Saturday, December 22, 2018

Hujan Sudah Terbit

Hujan yang sedang kamu sentuh ini berisi kisah-kisah dari jauh yang mengandung berbagai lirik, larik nada dan anatomi tubuh harummu yang penuh kiasan dari orang asing di dalam kesepian sana. Pohon atau bunga-bunga menjadi pelengkap dari sarana waktu tiba, meskipun sering terlambat jatuh, penyampaian hujan melalui kisah-kisah ini diperlukan dan berarti, karena nasihatnya konon, seringkali kurang menunjukkan makna yang jelas kecuali pada mereka yang mempunyai pelangi di matanya.

Hujan tidak mungkin memberi tahu kisah ini secara luas dan kepada orang ramai, karena itu hujan mengembangkan suatu cara khusus untuk menguraikan berbagai rahasia dan kisah untuk mereka yang menerimanya. Namun, apabila tidak ada kata-kata yang tepat untuk menyampaikan kisah-kisah tersebut maka digunakan ungkapan khusus atau puisi, seperti ini.

Pada tiap-tiap tempat tertentu hujan akan turun untuk beberapa minggu sampai hitungan bulan tanpa henti seperti sekarang ini, demi mempelajari karakter orang sepi setempat dan memperoleh banyak pengalaman yang beraneka ragam. Hal semacam itu dibuktikan oleh air mata mereka di waktu sore yang perlahan mengahapus tangis dari pipinya sendiri.

Dan mudah-mudahan hujan ini dapat memenuhi fungsinya dalam berbagai sudut pandang, terutama bagiku dan bagimu.

Sedangkan hujan sedang menangis histeris sampai mata bundarnya bengkak memerah, aku tak mungkin sudi marah. Aku hanya ingin lekas pulang sampai rumah, tanpa tergesa-gesa diburu peluru rintik yang ingin segera melumpuhkanku dalam hitungan detik. Terjebak di antara orang ramai sama saja menyerahkan diri untuk dicermati dan dicaci lalu diasingkan hingga dijauhi. Ini tidak mudah bagiku namun begitu sangat sederhana jika itu denganmu.

Karena kata orang sepi terdahulu “di dalam hujan ada lagu yang bisa didengarkan oleh mereka yang rindu” aku juga begitu; merasakan.

Kita yang terpisah langkah, dijauhkan jarak dan sama sekali tidak mengerti waktu hujan akan tiba-tiba jatuh... kamu di sana... masih di sana... aku di sini kan selalu... selalu... menujumu... terus melaju... menujumu... biarkan... biarkan aku menolak untuk kehujanan kali ini demi bisa sepayung mesra denganmu... denganmu...

Saturday, October 6, 2018

Latihan Letih

Kusam jendela berteman debu
Yang artinya tidak baik disentuh
Kamu lipat kembali halaman depan rumah
Untuk dilelapkan sebelum malam

Kuambilkan satu untukmu
Di belakang sana
tidak ada kenangan
tidak juga berharap kesenangan

Kita saling melempar tanya
Namun enggan memberi jawab

Urai sesuai selera
Garis lurus bersilang rapi
Terkotak-kotak
Kotor merubah putih

Aku seharusnya melihatnya
Aneka rasa menerka aroma
Malas bercerita
Rajin menghilang
Kamu kucuri
Aku mendadak sepi

Friday, March 30, 2018

Pembeli Adalah Racun

Ia penjual uang 'mainan' yang kebutalan kenal dengan seorang pemilik toko buku bajakan kekinian di area taman bermain jantung kota. Ia kenal. Namun 'mereka' belum sempat berkenalan sebelum akhirnya salah satu di antaranya meninggal dunia akibat salah mengkomsumsi konsumen!

Tuesday, January 23, 2018

Merayu Api Bertamasya

Sore kali pertama ketika api menyala sebagai wujud lilin yang berubah romantis, berhias kerlip lampu jalan yang sebagian kecil cahaya jatuh menimpa sungai di dekatnya, indah! Tak terkecuali juga parasmu yang tersipu, tersapu angin lirih. Lewat suasana ini, ingin aku meraih matamu yang kuanggap mencuri pandanganku secara turun-temurun. Membiarkan sepuluh detik percakapakan kita berantakan dalam hati masing-masing, saling melempar tanya dan menyimpan jawaban-jawaban yang liar—yang tidak masuk akal. Lalu aku menawarkan pilihan tempat duduk untukmu, dengan harapan rasa gemas ini segera berlalu, dan begitu anggun kamu hanya membalasnya dengan bahasa tubuh. Aku mengerti atau sama sekali tidak mengerti. Silakan duduk di sampingku jika ingin disayangi!

Hai?

Seperti biasa, kamu memerankan dirimu saat di dekatku dengan sedikit dialog dan banyak sekali diam. Asalkan kamu bersedia, aku selalu ada. Meski sore ini begitu malu, udara semakin didera rindu, aku tak merasa gugup pada meja yang kamu jadikan sandaran pipi merah jambu manjamu. Oleh apa dan sebab apa aku masih ingin berlama-lama di lingkaranmu. Bertahan demi hari-hari esok yang masih sepertinya. Dan tetap mengupayakan beberapa cerita karangan sendiri supaya layak diangkat ke layar lebar! Atau setidaknya jadi buku—yang kamu bakar marah seketika hingga menjadi abu—sampai-sampai kamu hirup sesak penuhi rongga asmaramu! Kemudian memujamu secara berkala untuk mengatasi mimpi burukku saat aku bangun tidur nanti. Namun, apabila kamu sudah tidak ada lagi narasi drama denganku, bolehkah kiranya aku memberi semacam tepuk tangan penghibur pertunjukkan?

Baiklah.

Dalam kurun waktu belasan hela nafas, setelah adegan percakapan mengahafal naskah yang tidak masuk daftar pertemuan. Kita masih diam, namun bukan terdiam. Diam-diam yang sebenarnya tak ingin diam. Malahan jika kamu bertanya padaku perihal kita, aku sungguh ingin mendiami hatimu secara diam-diam, seperti halnya kamu yang senantiasa dari awal berjumpa sudah mendiami hatiku walaupun kamu hanya diam.

Aku jadi malu mengingatnya. Tidak akan kukatakan dulu. Namun dulu rindumu seringkali meranggas malam-malamku. Membuat sepetak kamarku kalut berserakan. Mencoba mencari pembenaran atas segala resah antara benar atau salah, rasa jatuh cinta ini, rasa kagum ini.

Tentu dengan adanya kata bersama untukmu dengan yang lain membuat siapa saja bertanya, masihkah ada harapan?

Aku.

Aku.

Harusnya aku bisa lebih sedikit menerima yang kukira kurang banyak. Menyimpan atau membagi pada yang tidak berkenan memeluknya. Dan berharap untuk tidak kembali pada kekasih yang bagiku bagai sang surya yang menyinari dunia, terdengar seperti lagu masa kecil kurasa. Tapi, untuk pemurung sepertiku, sepertinya ada hal besar yang kudambakan setiap hari, cukup ada semacam pagi untuk berkecil hati. Itu saja. Aku hanya saja bukan pemalu, lebih pada kurang menangkap suasana riang-gembira di sekitar. Meski setiap aku mengubah air muka menjadi bahagia tak akan terganti paras murungku yang jelita nan malas ini dilihat mata.

Akhirnya kukatakan juga.

Kamu, aku kangen. Tepatnya rindu. Lebih menariknya aku mengulur jarak antar kita agar tercipta ruang yang bisa kita nikmati antar muka.

Kamu, aku juga benci. Tepatnya sebal. Lebih tinggi dari angka terendah suhu di kotaku, betapa warna kesukaanmu membuatku mudah kembali buta warna.

Maaf. Aku meminta maaf. Aku pernah sekali meminta perhatianmu dalam bentuk yang tidak masuk akal.

Dan kini?

Kenapa?

Kenapa kamu tidak dari kemarin-kemarin datang?

Ah!

Hanya sisa-sisa.

Sia-sia!