Monday, December 26, 2016

Terjemahan Nasihat Ibu

SORE mulai menjadi hal yang sering
disemogakan oleh kamu juga aku.
Menunggu atau memilih menjemputnya, aku
berusaha untuk menguasai keduanya.
Sekarang awan hitam kecil peliharanku
sudah kelihatan jenuh. Mungkin karena dia
main panas matahari seharian. Aku tidak
melarangnya untuk melakukan apapun,
termasuk hilang dalam beberapa waktu. Aku
membiarkan jiwa periangnya dapat
berkembang dengan maksimal. Dengan
begitu, tidak ada lagi tangisnya di sore yang
akan datang. Semoga saja.

***

Thursday, December 8, 2016

Kamu; Desember


Aku mendiami lagu 'Desember' dari efek rumah kaca. Memakainya sebagai penabur bosa-basi di antara percakapan yang terlau panjang juga membosankan perihal kita, cinta dan apa saja. Juga tentang siapa yang selalu bernyanyi di balik awan hitam kala senandung itu didengarkan.

Aku, demkian kusebut. Aku adalah hari dimana pagi menjadi siang hingga muncul umpatan 'sialan kesiangan!'

Aku adalah pukul sembilan siang yang terpaksa sengaja terbangun oleh suara khas Ibu tersayang.

Aku?

Lalu, tercipta rasa sesak yang baru.

Aku ingin membiarkan kesempatanku terulang lagi. Biarkan aku membiarkan; memperlihatkan rasa sesak yang baru karenamu. Kamu boleh menolaknya atau sekedar mengurungkan rasa itu mencoba tumbuh rimbun. Dengan begitu, tak akan ada lagi isyarat rindu yang menggebu, yang menjadikannya hasrat lalu menguap bersanding mesra bersama langit abu-abu.

Aku melangkah keluar dari rumah menuju sekumpulan teman yang duduk di beranda tetangga. Aku ikut bergabung meski tanpa permisi juga tanpa ada yang mempersilahkan. Aku duduk dan hanya mengamati mereka dengan sesekali menanggapi pertanyaan yang berbau candaan kepadaku. Aku tersenyum; menyeringai.

Kamu, sekarang aku bisa terima.

Iya, aku mengagumi kamu.

Hari ini tentangmu hanya menyisakan perih. Aku mulai mendalami peran melankolisku dan menuliskan kisah ini.

Malam itu sampai hari ini jauh dan lama. Menahun. Berganti suasana hati. Berganti pelukan. Berganti rindu yang terpendam. Hingga, kemarin (belum lama) aku menyerah atas apa yang kuyakini selama ini ternyata salah.

Aku mengabaikanmu beberapa bulan setelah sesak paling sesak itu menyerang. Aku tidak lagi memperdulikan kisah hidupmu. Aku cukup menyapamu dari balik pintu, jika hadirmu tak sengaja mengunci pandangan dan memaksaku memeluk dalam kehampaan; membuat hati yang telah perlahan tertata menjadi tercecer tidak rata.

“Kamu, andaikan kukumpulkan dan kutuliskan ulang semua catatan perihal cinta, mungkin tak akan cukup bagimu kurasa.” Katamu selepas pulang dari keramaian dan memilih sepi bersamaku.

Kamu tidak perlu menjelaskan apa-apa padaku.

Aku selalu merasa kosong setiap kali senyummu mendarat di mataku dan jatuh terpersok lalu tersesat di hatiku; bercampur, berbaur dengan hujan yang berubah menjadi air mata. Aku kehilangan rindu; karena di matamu masih menyelami masa lalu. Kamu tenggelam dan kurasa tak akan ada lagi permukaan untukku.

Kembali, Aku mendiami lagu 'Desember' dari efek rumah kaca. Memakainya sebagai penabur bosa-basi di antara percakapan yang terlau panjang juga membosankan perihal kita, cinta dan apa saja. Juga tentang siapa yang selalu bernyanyi di balik awan hitam kala senandung itu didengarkan.

Saturday, December 3, 2016

Kamu; Hujani Soreku

Kamu, apakah jenis hujan sore ini? Hujan datang?

Aku mengikutsertakan perihal yang kukenakan. Membuat pandangan yang dihalangi papan nama menjadi kenyataan. Aku tahu, ini teramat buram untuk hal perih yang perlahan meninggalkan suram. Mengingat setubuh kenangan sesak karena pernah kehilangan kewarasan.

Kamu, apakah jenis hujan sore ini? Hujan jatuh?

Aku berada di dalam saku bajumu malam itu. Menenggelamkan pandangan dengan sengaja. Pada kombinasi warna gelap, aku tersesat dan enggan ingin kembali. Bahwa, beberapa tokoh dalam diriku menolak pulang dan ingin tinggal menetap. Aku sadar dan sedikit mewajarkan keadaan. Aku ingin satunya lagi.

Kamu, apakah jenis hujan sore ini? Hujan turun?

Aku dilanda cemburu juga rindu. Bersamamu hanya bisa menyentuh bagian terluar yang menjadikan pikiranku semakin liar. Sesekali, sekali saja, tuduhlah bahwa aku yang meminta. Menjadi tersangka mungkin menyenangkan. Dan ada bahagia di matamu juga senyummu yang perlahan menyentuh wajahku.

Kamu, marilah bersamaku, menyambutnya dengan tarian penerimaan sembari menengadah air hujan.

Sunday, November 20, 2016

Menjadi Hadiah Ulang Tahun


                                               —untuk kamu; Lila
 


Kamu selalu tertidur di luar jangkauan.

Aku ingin menyentuh pipimu dengan lembut di seberang suara kita yang saling menyapa. Aku ingin kamu sejenak memejamkan mata lalu merasakan apa yang seharusnya. Aku ingin bertemu walau hanya sebentar, menebus rindu ini yang semakin tak wajar.

Kamu selalu tertidur tanpa nyanyian.

Aku ingin beranjak dari tempat tidurku dan menyembunyikan cemasku di balik selimut. Aku ingin menemanimu pada malam dimana rindu lebih berat daripada kantuk yang sudah berubah menjadi kata sifat. Aku ingin di sisimu lalu mengucap lirih selamat tidur dengan mengecup manis di keningmu secara teratur.

Kamu selalu tertidur bersama kotak pesan yang belum dibuka.

Aku ingin kamu bersedia menjadi tempat pulang. Aku ingin setelah aku lelah dalam melangkah mendapati kamu menyambutku dengan senyuman terindah. Aku ingin bercerita tentang perjalanan di beranda bersamamu, sembari menikmati dua cangkir teh hangat yang mencairkan suasana beku.

Kamu selalu tertidur dalam malam yang berhiaskan harapan.

Aku ingin kamu menjadi tempat yang subur dalam menanam pemahaman yang baik. Aku ingin mengerti apapun yang kamu sampaikan, meskipun hanya lewat diam. Aku ingin melihat masa depan dalam matamu. Aku ingin pemandangan saat mata terbuka adalah kamu.

Kamu selalu tertidur di antara gengaman yang enggan dilepaskan.

Aku ingin duduk berdua. Aku ingin berdua. Aku ingin. Aku...... Aku ingin mengenang yang telah lewat di masa awal perjumpaan kita dan mengabadikannya. Aku ingin menghadiahkan kamu dengan sebuah kenangan.

Kamu. Kamu. Kamu. Aku ingin memberi sesuatu atas bulan kelahiranmu. Aku ingin sesuatu itu lebih berkesan daripada sejumlah benda atau hanya sekedar berbalas pesan. Aku ingin menghadiahkanmu beberapa 'pertemuan' (iya, bukankah yang kamu-aku butuhkan itu?) Aku ingin berkunjung ke kotamu lebih sering dari bulan-bulan sebelumnya. Aku ingin kamu menjadi lebih bahagia. Aku ingin kamu tahu, bulan kelahiranmu tahun ini bersamaan dengan fenomena langit yang menampakkan rembulan lebih dari biasanya dan kamu melewatkannya dengan terlelap karena menunggu.

Kamu, Aku tidak bisa memberikan apa-apa selain ini. Aku ingin kamu membacanya. Aku ingin kamu membacanya lagi saat bosan atau membacanya lagi tanpa bosan. Aku ingin kamu kembali teringat beberapa kisah kita. Aku ingin kamu tersenyum. Aku ingin kamu memeluknya sebagai balasan.

Kamu, terimakasih untuk sebulan tiga kali pertemuanya ditambah dengan satu pagi lagi. Terimakasih. Aku ingin bersama kamu. Aku ingin berbagi dengan kamu. Sungguh. Aku ingin turut serta merayakan bahagia. Aku ingin melepas do'a yang kupendam. Aku ingin menutup matamu dengan kedua mataku. Aku ingin kamu merangkai harapan. Aku ingin kamu setidaknya menyelipkan aku di dalamnya.

Kamu, Aku ingin menjadi hadiah ulang tahunmu.

Kamu, jika ada yang bertanya aku memberi hadiah apa di hari ulang tahunmu, katakan saja “Dia memberikan tiga kali pertemuan ditambah satu pagi lagi dalam sebulan ini ”

Kamu, terimakasih. Terimalah ini sebagai hadiah yang langka, yang hanya seorang seperti aku saja dan hanya untuk kamu saja. Terimalah.




—kesayanganmu; Agung Pamukti

Saturday, November 12, 2016

Kamu; Katakan

Katakan pada ruang sendirimu ketika bersusah payah menerima kisah masa laluku yang hidup berdampingan saat ini.

Katakan bahwa aku mulai nyaman mencari celah untuk membuatmu memalingkan wajah.

Katakan seisi dalam pandanganmu malam itu terasa penuh sesak dengan satu nama.

Katakan kamu hanya ingin merasa menjadi pemeran utama dalam setiap percakapan perihal cinta.

Katakan berapa kali untukmu menolak suara hati dengan memilih menahan dan menunda pelukan.

Katakan dalam sepanjang perjalanan menuju pulang kamu menyimpan beribu rindu untuk diajak beradu.

Katakan “aku sayang kamu” lalu tenggelam dalam pelukku.

Katakan apapun terserah tapi jangan diam.

Tuesday, October 25, 2016

Aku Suka Bersedih, Kamu Bahagia?


Ini seperti sebuah malam yang murung atau pagi yang mendadak mendung. Anak sungai sebelah rumah masih tetap seperti luapan susu coklat segar dari buangan sisa lelaki pendiam penikmat teh hangat. Pepohan merunduk memberi teduh pada jenggal tanah yang lusuh. Dedaunan jatuh terbawa angin, terbang kemananpun angin ingin merengkuhnya. Para pengembara muda yang membawa sepotong hatinya masih bersenandung, bernyanyi sembari mengobati pilunya patah hati.

Diam dan kemudian meniru tindakan seseorang; memeluk pohon pisang untuk dijadikannya ungkapan atas betapa patah hatinya semalam. “apa kamu tak punya sedikit hati?” menangis. Mengusap air mata. Menangis lagi.

Cerah berawan dan hujan ringan, begitu perkiraan cuaca kota pagi ini menurut suara radio tetangga. Langit banyak awan juga sisa senyummu yang masih sesak menawan. Sesak. Tambah sesak. Tumbuh sesak. Semakin sesak.

Dan akan kulupakan senyummu setelah sesak berikutnya. Semoga saja.

Aku merasakan seperti melukai ranting, membuatnya patah lalu kubanting, andai kamu sejumawa itu. Andai. Nyatanya, kamu tetaplah kamu dengan senyuman bekas sendu. Perempuan pemilik tawa paling bahagia.

Aku menahan sesak.

Aku masih menahan sesak.

Aku kembali pada tabiat lama. Masuk kamar lalu menghukum diri. Aku senang selalu salah. Bahkan jika aku merasa benar, aku ingin disalahkan saja. Aku ingin bersedih. Aku ingin mempunyai kekuatan besar untuk dijadikan alasan mengapa aku menangis. Aku ingin mempunyai kesalahan yang fatal atas apa yang aku kira benar. Aku ingin murung lalu memilih lagu-lagu melankolis untuk aku dengar seharian suntuk. Aku ingin sore seperti pagi, atau aku seperti ini terus setiap hari.

Aku ingin membuat keputusan tunggal dan menanmbahkan satu lagi keputusan janggal. Akan kuputuskan tapi tidak secara langsung biar terasa sedikit janggal. Aku ingin berakhir sebagai banyak tanda baca. Aku ingin seluruh tahun dalam sewindu kedepan bisa masuk kategori apa saja dan bisa membawa pulang separuh lebih hati terlanjur dendam. Aku ingin memakai kesedihanku sebagai kebiasaan yang bisa ditiru banyak orang. Aku ingin menjadi pusing. Aku ingin meniru banyak orang yang memakai kesedihanku untuk ditiru.

Aku ingin lebih banyak terlihat bersedih daripada harus banyak bahagia. Aku ingin cukup meski rasa puas ini tertutup. Aku ingin mengeja namaku seperti membuat huruf pertama saat di taman kanak-kanak dulu.

Aku ingin terjatuh saat aku merasa sudah di dahan pohon terakhir. Aku ingin melihat jelas saat terjatuh bebas dari kepergian yang membuatku jauh. Aku ingin nelangsa di antara sedikit kebahagianku yang terenggut paksa.

Aku ingin bersedih.

Aku ingin sesekali berharap ruang kamar dalam setiap malamku terlihat senyum sesaat aku ingin menutup mata. Aku ingin tenggelam dengan mengubah mata menjadi sumber air. Aku ingin dekat. Aku ingin terasa dekat. Aku ingin mendekat lalu kupeluk diriku erat-erat.

Aku ingin sisi melankolisku menjadi dominan dan mayoritas. Aku ingin seisi mulut bisa menahan kata-kataku untuk mengutarakan pernyataaan beserta pertanyaan. “aku suka bersedih, kamu bahagia?”

Aku ingin hujan datang bukan turun. Aku tidak ingin hujan jatuh, biar air mataku saja yang jatuh menetes. Aku ingin dengan secara halus memperlakukan hujan. Aku ingin menyambut kedatangannya bukan menerima jatuhnya. Aku ingin hati berubah berdebar seketika mencium aroma basahnya. Aku ingin menambah kadar sukaku terhadap hujan. Aku suka hujan. Aku ingin hujan setiap jam.

Aku ingin bersedih.

Aku ingin duduk di kedai kopi pinggir jalan dan memesan coklat panas. Aku ingin menyamakan atau sekedar membandingkan bising dalam diriku dengan bising jalanan. Aku ingin mengumpat pelayan jika senang hati menambahkan banyak gula dalam gelasku. Aku ingin menjadi bangku kosong di tempat yang ramai. Aku ingin diam dan menunggu isi gelasku meminta untuk dibayar. Aku ingin menebus hal yang mereka rasa sepi dengan sejumlah menit pada setiap waktu. Aku ingin bertanya rahasia umum yang rahasia pada pelayan tadi. Aku ingin bersedih dan meminta jalan untuk ramai pada lenggang yang sebenarnya.

Aku ingin bersedih.

Aku ingin menonton sebuah pertunjukkan komedi. Aku ingin mengamati mereka yang membuat tawa. Aku ingin teliti sekali dalam menilai. Aku ingin sesekali mereka mengundang kesedihan di hadapan khalayak ramai. Aku ingin mereka bersedih dan jujur. Aku ingin penonton juga yang lain menyamakan tujuan mereka datang ke tempat ini; meredam sesak, membuat tawa. Aku ingin jujur tapi kalian terlalu bertindak dewasa.

Aku ingin bersedih.

Aku ingin membeli makanan ringan dan membuang pandangan pada penjaga toko. Aku ingin mengamati yang sedari tadi mengamatiku. Aku ingin seolah tidak membeli dan bersembunyi kemudian secara tiba-tiba membawa sekeranjang belanjaan. Aku ingin memberi kejutan. Aku ingin puas dalam membeli, seperti kata-kata yang ada dalam papan penanda.

Aku ingin bersedih.

Aku ingin mempunyai sebuah kotak kecil. Aku ingin menaruh kebahagianku di dalamnya. Aku ingin memperindah dengan sedikit senyum tipis di sela kotak yang tak rapat. Aku ingin memberi. Aku ingin berbagi kebahagianku pada seseorang. Aku ingin dia senang menerima kotakku. Aku ingin dia selama dalam menunggu membuka kotak itu. Aku ingin dia terhibur.

Tetapi, aku ingin bersedih setidaknya sekali dalam sehari. Aku ingin bersedih bersama diriku sendiri yang kupeluk. Lalu besok atau waktu yang akan datang biarkan sedih ini bersambung.

Saturday, September 17, 2016

Kamu; Berberapa langkahmu menjelang tersenyum kembali


Kamu, langit mendung dan suasana tak jadi mendukung, sebab rasamu entah itu apa yang tak lagi terbendung. Pepohonan, jalan setapak juga semak-semak di samping kamu, meminta permohanan singkat untuk segera dijauhi. Kamu. Kamu. Kamu. Kamu tertunduk bersamaan dengan perasaanku yang bercampur-aduk. Aku mengutuk diri sendiri atas apa atau bagaimana sikap beserta kesan atau alasan lontaran yang tak disengaja. Kamu mempercepat langkah mencoba memberi jarak denganku, meskipun kamu lelah, meskipun nafasmu terengah-engah dan mungkin juga kamu (benar-benar) marah.

Kamu, aku yang masih canggung untuk memperbaiki suasa yang sudah terlanjur muram. Aku masih kaku bila kamu begitu; diam dan mengibaskan genggaman. Aku kacau dalam sepuluh langkahmu. Aku menyumpahi diriku sendiri; Bodoh! Bodoh! Bodoh!

Kamu, kalaupun wajahmu memandangiku dalam sepuluh langkahmu, pastilah kamu temukan aku yang dengan raut muka entah, tidak tahu apa yang harus diperbuat setelahnya, andai kamu lihat. Betapa cemas. Lalu aku kembali menyumpahi diriku lagi. Lagi. Lagi. Dan lagi.

Kamu, namun semuanya sekejab berubah. Enatah do'a apa yang telah diaminkan. Alam berulah. Siklus tubuhmu merasakan kembali yang telah hilang selama sepulah langkah sebelumnya. Ya, kamu mendadak bersin. Kamu tersenyum. Kamu tersenyum. Kembali lagi. Kamu mengubah arah pandangan. Kamu memandangiku. Kamu tersenyum. Aku lebih tersenyum. Aku mendekat. Semakin dekat. Aku menawarkan gengaman tangan. Kamu meng-iyakan, kita bergandengan. Bersama tersenyum kembali sepanjang sisa jalan.

Kamu, sebab langit tak seperti inginmu kemarin saat aku bergegas pulang, langit masih menahannya, menjaganya sampai kita duduk berdua. Katamu, langitpun ikut sedih ketika aku hendak pulang. Aku sering mengatakan itu berulang kali. Mencoba memberi nyawa pada setiap katamu. Kataku biasa saja meski aku lebih menyukai kata-kata, tetapi katamu selalu indah, selalu bersemayam dalam ingatan, katamu hidup diantara percakapan kita. Langit tak membiarkanmu pulang lebih awal. Langit baik dan selalu lebih baik. Saat langit menjatuhkan hujannya, kita sudah berteduh berdua menikmati segelas teh hangat untukmu, dan kopi rasa apa aku lupa untukku.

Kamu, sudah mau sore, kamu juga harus pulang, tapi kamu menahan. Sebentar. Sebentar. Sebentar lagi. Belum reda, katamu. Aku tersenyum. Namun kamu masih saja engga beranjak ketika sudah cerah suasana. Sebentar. Sebentar. Sebentar lagi. Belum benar-benar reda, katamu. Menit kelima belas. Menit kedua puluh. Setengah jam. Satu jam. Kita pulang

Kamu, aku masihlah kali pertama kali kamu temui. Masih suka bicara dalam hati. Masih tertahan jika ingin bermaksud mengutarakan. Masih tidak tahu bicara apa saat denganmu. Masih saja menyimpan masih yang kemudian perlahan tersisih.

Kamu, aku sayang, juga masih belajar.

Monday, August 1, 2016

Kamu; Semakin rindu

Kamu tahu? Sekarang, sore ini. Aku punya ingatan baru dalam bentuk kenangan mungkin juga berakibat kesenangan. Saat ini, setelah beberapa hari sampai aku menulis ini, ketika aku diserang flu aku menjadi teringat kamu. Juga kejadian yang hidup di dalamnya. Menjadi semacam awal-kisah sepasang remaja jatuh cinta.

Kembali pada bagian dimana aku—kamu berada dalam sepasang mata kita. Untuk kali pertama kamu menenggelamkan muka dalam sepasang lengan yang berpelukan. Kamu tersipu malu.

Kamu enggan menyerahkan diri disaat aku ingin kamu masuk menjadi pengganti rindu dalam mataku. Kamu masih enggan. Kamu bersedia, namun hanya berjalan sekian lirikan saja. Akhirnya. Kamu menyerah. Aku menyerah. Aku—kamu saling menenggelamkan dalam mata dan juga tubuh yang berdekatan, berpelukan. Bersama. Berdua.

Kembali pada flu ini. Aku hendak menyudahi juga hendak mengakhiri serangan ini. Tapi, semakin aku ingin, semakin flu ini menjadi sering.

Apakah flu ini berbanding lurus dengan rindu? Jika iya, peluk aku.

Wednesday, July 27, 2016

Kamu; Semoga pulas sampai tujuan

Untuk kamu yang memilih terlelap lebih awal. Perkenankan aku untuk sampaikan ini lebih awal juga. Kamu tahu? Rindu ini tak kenal lelah, tak tahu harus kapan berhenti untuk menyerah. Pada malam-malamku yang resah, rindu ini membuatku gelisah. Pasrah.

Untuk kamu yang memilih terlelap lebih awal. Aku adalah kamu dalam rupa mimpi yang tak sengaja datang. Biarkan saja aku hadir di antara pulasmu, biarkan saja. Biarkan saja kamu terbayang di setiap nyataku, biarkan saja. Biarkan saja.

Untuk kamu yang memilih terlelap lebih awal. Kembali akan kuceritakan lagi beberapa kisah dalam rupa kata-kata;

Saat aku menulis ini, aku—kamu membaca dalam hati tetapi mekar dalam senyuman, berandai dalam ingatan.

Sejak beberapa hari setelah memakai kata sayang, kamu mengunjungi tepian. Kamu ceritakan bahwa aku adalah mimpi juga nyata. Kamu berpeluk rasa sepi, kamu teman, andai sepi itu serupa nyaman.

Aku tidak banyak bicara kecuali pada diri sendiri dan kata-kata ini. Aku pemalu dan kehilangan sepotong rasa malu. Bedanya, kamu sengaja malu untuk membunuh sepi. Kamu malu dengan bijaksana. Kamu malu bersama jatuh cinta.

Kamu masuk beserta rasa penasaran juga perasaan. Aku tahu. Aku sengaja mengintip jendela dari pandanganmu. Membiarkanmu untuk sekali lagi mengulang malu.

Bertemu, saling tukar wajah dan menyimpannya rapi dalam bentuk senyuman.

Waktu sore setelah ramai langkah kaki. Aku ruang tengah tempat di mana kamu duduk menghabiskan pandangan hingga jatuh hati pada sepasang senyum yang saling menyapa bergandengan.

Sekarang, aku tepat di arah jam dua belas dari pandanganmu. Aku serupa pulang lalu pergi untuk bergegas berhenti. Kamu. Terhenti. Berhenti mencari.

Aku harap tidak ada tamu setelah aku juga pemilik rumah yang kuminta jangan kembali. Dan, aku harus memaksa peluk ini impas atas beberapa jarak yang terpangkas.

“Peluk aku, peluk, peluk, peluk”

Untuk kamu yang memilih terlelap lebih awal. Mari terlelap denganmu yang kini sudah bersedia menetap juga mendekap.

Monday, June 20, 2016

Kamu; Kita adalah hal-hal yang tak dimengerti rindu

Ada saatnya dimana kamu tidak tahu mau berkata apa, tapi juga tidak ingin percakapan ini terhenti begitu saja.

Begitupula aku. Begitupula kamu. Kita mungkin sama perihal menjaga percakapan ini untuk tidak selesai sampai di sini. Tetap mencoba membalas, tetap berharap terbalas. Aku tahu, mungkin kamu juga, ini tak lebih dari fase dalam sebuah percakapan yang membosankan. Bagaimana tidak? Kemarin kita bisa dengan asyiknya berada dalam sebuah tema tanpa pernah sekalipun rasa entah itu melanda. Aku menjadi hal yang menyenangkan bagimu dan kamu terasa menenangkan bagiku, pun sebaliknya. Aku tersenyum, kamu lebih tersenyum.

Begitupula aku. Begitupula kamu. Kita yang semakin tak terarah membuat semuanya seakan parah. Usia percakapan kita masih beberapa pagi, masih rentan terjangkit wabah kebosanan. Aku tak bisa pungkiri, kamu secara tidak langsung sampaikan kemonotanan ini. Aku menerima. Kamu pamit untuk pejamkan mata. Aku mempersilahkan dan kembali terjaga.

Begitupula aku. Begitupula kamu. Kita yang sedang berandai rindu ini kan temukan penyembuhnya. Bertemu. Duduk berdua. Sesekali saling menatap bersama percakapan yang patah-patah. Aku tersenyum, juga kamu. Tak mengapa kita hanya diam untuk hal yang selalu kita harapkan. Mata yang banyak mengambil alih percapakan. Kamu tahu? Bola matamu menatap seribu kali lebih indah.

Begitupula aku. Begitupula kamu. Kita yang sedang dikuasai rindu, membuat entah ini kapan saja, membuat perasaan ini berubah menjadi apa saja. Tapi aku mohon, kamu jangan beranjak pergi. Aku tahu kamu merasa bosan itu datang, tapi aku mohon. Aku juga tidak tahu. Maaf. Entah ini memang menyebalkan. Mungkin besok jika semesta berbaik hati, entah ini yang akan terusir pergi. Kamu tetap di sini, kembali tersenyum-senyum sendiri sepanjang hari.

Begitupula aku. Begitupula kamu. Kita adalah hal-hal yang tak dimengerti rindu. Titik dua kurung tutup untumu.

Kamu; Menyatakan mimpi

Seharusnya sore ini, aku sudah di depan rumahmu. Mengetuk pintu, menunggu jawaban. Lalu kamu membukakan pintu sembari tersenyum tak menyangka. Aku datang tiba-tiba. Kamu terkejut. Hingga tanpa disadari kamu menawarkan peluk atas segala rindumu. Aku mengambil tawaran itu dengan wajah menyenangkan. Kamu sudah kelewat mengutarakan rasa itu, sebab sebenarnya kamu menahan malu bercampur rindu.

Aku tertegun terdiam. Aku mengeja namamu namun tertahan, tak sempat terucap. Hingga akupun memejamkan mata perlahan. Kamu mendekat. Semakin dekat. Semakin jelas deru nafas di telingaku. Debar jatungku berdetak tak menentu. Aku rasa ini benar terasa. Kamu hanya berjarak setebal buku tentang cinta. Kembali mengeja namamu. Kembali aku terdiam.

Aku mulai berandai-andai kamu beserta angan yang harus kugapai. Kamu di sini saja, rayumu. Aku mengangguk mengerti. Mungkin ini juga bisa dikatakan balasan atas tidak perlunya alasan. Kamu rindu seketika bersambut hangat dengan pelukku. Kamu mendegap lembut, memeluk.

Aku membuka mata. Jelas, ini ruangan kamar, bukan di beranda rumahmu. Mimpi? Kurasa tadi aku tak seperti mimpi. Senyummu. Rona memerah wajahmu. Bola mata indah itu. Hangat peluk. Mimpi? Hmmm Aku bermimpi, ternyata pulas ini mengantarkanku menuju kamu. Sepertihalnya kamu bercerita perihal aku yang datang di mimpimu. Aku hanya menyesali, mengapa sesingkat ini? Eh? Lalu aku tersenyum lebar menahan ingatanku untuk lupa, kemudian beranjak mencuci muka.

Wednesday, June 15, 2016

Menuju apa itu kamu

Lalu kamu memilih aku untuk dijatuhi hukuman
atas senyummu semalam. 
Di langit-langit mulut
kamu menyimpan sesuatu.

Kamu menjelma menjadi sesuatu
yang aku cemaskan atas hari ini
juga kemarin.

Aku mengampu dua matamu sekaligus.
Tanpa paksaan dan melebihkan perasaan
menuju apa itu kamu
selebihnya berputar di antara percakapan

yang salah tingkah pada pagi
rupanya terjadi lagi
aku memberi tanpa kamu pinta
rasa demi rasa setiap gerak jemari menyentuh
menatap lama layar kesukaan kita
tidak ada penjelasan atau alasan
sebab hanya butuh jawaban sebagai balasan

Bahkan aku menuliskan kamu dalam
berisikan puisi sepasang hati
kembali pada mendung yang menunggu
kami sepakat! Aku, kamu akan terikat

Kamu juga berharap
tidak ada mengejar perihal lelah menanti.
Di dekat jendela senyum itu juga merekah
menjadi mekar bersambut rembulan
pagi lalu sore, siang terlewati.

Aku juga, membiarkan maaf bertumpu pada
setiap awal mata membuka
ini bisa kunikmati selepas lelap untukmu, untukku.
Menerima dengan cara yang kamu suka
tersenyum sendiri sembari melihat sekitar
tersenyum lagi tatkala tak bisa menahan lagi

Katamu aku sayang, kamu sayang. Entah ini
sudah bisa dikatakan perasaan atau lebih dari perasaan
Sejauh ini meski tak begitu memakai jarak.
Sejauh apa yang tak pernah kamu ukur
tumbuh merangkak seiringan bersama sejalan

Menuju apa itu kamu. Menyukaimu berakibat rindu.
Mempesona, sampai kamu juga merasa sama.

Kamu; Menikmati jeda

Menikmati jeda. Menikmati tanda-tanda. Menikmati apa saja. Mungkin hanya berbilang menit atau satuan waktu lainnya, kamu akan pulang. Berpuluh kali pandanganmu tak melepas dari jam dinding atau melirik ke arah sudut pojok kanan benda kesayangan yang senantiasa dalam genggaman. Kamu terus mengulang. Mengulang. Mengulangnya lagi. Hingga. Sampai pada waktu yang telah disepakati.

***

Air mulai jatuh dengan sendirinya, melewati ribuan langkah manusia yang dikejar waktu, didekap keraguan serta kecemasan yang melanda jiwa.

***

Kamu berdo'a. Kamu bahagia. Kamu bisa berhenti mengulangi apa yang terus terulang sebelum ini. Kamu merayakan dengan lahap, buas serta rasamu yang tak pernah puas.

Sebelum ini, kamu mengeluh ada yang sakit. Ada yang berusaha ditutupi untukmu jadi lebih baik. Kamu hanya bisa mengisyaratkan dalam simbol titik dua kurung tutup. Meski harus memaksakan bahwa belum waktunya mengantuk.

Sebelum ini, kamu sampaikan tidak apa-apa. Kamu biasa saja. Padahal demiku kamu jarang melakukan ini. Ini tidak biasa. Ini berbeda. Kamu memaklumi juga beberapa ada yang tersirat di hati.

Sebelum ini, kamu merasa masih, meski ada yang tersisih. Kamu menunggu, meninggalkan mereka yang merindu. Kamu beranjak dari tidurmu lalu tersenyum menanti balasanku.

Sebelum ini, kamu tidur, kamu bangun, kamu pergi, kamu ini, kamu itu, kamu sampaikan walau tidak seharusnya.

Sebelum ini, kamu tak pernah selepas ini menikmati jeda. Mengungkapkan rasa juga semua.

Monday, June 6, 2016

Kamu; Jatuh bersama gerimis

Kamu. Maaf untuk jatuhmu bersama gerimis sore itu. Maaf. Mungkin, kamu terkejut melihatku muncul secara tiba-tiba. Saling menatap. Salah tingkah. Kamu hilang arah. Goyah. Brukk grubah Terjatuh bersama gerimis.

Kamu. Maaf untuk jatuhmu bersama gerimis sore itu. Maaf. Aku juga tidak tahu harus apa. Aku hanya diam di tempat tanpa melepas pandangan kematamu. Ya, kamu juga berbalas menatap. Aku salah tingkah. Kamu mulai beranjak berdiri dari jatuhmu. "Kamu tidak apa-apa kan?" Pertanyaan bodoh! Kamu hanya mengangguk lalu menepi.

Kamu. Maaf untuk jatuhmu bersama gerimis sore itu. Maaf. Tidak ada yang luka darimu, mungkin. Kamu hanya terlihat menahan malu atas jatuhmu. Sebab sore itu banyak pasang kelopak mata menyaksikan secara langsung perihal kamu terjatuh bersama gerimis. Tidak menyakitkan memang hanya sedikit memalukan. Ya, aku juga malu. Malu mengakui. Aku juga jatuh bersama gerimis. Jatuh cinta.

Kamu. Maaf untuk jatuhmu bersama gerimis sore itu. Maaf. Alasanku bergegas pergi bukan karena aku tidak peduli. Sebab ada sebuah buku berjudul 'pulang' belum habis kubaca, kutinggal di sebuah tempat dengan perasaan takut akan menjadi basah. Kamu, bukankah itu sebuah alasan yang layak diterima? Mungkin jika kamu mendengar penjelasan itu tidak akan percaya. Kalaupun percaya, mulutmu langsung berkata, "menyebalkan"

Kamu. Maaf untuk jatuhmu bersama gerimis sore itu. Maaf. Aku hanya berani berbicara dalam hati. Saat kamu jatuh - Aku segera menolongmu - Menuntunmu ketepian - Sedikit berbosa-basi - Meminta maaf - Berkenalan - Lalu kuantar kamu pulang. Hanya dalam hati.

Kamu. Maaf untuk jatuhmu bersama gerimis sore itu. Maaf. Aku juga jatuh bersama gerimis. Jatuh cinta. Meskipun lupa mukamu. Meskipun tak tahu arah pulangmu. Meskipun tak tahu harus berbuat apa saat itu. Meskipun jatuhmu karenaku. Meskipun jatuhku karenamu. Meskipun kamu-aku sama-sama terjatuh bersama gerimis sore itu. Lalu apakah kamu juga jatuh cinta? saat terjatuh bersama gerimis sore itu? Jatuh cinta? Apakah kita kan berjumpa? Walau saling berlalu bersamanya lupa?

Monday, May 23, 2016

Malam perpulangan

Bagiku pulang adalah kembali tersesat bersama buku-buku. Tersesat. Dari halaman ke halaman, judul ke judul. Serupa menyusuri beranda hingga halaman belakang rumahku. Pulang juga, bebas memaikan lagu melankolis sejak malam hari sampai pagi. Serupa berbicara sepuasnya kepada apa saja dalam rumah kita, rumahku. Pulang. Pulang.

Sesederhana kamu mengambil pensil warna, mengarang beberapa mimpimu, mendaur ulang alasan-alasan membaurnya hingga seragam dan sedikit teratur. Menulisnya lalu dibaca. Membaca apa yang tertulis. Hingga. Merilisnya supaya bisa terbaca. Apa saja tentang berbagai hal. Tentang tetangga. Tentang rumahku.

Malam ini, malam perpulangan. Mungkin beberapa rasa, perasaan akan kembali. Seperti rasa malas. Rasa sayang yang tak sempat terbalas. Rasa benci juga dendam. Rasa sesak berhari-hari yang diam terpendam. Juga lainya. Mereka juga pulang. Pulang. Pulang.

Pulang. Pulang. Lalu pulang. Lalu hilang. Lalu petang. Lalu malam. Lalu pulang. Terulang. Mengulang. Terulang. Lalu pulang. Pulang. Pulang. Setelah jauh berpetualang. Pulang. Pulang.

Aku pulang senang bukan kepalang. Rumah, ramah beserta banyaknya kata terserah. Pulang. Pulang.

Thursday, May 12, 2016

Kamu; Aku adalah pengecualian


Kamu. Aku adalah pengecualian. Rasa hambar yang terakumulasi oleh seyummu yang lebar, bola mata yang tetap teduh kupandangi, juga mimik lupamu yang sering menggantung nanggung.

Kamu. Aku adalah pengecualian. Terabaikan olehmu sekarang mejadi hela nafas panjang. Malam-malam panjang. Perasaan yang sangat melelahkan. Betapa tidak? Aku selalu, terlalu terbawa perasaan. Mengartikanya secara berlebihan. Berharap kamu memang menghindar adalah upaya yang menjadikanmu tetap terlihat wajar. Karena kamu memang sengaja menghindar. Aku tersadar juga terhindar. Kamu memberi jarak tersendiri. Aku mengamini, tanpa pernah kita berdiskusi sebelumnya tentang ini. Tentang ini.

Kamu. Aku adalah pengecualian. Minggu-minggu terburuk, membuat rindu ini semakin membusuk. Tak lagi dapat dikenali. Imajinasi? Halusinasi? Mimpi? Atau semacam khayalan tingkat tinggi?

Kamu. Aku masih saja terkesima oleh cara kerja perasaan ini. Masih saja. Besok atau lusa yang mereka janjikan tak kunjung datang: Hari besok kan lebih baik. Hari besok kan lebih bahagia. Aku menerima. Menerima. Membiarkan apa saja masuk dan kupaksa membaik. Lekas sembuh, sembuh, sembuh dan membaik.

Kamu. Aku bisa saja terlihat biasa saja namun belum terbiasa. Maafkan, pesan kamu masih juga tersimpan. Semua. Kuhapus? Tidak. Aku harus memaksa hati menerima bukan melupakan. Meski sulit. Meski pahit. Meski sakit.

Kamu. Aku. Malam-malam yang panjang. Bersamaan dengan bintang jatuh; harus berapa banyak lagi permohonan atasmu perihal sembuh?

Kamu. Aku kambuh!

Saturday, April 16, 2016

Curhat buat Ibu (13)

Ibu, selamat ulang tahun.

"Ibu ulang tahun hari ini ya?" Ibu bersikap biasa saja, ketika tanyaku barusan.

Bagi Ibu, hari ulang tahun itu biasa saja. Seperti halnya besok hari sabtu atau minggu. Semacam itu. Biasa saja. Tidak perlu ada perayaan. Tidak perlu ada kejutan. Tidak perlu ada hadiah. Tidak perlu ada harapan yang dipanjatkan seusai meniup semua lilin hingga padam. Tidak perlu ada lagu yang ramai-riuh yang disenandungkan. Tidak perlu ada.

"Tidak akan ada yang memilih semua itu" jelas ibu. Meski hanya terpekur, mengenang hari dalam lalu.

Ya, bagi Ibu, Bapak, Mas dan Adek saya. Perihal merayakan momentum kelahiran adalah hal yang jarang. Jarang kami diskusikan sampai lelah. Jarang.

Sebagai apa yang aku biasa memohon. Memohon; semoga apa yang ibu semogakan lekas disemogakan. Semoga saja.

Ibu, seharusnya ucapan ulang tahun ini bisa kunikmati setiap hari. Sebab kata seseorang, kita bisa berulang tahun setiap hari.

Ibu, untuk hari ini dan selanjutnya, biarkan saja, biarkan saja.

Thursday, April 7, 2016

Curhat buat Ibu (12)

Ibu, beberapa kisah mungkin ada pelanginya. Termasuk aku yang sengaja menyuruh gerimis berhenti tempo hari.

Ibu, mengenangmu dalam puisi sudah menjadi kebiasaan lamaku. Beberapa puisi pernah aku bacakan untukmu secara tak langsung dan kurasa Ibu tidak menyadarinya.
Ibu, bukankah cara bicaraku sendiri sudah mempuisi? Membuatmu bingung tak mengerti?

Ibu, aku selalu tersenyum ketika ada gerimis. Sebelum dan sesudah gerimis. Tapi entah kenapa, tempo hari gerimis merengkuh secarik kertas yang berisikan puisi untukmu dariku? Membuatnya basah tak lagi terbaca.

Ibu, seharusnya Ibu membaca atau mendengarnya lebih dulu. Puisi tentang cinta atas segala pertanyaan Ibu perihal Dia.

Monday, March 7, 2016

Kamu; Baik

Sekarang, Baik adalah kesalahan fatal. Baik berubah menjadi semacam hal yang tidak disukai oleh beberapa bahkan kebanyakan orang. Baik dianggap sebagai kelainan genetik yang sulit diterima semua orang. Dianggap aneh. Ya, Baik dianggap aneh. Bahkan-bahkan lagi, 'terlalu baik' adalah acuan untuk segera dijauhi. Baik adalah kalimat larangan. Jangan! Tidak boleh!

Sunday, February 21, 2016

Kamu; Duapuluh satu

Kutemui kamu menganggap hal ini semata-mata hanya perasaan tidak enak yang sudah terlanjur tak terukur. Tak mengapa, sebab kegemaranku saat ini adalah menerima. Menerima dengan indah. Seperti kisah yang pernah terbaca waktu lalu.

Duapuluh satu, Aku tak ingin merusak bahagiamu dengan memaksa menanyakan apa-saja yang membuat hilangnya rasa kegembiraan suasana hati.

Duapuluh satu, biarkan kamu bersenang-senang meskipun rasa canggung itu selalu datang. Biarkan saja pagi teduh sampai siang lalu sore hingga malam mendung kemudian turun hujan. Biarkan. Biarkan kamu sempat bahagia dalam sehari. Biarkan aku juga disini, tetap mencoba seolah sibuk. Tetap bisa berlama-lama bersama buku. Tetap tanpa tetapi yang bersedia menunggu.

Duapuluh satu, kamu (akurasa) bukan lupa akan hal ini aku pun tak meminta mengingatnya. Sebab kamu terlupa dan benar-benar tak pernah tahu atau berusaha untuk tidak tahu.

Mimpi? Ah sial. Seharusnya aku tidur lalu pulas. Bukan terjaga sampai malas.

Duapuluh satu, selepas hujan reda, aku akan tersenyum bahagia.

Tuesday, February 9, 2016

Kamu; Menerima Rindu

Aku hanya ingin berantakan malam ini. Membiarkan semua berserakan tak karuan menjadikan aku urakan. Setidaknya berilah aku imbalan atas segala lelahku merindumu seharian. Menghabiskan banyak taruhan dalam hati yang tak terkendalikan.

Kepada langit kamar, lampu redup dan tujuh pakaian kotor. Kalikan saja kamu dengan setiap malamku, berapa banyak rindu yang harus aku terima dengan sesak dalam ratusan-minggu?

Lalu kusimpan saja pemalas dalam sangkarnya. Menunggumu dengan perasaan gelisah. Memulai sesuatu dengan serba salah. Kemarin kutemui bibir merekah karenamu yang menyempatkan waktu untuk sejenak singgah. Juga mata yang mengaku jatuh hati menerimamu, mempersilahkanmu mengisi penuh pandangannya dengan indah.

Kata hanya bertempat dalam hati. Membuatnya menjadi yang terkatakan adalah cerita bosan. Kamu terus terulang-ulang. Alasanku membungkam karena takut terbayang hingga larut malam. Habisnya waktu lamunanku tak jauh dari meramu lagi kata ini untukmu. Membuatnya menyusun kembali apa yang aku rasa setiap hari. 
Mengenangmu dalam masa lalu. Mendambamu dalam masa semu.

Terus, teruskan saja demi pelukan gelas atas telapak tangan. Aku relakan rindumu menikam sesak dalam malamku bersentuhan. Mendekapnya walau kosong. Mendekapnya walau teramat dingin. Mendekapnya meskipun masih terlalu panas. Dan tetap mendekapnya hingga terasa begitu hangat. Gerimis tiba dan aku pun bahagia. Menerima rindumu yang beranjak menjadi lagu kesukaanku.

Kamu dengan mudahnya menatap mata tapi masih enggan saja menetap lebih lama. Berhenti kepada tipuan hatiku sendiri. Aku masih menatapmu dari dekat, menukar rindu ini hingga hilang ditelan persimpangan jalan. Kuasaku harus kembali menatapmu dari jauh, dari belakang layar. Menerima kemungkinan yang jauh dari harapan. Merelakanmu yang hanya sebatas angan.

Sekali lagi, aku hanya ingin berantakan, membujuk hatiku sendiri untuk lekas lapang menerima kenyataan.

Sunday, January 31, 2016

Februari baru sehari

Hai Februari? Akhirnya datang juga. Aku mengutuk Januari dengan segala alasanku. Menyibukkan diri melewatinya. Membuat sibuk saja. Berharap Januari berlalu begitu saja, berakhir tanpa permisi tanpa ada kata "sampai jumpa lagi", hanya "selamat tinggal Januari".

Hai Februari? Maukah berbaik hati mendamaikan hari-hari? Membujuk rasa malas ini untuk segera berlalu pergi? Dan menyatakan perasaan ini sekali lagi. Eh, atau aku urungkan saja niat yang satu ini?

Hai Februari? Ah, padahal ini baru sehari. Tapi aku meminta itu-ini. Maaf Februari aku memang sedikit banyak telah menanti.

Hai Februari? Lihat nanti, lihat besok.

Thursday, January 28, 2016

Besok Libur

Perihal urusan gerimis yang tak bertahan lama. Pelangi yang enggan memaksa tercipta. Sore yang entah kemana. Dan para manusia yang hanya diam disitu saja.

Perkenankalah aku besok untuk libur. Meliburkan rindu untukmu. Meliburkan rasa lelah menunggu. Meliburkan untuk semua maumu. Dan meliburkan semua alasan atas segala malasku.

Besok libur. Besok juga akan kubeli hujan itu. Dan Akan kubuatkan pelangi setelah hujanku reda untukmu.

Monday, January 18, 2016

Kamu; Es tehku kopimu

Jika es tehmu terlalu manis, tambahkan saja dengan kenangan kita, barangkali rasanya bisa serupa kopi. Pahit memang, tapi setidaknya masih sanggup dinikmati sampai kosong gelasmu.

Bukankah rasa hanyalah kamuflase dari hati? Bukankah orang yang mengaku jatuh cinta menganggap tahi kucing rasanya coklat? Bukankah orang yang terlanjur patah hati merasa kopi itu segar sedangkan es teh itu pahit? Bukankah ini hanya soal rasa? Atau aku yang sudah gila?

Aku suka kamu. Kamu suka dia. Dia suka orang lain.
Kita sama-sama jatuh cinta tapi tidak sama-sama dicinta. Kita juga sama-sama patah hati tapi tidak saling memahami.

Aku suka es teh. Kamu suka kopi. Kita tak perlu bertukar gelas hanya untuk merasakan keduanya membekas dihati bukan?

Jadi, pada bagian mana yang harus lebih aku perjelas?
Bukankah sudah terlihat begitu jelas?

Sekali lagi, apakah ini hanya soal rasa? Atau kamu yang juga sudah mulai gila?

Friday, January 15, 2016

Warung Murung; Malam ketigabelas dibulan januari

Malam ketigabelas dibulan januari. Warung Murung telah buka kembali setelah dua hari meliburkan diri. Seperti biasa, beberapa pengunjung datang lalu-lalang lalu pulang kemudian kembali lagi, lalu pergi, begitu terus terulang-ulang lagi dan lagi.

***

Dari jauh sebelum pintu masuk, dengan langkah kaki serasa bimbang, Dia mulai mendekati Warung Murung, masuk. Suasana malam itu sepi, beberapa pengunjung sudah lama pergi hanya ada Dia. Mengamati sekitar lalu mencari tempat duduk. Seorang pelayan kemudian mendekati, menyodorkan kalimat bosa-basi selamat datang dan menu andalan, padahal pilihannya hanya dua menu saja dan sedikit tambahan (bukan minuman atau makanan). Dia kemudian menyerahkan kertas berisi pesanannya selang tiga menit semenjak Si pelayan berdiri menunggu disisi. Dalam kertas itu Dia memesan; satu teh hangat, dua puluh menit lagu melankolis dan selembar kertas beserta alat tulis.

Enam langkah pelayan meninggalkan meja, langsung terdengar lagu melankolis pesanannya. Lagu pembuka dari Pandai Besi berjudul melankolia. Dia membenahi duduknya agar terasa lebih merasa apa yang seharusnya dirasa bukan dilupa.

Belum sampai lagu melankolia habis, pesanan teh hangat pun datang berikut dengan selembar kertas dan alat tulis. Dia sedikit tersenyum kemudian menggeleng ketika Si pelayan menanyakan apakah mau ditemani bercerita atau hanya duduk saja. Dia ingin sendiri, Si pelayan lalu pergi.

Terkadang ada pengunjung yang minim berbicara apalagi sampai meminta seseorang untuk menemaninya  bercerita dan salah satunya; Dia.

Sebelas menit sudah Dia terdiam tak menyentuh pesananya sekalipun, hanya memandangi kosong selembar kertas tadi. Diam. mungkin sedang meresapi lagu berikutnya; 'sebelah mata' dari Efek Rumah Kaca. Sesekali membuang pandangan entah kemana akan terbuang.

Lagu yang masih memainkan irama melankolisnya, dimenit kedelapan belas Dia beranjak pergi. Hanya meninggalkan selembar uang lima puluh ribu juga selembar kertas yang sepertinya tak lagi kosong. Masih dengan langkah yang bimbang keluar, meninggalkan Warung Murung.

Si pelayan menghampiri meja, mengambil uang dan membersihkan debu yang sedari tadi menempel. Melirik lalu melihat isi dalam kertas tersebut.

________

Perihal hal perih bersama senandung lirih, bukan sekisah kasih putih tapi ini teramat perih, sedih.

Januari, kamu ingatkan beberapa ratus kali lagi perihal hal perih ini? Tidak bisa kah kamu memberi jeda satu atau dua masa lagi, bukan dalam sehari tiga kali? Oh, Januari, rupanya kamu masih saja menyimpan perihal hal perih ini dengan rapi, dengan begitu mendetail sampai-sampai rasa sesak, rasa menikam luar biasa malam itu masih terasa sama kuterima dengan apa adanya, dengan sedikit terluka. Januari.

Januari, masih juga kamu abadikan suasana minim cahaya malam itu, kamu hadirkan pula perihal hal perih ini setiap aku bersiap untuk tertidur. Sesak, Januari, sesak.

Apa rasanya januari? Bagaimana kamu begitu teganya melakukan kejahatan itu? Kamu kirimkan perihal hal perih ini, kamu sampaikan, kamu sajikan, kamu senandungkan, kamu isyaratkan tepat, setia menemani pagi-malam-soreku. Sesak, Januari, sesak.

Januari, apakah Aku harus menggantikan peranmu sebagai pembuka awal tahun? Apa, apa Aku harus meloncatimu, melewatkanmu dengan tertidur dalam kurun waktumu? Atau Aku yang akan memecatmu dari tatanan yang sudah ada? Januari? Tapi, apakah mungkin dengan begitu perihal hal perih ini berlalu begitu saja? Atau malah semakin menganga membabi buta? Ah, sialan!

Aku yang membencimu karena ulah perasaan ini yang begitu khusyuk merayakan perihal hal perih ini. Mendo'akan lalu mengumpatnya dengan berbagai cara. Selalu dalam hati berkata; sesak, januari, sesak. Perasaan yang merekam momen perihal hal perih ini, menyimpannya dengan sakit dan lupa cara menghapusnya, melupakannya.

Perihal hal perih ini bersemayam dalam hati sampai saat ini. Kepadamu perempuan patah hatiku.

_________

Si pelayan mengambil kertas itu, melipatnya lalu menyimpannya disaku kemeja. Bergumam, berharap Dia kan kembali meneruskan patah hatinya lagi.

Saturday, January 2, 2016

Warung murung


Mungkin seharusnya ada tempat seperti ini. Dimana  manusia patah hati, manusia depresi, manusia putus asa, manusia sedih manusia penerima harapan palsu ingin murung disuatu tempat tapi dengan cara yang berkelas, bukan hanya sekedar mengurung diri dalam kamar.

Dimana Si Pemurung bisa memesan menu yang disuguhkan dengan sederhana. Menu yang sangat minim, hanya teh hangat dan beberapa varian kopi. Ya, hanya itu. Sembari menunggu pesanan, Si Pemurung bisa sesuka hati merequest lagu melankolia dan meminta kepada seseorang untuk menemaninya untuk diajak bicara mencurahkan isi hati atau hanya sekedar menemani duduk saja tidak lebih.

Si Pemurung bisa berlama-lama disini tanpa harus memikirkan waktu, karena tempat ini dibuka selama 24 jam setiap hari tanpa pernah tutup terkecuali kalau yang punya juga sedang murung.

Disini juga para Pemurung diajak untuk memurung dengan elegan. Memerunglah dengan apa yang kamu sukai karena disini cukup terfasilitasi. Memurunglah dengan mencoba untuk menulis apa yang ingin ditulis. Memurunglah dengan mencoba bernyanyi, bermain gitar atau yang lainnya. Memurunglah dengan mencoba memulai menggambar atau mencoret-coret semaumu. Memurunglah dengan mencoba menceritakan dongengmu lalu merekamnya. Memurunglah dengan mencoba mengambil obyek disekeliling. Memerunglah dengan diam sembari melamunkan apa saja. Memurunglah, karena murung itu sungguh indah.

Dan karena tempat seperti ini belum ada, belum tersedia. Maka biarkanlah, ciptakanlah warung murungmu sendiri, dengan khayalanmu, dengan imajinasimu yang begitu luar biasa.

Karena sekali lagi, murung itu sungguh indah.