Monday, November 30, 2015

Aku adalah cerita yang akan terus berlanjut

Aku adalah cerita yang akan terus diceritakan dari sesuatu ke sesuatu hingga waktu ke waktu.

Ya, kecilku hanyalah lelucon bagi mereka orang-orang yang mengaku dewasa. Iya, bagi mereka itu hanya sebuah lelucon belaka. Bagiku?

****

Aku terlahir sebagai pendiam dan pendendam juga beralasan apapun untuk menutupi kemalasan. Sedari kecil sampai saat ini pun masih. Cukup beralasan memang aku begitu. Di lingkungan yang sangat mengutamakan perbandingan-perbandingan sebagai salah satu acuan untuk menilai sesuatu. Menghakimi hingga mematahkan apa yang belum sempat dilakukan. Iya, agar mereka puas dan senang. Culek matane!

Mengatasnamakan perbandingan.

Semisal, setelah melewati rangkaian perbandingan-perbandingan itu (njlimet), Beberapa orang-orang yang mengaku dewasa dengan bangga mempopulerkan anaknya sebagai anak contohan, anak yang patut dibanggakan. Akibatnya? Beberapa dari mereka yang menganggap anaknya sialan, kurang ajar, bahkan bajingan akan terus memarahinya, menjelekkannya didepan atau dibelakang mereka, para orang-orang yang mengaku dewasa. Dan menjadi lelucon bagi mereka. Dasar!

Maka lahirlah pertanyaan sangar "kamu anaknya siapa?"

Lingkungan ini begitu kejam, begitu parah. Lantas mereka mulai berasumsi tanpa jelas, melebel Si anak ini baik, pemalas, badung, pendiam. Kurang ajar. Mati!

Lingkungan macam apa ini? Tidak bisa menghargai perbedaan, terlalu mengacu pada standar orang kebanyakan. Arrghh!

****

Lihatlah sekarang orang-orang yang mengaku dewasa, lihatlah. Apa kabar anakmu? Iya anakmu, anak yang kau manjakan dengan hasil leloconmu? Anak yang kau impikan dengan perbandingan-perbandingan konyolmu? Semoga kabar baik buat anakmu, juga bagimu. Kabarku? Waras sekali hai orang-orang yang mengaku dewasa. Apa sekarang kau merasa berat menerima kenyataan wahai orang-orang yang mengaku dewasa? Masih mau lanjut? Hai orang-orang yang mengaku dewasa? Ayo kita teruskan.

Sekarang aku bisa dengan terbahak, menertawakan lelucon masa kecilku. Ternyata itu memang lucu sekali. Yes! Lebih lucu lagi, sekarang aku juga bisa lebih lancang menertawakan kalian, wahai orang-orang yang mengaku dewasa yang semakin tambah tua. Yes! Mesakke men

APAKAH AKU PENDIAM YANG BALAS DENDAM? WAHAI KALIAN ORANG-ORANG YANG MENGAKU DEWASA?

HAH? APA?

LUCU SEKALI JAWABAN KALIAN, WAHAI ORANG-ORANG YANG MENGAKU DEWASA.

Monday, November 16, 2015

Kamu; Momen sepersekian detik

Kamu, sepersekian detik dalam sehari. Diantara pukul enam dan tujuh malam. Menunggumu. Menanti saat-saat yang bisa kunikmati, kukenang lalu kusimpan dalam hati.

Kamu, terkadang kamu hanya lewat, melempar senyum, bersapa seadanya dan berlalu begitu saja. Namun tidak jarang pula kamu berhenti lantas menghampiri, mengisi dan sedikit menghiasi bola mata ini.

Kamu, Mungkin entah sengaja atau tidak. Kamu hanya membuang muka, membuatku setengah gila. Sepersekian detik yang patah tersia-sia.

Kamu, terkadang aku juga sengaja duduk lebih lama disini hanya untuk mengamati jalanan. Kubuang pandangan. Mengulur waktu. Enggan beranjak sebelum kutemui mata ini menangkap sosokmu.

Kamu, maaf, mungkin kamu tak menemukanku ditempat biasa. Aku tak ada. Mungkin juga kamu berhenti, sembari mencuri pandangan, bertanya dan mencari. Tapi tetap aku tak ada disana, ditempat biasa aku balik menyapa. Dan maaf lagi bila ternyata kamu kecewa.

Tetapi, satu hal yang begitu kurindu,

"sapaanmu tetap indah meski kudapati kamu kelihatan lelah" kataku pelan, tak terdengar.

Kamu