Biarkan, bagaimana pun juga waktu ini harus berjalan, biarkan. Biarkan, sesaat lagi mungkin terlewati, biarkan. Biarkan, dan detik ini tak pernah terlupakan, biarkan. Biarkan, aku menjadi aku, biarkan. Biarkan aku menjadi buas atas impianku, biarkan. Biarkan, aku terlepas dari malasku, biarkan. Tetapi sekali lagi, biarkan aku sendiri malam ini, mengikhlaskan beberapa beban, biarkan. Biarkan, aku sembuhkan luka malam ini juga, biarkan. Biarkan, mungkin seterusnya berjalan seperti ini, biarkan.