Sunday, April 27, 2014

Kamu; Supercalifragilisticexpialidocious

Kamu
Setiap pijakan tak terlihat
Menempatkannya pada posisi terindah
Tepat dalam sebuah nada

Kamu
Inspirasi mempermudah hidup
Mempercepat langkah kaki
Alasan terbesar untuk tegar berdiri

Kamu
Terimakasih untuk setiap kesalahan
Menciptakan dimensi penyesalan
Merapikan diri dalam cermin

Kamu
Hidup ini sudah bahagia
Dengan pemahaman baik
Pertanyaan semu mulai temukan jawaban

Kamu
Perasan ini tak terbantahkan
Membumi dalam Aku
Hanya dalam hati

Kamu
Langitku kembali perlihatkan bintangnya
Petunjuk pulang, seandainya tengah tersesat

Kamu
Supercalifragilisticexpialidocious

Thursday, April 10, 2014

Melancholia Syndrome

Peraduan cahaya terang diantara nestapa dan derita dalam secerca udara hirup pikuk pagi ini. Mengalunkan kharismatik seorang ksatria yang akan memenangkan pertempuran pada episode hari ini.

***

Hari ini, ketika semuanya telah terbangun dari  mimpinya. Kau hanya memberi isyarat kemalasan, menarik cepat selimut  lalu tertidur kembali.

Didalam kamar, dibawah kesadaranmu dalam gelapnya ruang, sebagian darimu angkat bicara. “Wajahmu tak cerminkan penyesalan. Retaknya kejujuran terberai berantakan. Mencoba untuk memberi kesempatan, ternyata hanya ilusimu belaka. Tak ada sesuatu yang terjadi akan adanya tanda-tanda perubahan yang nyata. Kau tidak malu pada gerimis jingga yang telah dengan keindahan tetesannya menghadirkan pelangi untuk pijakan meraih mimpimu. Dengan sombongnya  dirimu merasa apatis tentang yang melatar belakangi mimpimu.
Terimakasih pun tak terucap darimu. Tak habis pikirku tentang jalan pikiranmu. Berbeda, tidak seperti saat gerimis tapi sudah menjadi hujan lebat beraroma halilintar. Ada apa dengan hidupmu, apakah kau sudah gila?” Tak sedikitpun kau membalasnya dengan suara falsmu. kau hanya menampakkan kelesuhan bahwa telah bosan mendengarnya.

Disudut ruangan tergeletak, terkapar sunyi. Mendengar semua kicauan sehari-hari. “entah apa yang mereka perdebatkan diluar sana, sehingga menjadikan larut-larut kekemudian hari sampai saat ini, dan mungkin akan berlanjut terus-menerus. tak tahu entah sampai kapan. Aku pun tak mengelak tentang semua cercaan untuk diriku, secara garis besar semuanya benar.” Lontaran dendam tanpa disengaja. Membungkam hati. Meringkuk, menghukum diri dalam kamar gelap.

Disisi lain, dalam sudut pandang orang sekitarmu yang telah mengadili privasimu. Telah membunuh setiap gerakmu. Meneriakimu dengan kata-kata kotor. Menjatuhkanmu hingga tertimpa tangga. Hmm.. Kemalangan apa yang sedang kau terpa. Mereka tak menyadari hal ini, pola pikirnya kemana-mana. Menerka yang tidak-tidak, tak serasi realitasnya. Mungkin mereka tak tahu kebiasaanmu selama ini. Mungkin juga mereka tak salah
karena kamu hanya diam. Diam-diam melakukannya. Mereka tak perlu mengerti dan mereka pun tak akan percaya.

Tapi disisi lainnya lagi, dalam sudut pandang yang berebeda dari kebanyakan mahkluk disekitarmu. Dia berasumsi lain. Dia tahu apa yang sedang kau alami. Dia mengerti benar. Dia yang paling mewakili dirimu sekarang. Suatu keadaan dimana kamu benar-benar rapuh, mengenaskan. Sebuah depresi yang berkepanjangan melahap habis sisi psikologismu. Jiwamu mungkin sedang dalam keadaan yang sangat mengkhawatirkan. Menawarkan kematian kapan saja. Tapi, kau tidak perlu berkecil hati. Tak berhak salahkan kejanggalan ini. Ini hidupmu bukan hidup mereka. Ini caramu bukan cara mereka. Ini masalahmu bukan masalah mereka. Biarkan mereka melihatmu dengan bebas, saat jiwamu berpijak pada semua cercaan itu, secara tidak langsung keajaiban akan menghampiri. Akan menyatu dengan langkahmu.

Dikamar gelap ini, disudut ruang berdinding kelabu. Dirimu seperti mengalami ilusi. Seolah-olah dirimu menjadi beberapa bagian, cerminan dirimu saat ini. Mereka bukan orang lain bagimu, itu dirimu. Mereka terlihat seperti sungguhan, bukan animasi atau semacamnya. Mereka mensuarakan beberapa hal, menawarkan pilihan yang dramatikal. Kamu hanya mengamati mereka. Mencoba mengerti maksud dari hal ini. Untuk kesekian kalinya dirimu terdiam. Dan terdiam.

***

Didalam kamar semua terombang-ambing dalam semu. Berserakan di beranda, tak terjamah kenyataan. Terlihat dari jauh terkapar lemah menghabiskan sisa malam. Mungkin akhir dari sebuah impian atau memilih menjauh dari derita. Seperti menyiksa diri dalam sepi. Setidaknya itulah yang terjadi. Tapi terkadang busur presepsi meleset tak tepat menancap. Tak pernah terlintas, semua tuduhan itu tak benar nyatanya.

Bahasa Universal

selama gerimis masih bersenandung lirih
selama jiwa masih melagu tanpa ragu

dengan bermimipi ku kan melihat harmonisasi warna indah pelangi

semestinya itu harus terjadi
kesadaran diri yang tersentak
tak menyadari
tersadarkan oleh suara malam

aku coba mengerti
aku coba pahami

setiap gerakan manufer jari-jari
mengikuti alur sendirinya

perlahan dan segenggam hentakan
mengiri seluruh imajinasiku
menuntunku untuk lebih indah

Dejavu

Kembali lagi pada suasana seperti ini, suasana yang terus terjadi berulang kali. Dimana pada suatu titik itu diri ini memejamkan mata sejenak beberapa menit dan seterusnya mendampingi imajinasi menyusuri kehidupan yang kasap mata. Entah sudah berapa kali aku mengalaminya, mungkin setiap aku terdiam hal itu terjadi. Dari sudut pandang itu aku mulai berfikir, mulai merasa apa yang telah ku alami selama ini. Diam itu sedikit usaha untuk bernyawa ganda. Berpisah dari raga supaya dapat melihat diri sendiri, melihat aura pada saat itu, apakah auranya baik atau sedang murung. Sepertinya ini sudah menjadi rutinitas dan menjelma sebagai kebisaan dan aku menikmatinya dan aku selalu menunggunya.

Pecundang

Ekspresinya terlihat dalam genggaman cakrawala, memerah kusam cerminkan ketidakpastian. Melipat kerutnya dahi menonjolkan lesungnya pipi. Senyum yang hanya terbuka jika mata orang sekitar sedang tertutup. Rasionalnya Itu mutlak terjadi kepada setiap jiwa yang bernyawa. Kepada diam dia berbicara dengan terdiam. Kepada hitam dia melukis dendam. Kepada sunyinya malam dia termakan buram.

Hidupkan gairah kesedihannya. Kembali bersembunyi dari lalu lalang masalah. Berlari sejauh mungkin untuk menjauhi masalah sembari mengepakkan sayapnya sendiri. Terbang menembus ketakutan yang terus saja mengikuti. Kemanapun ketakutan selalu mengekor dibelakangnya. Seakan semakin lama semakin mendekat bahkan melekat. Kemanapun selalu diikuti, sampai di dalam persembunyian tersembunyi sekalipun tetap mengikuti.

Dia hanyalah setubuh manusia yang hanya punya nyawa dan nama. Selebihnya tak tau apa yang dia rasa. Mungkin hanya kendala sinkronnya hati dan otak. Menyuruh berjalan untuk lebih beranipun otak dan hati tidak bisa berkerjasama.

Sepanjang hidupnya hanya didedikasikan untuk kata “pecundang”

Kamu; Kau pernah sebut itu rasa

kau pernah sebut itu rasa suka
sedari dulu ingin kau katakan
sesuatu yang telah lama terpendam
aku lega sekarang.” itu katamu

kau pernah sebut itu rasa sayang
disaat kau rindukan perhatian
terasa indah hidup ini
aku bahagia saat ini.” itu katamu

kau pernah sebut itu rasa cinta
dimana kita bergandeng tangan
berjalan diantara rintik hujan
aku merasa tenang.” itu katamu

kau pernah sebut itu suatu janji
rangkaian kata tersusun manis
dan aku menunggu kebenarannya
aku akan berjanji.” itu katamu

kau pernah sebut itu rasa cemburu
ketika pandangan matamu berbeda
aku berjalan, bercanda tanpamu
aku sakit hati.” itu katamu

kau pernah sebut itu rasa benci
setelah semua apa yang telah kau rasa
terakhir itu yang ku terima
aku benci kamu.” itu katamu

Aku Bermimpi

Aku Bermimpi

lebih dari itu aku bermimpi
meratapi miliyaran fantasi
sungguh gemulai menggeliat
caci semua hitam yang melekat

ajal hanyalah pembatas
sebuah strata atau kelas
membelakangi suatu ambisi
untuk suatu pijakan nanti

sesal itu menyedihkan
ketika malas mulai menekan
dan sesat mulai menjeremuskan
setelah datang kelamnya keraguan

aku bermimpi
aku berimajinasi
aku berfantasi
aku berekspresi

tanpa ku seseli
tanpa ku peduli

aku akan terus bermimpi
sampai mati
sampai semuanya benar terjadi

Kamu; Aku Bertanya?

lalalalala .......” aku bersenandung. Menempatkan nada-nada kedalam sebuah irama. Simponi menerjemahkan setiap ritme menjadi keindahan.

Syairnya menceritakan realita hidup ini tentang sebuah kenangan. Memutar kembali melodi sumbang jiwa ini, menjadi luka dan derita.

Mungkin karena semanis janji, berkelanjutan sampai separah ini. Berdampak terhadap psikis kejolak jiwaku.

Awal dari sensasi keheningan, kehampaan, keraguan, dan kesakitan. Aku sedikit tak percaya dengan semua hal ini, dengan semua hal yang menurutku ganjil. Ketidakpastian dirinya yang mengubahku.

Sudah aku bisikkan lembut kata untuknya. Mungkin dia tak merasa. Mungkin juga sengaja tak merasa.

Aku kembali bertanya “sebenarnya siapa yang salah dan siapa yang disalahkan?

Bersembunyi Tersembunyi

Maaf, jika pelangi indahku tersembunyi malam ini. Mungkin jika datang hari esok, pelangiku pasti akan terlihat. Tunggulah sampai redanya hujan. Pelangiku setia selalu menanti saat dimana air hujan berhenti jatuh menyentuh kehidupan.

Maaf, jika senyum manisku terhalang hujan siang ini. Mungkin hanya terlihat berdiri di derasnya hujan. Aku tidak sedang bersedih, sebaliknya aku begitu bahagia. Hujan turun dan pelampiasanku selama ini tercurahkan. Aku menangis tatkala gerimis berubah jadi hujan, tatkala muram berubah jadi gembira. Alasanku karena hanya aku dan Tuhan yang tahu apa yang terjadi, ketika tubuh diguyur hujan.

Kamu; Mencari Pelangi

Kamu, sepanjang hari ini dari kemarin. Gerimis masih bersenandung, menikam dirinya dengan sengaja untuk sebuah pelangi. 
Kamu, Aku seperti awan pekat hitam, telah jenuh dengan bebannya, ingin menumpahkannya.
Kamu, aku harap hujan lebat malam ini. Aku penat.
Kamu, pelangi mungkin takkan mengisi langit setelah hujan ini, Rembulan pun enggan.
Kamu, Aku mencari pelangi untuk membuat nyata mimpi-mimpiku.