Malam ketigabelas dibulan januari. Warung Murung telah buka kembali setelah dua hari meliburkan diri. Seperti biasa, beberapa pengunjung datang lalu-lalang lalu pulang kemudian kembali lagi, lalu pergi, begitu terus terulang-ulang lagi dan lagi.
***
Dari jauh sebelum pintu masuk, dengan langkah kaki serasa bimbang, Dia mulai mendekati Warung Murung, masuk. Suasana malam itu sepi, beberapa pengunjung sudah lama pergi hanya ada Dia. Mengamati sekitar lalu mencari tempat duduk. Seorang pelayan kemudian mendekati, menyodorkan kalimat bosa-basi selamat datang dan menu andalan, padahal pilihannya hanya dua menu saja dan sedikit tambahan (bukan minuman atau makanan). Dia kemudian menyerahkan kertas berisi pesanannya selang tiga menit semenjak Si pelayan berdiri menunggu disisi. Dalam kertas itu Dia memesan; satu teh hangat, dua puluh menit lagu melankolis dan selembar kertas beserta alat tulis.
Enam langkah pelayan meninggalkan meja, langsung terdengar lagu melankolis pesanannya. Lagu pembuka dari Pandai Besi berjudul melankolia. Dia membenahi duduknya agar terasa lebih merasa apa yang seharusnya dirasa bukan dilupa.
Belum sampai lagu melankolia habis, pesanan teh hangat pun datang berikut dengan selembar kertas dan alat tulis. Dia sedikit tersenyum kemudian menggeleng ketika Si pelayan menanyakan apakah mau ditemani bercerita atau hanya duduk saja. Dia ingin sendiri, Si pelayan lalu pergi.
Terkadang ada pengunjung yang minim berbicara apalagi sampai meminta seseorang untuk menemaninya bercerita dan salah satunya; Dia.
Sebelas menit sudah Dia terdiam tak menyentuh pesananya sekalipun, hanya memandangi kosong selembar kertas tadi. Diam. mungkin sedang meresapi lagu berikutnya; 'sebelah mata' dari Efek Rumah Kaca. Sesekali membuang pandangan entah kemana akan terbuang.
Lagu yang masih memainkan irama melankolisnya, dimenit kedelapan belas Dia beranjak pergi. Hanya meninggalkan selembar uang lima puluh ribu juga selembar kertas yang sepertinya tak lagi kosong. Masih dengan langkah yang bimbang keluar, meninggalkan Warung Murung.
Si pelayan menghampiri meja, mengambil uang dan membersihkan debu yang sedari tadi menempel. Melirik lalu melihat isi dalam kertas tersebut.
________
Perihal hal perih bersama senandung lirih, bukan sekisah kasih putih tapi ini teramat perih, sedih.
Januari, kamu ingatkan beberapa ratus kali lagi perihal hal perih ini? Tidak bisa kah kamu memberi jeda satu atau dua masa lagi, bukan dalam sehari tiga kali? Oh, Januari, rupanya kamu masih saja menyimpan perihal hal perih ini dengan rapi, dengan begitu mendetail sampai-sampai rasa sesak, rasa menikam luar biasa malam itu masih terasa sama kuterima dengan apa adanya, dengan sedikit terluka. Januari.
Januari, masih juga kamu abadikan suasana minim cahaya malam itu, kamu hadirkan pula perihal hal perih ini setiap aku bersiap untuk tertidur. Sesak, Januari, sesak.
Apa rasanya januari? Bagaimana kamu begitu teganya melakukan kejahatan itu? Kamu kirimkan perihal hal perih ini, kamu sampaikan, kamu sajikan, kamu senandungkan, kamu isyaratkan tepat, setia menemani pagi-malam-soreku. Sesak, Januari, sesak.
Januari, apakah Aku harus menggantikan peranmu sebagai pembuka awal tahun? Apa, apa Aku harus meloncatimu, melewatkanmu dengan tertidur dalam kurun waktumu? Atau Aku yang akan memecatmu dari tatanan yang sudah ada? Januari? Tapi, apakah mungkin dengan begitu perihal hal perih ini berlalu begitu saja? Atau malah semakin menganga membabi buta? Ah, sialan!
Aku yang membencimu karena ulah perasaan ini yang begitu khusyuk merayakan perihal hal perih ini. Mendo'akan lalu mengumpatnya dengan berbagai cara. Selalu dalam hati berkata; sesak, januari, sesak. Perasaan yang merekam momen perihal hal perih ini, menyimpannya dengan sakit dan lupa cara menghapusnya, melupakannya.
Perihal hal perih ini bersemayam dalam hati sampai saat ini. Kepadamu perempuan patah hatiku.
_________
Si pelayan mengambil kertas itu, melipatnya lalu menyimpannya disaku kemeja. Bergumam, berharap Dia kan kembali meneruskan patah hatinya lagi.