Kamu, aku muak dengan muka kamu!
Ingin aku amuk muka muak kaum kamu!
Kamu, Arrghh
Ibu, sampaikan ini pada gerimis ketika dia bercinta lagi dengan pelangi. Katakan saja aku ... Aku....
Ibu, pelangi itu mimpi bagiku. Mimpi yang patah karena gerimis mengambil posisi terindah itu.
Ibu, aku tersingkir dari mimpiku sendiri. Terbuang. Secara mengejutkan gerimis merusak-masuk tatanan rapi mimpi ini.
Ibu tahu? sejak senja itu, ketika pelangi menyapaku saat aku menangis bersama hujan. Sejak itu juga aku bermimpi. Memimpikan indah dengannya.
Ibu, senja kali ini berbeda. Aku kembali menangis bersama hujan, kembali mengingat, kembali berharap itu akan terulang kembali.
Ibu, aku tak menemukan lagi dia menyapaku sehabis hujan. Aku malah sering bertemu dan bertengkar dengan gerimis. Meributkan, menyalahkan seolah-olah aku yang tertuduh bersalah.
Ibu, dimana pelangi? Hilang kah? Sengaja sembunyi kah? Marah kah? Benci kah?
Ibu, aku mati! Terbunuh pengaharapanku sendiri. Cinta atau amarah. Ah, sialan!
Seribujuta kemalasan malamkolia setengah gila gerimis yang berencana menjemput pelangi secara paksa.
Pelangi? Entahlah. Bersedia tidak dia kencan buta saat hujan reda. Mungkin?
Menghitung hujan, berharap pada hitungan ke-sekian ratusribujuta akan berhenti. Alasan pelangi malam ini tetap istimewa untuk gerimis.
Gerimis? Apa kabarnya? Tetap dengan senandungnya merayu Pelangi untuk ada pada malamkolia ini.
Hanya dibalik jendela dengan kaca yang merembes basah, menatap nanar. “Simpan saja aku untuk esok hari Gerimis.”
***
Kamu, ketika hujan keridakwarasanku berimajinasi. “Mungkinkah kita bisa menatap kencan butanya Gerimis dan Pelangi dibalik kaca jendela yang sama bersama, iya bersama?”