Thursday, September 3, 2015

Curhat buat Ibu (9)

Ibu, aku bahagia sudah bisa mengungkapkannya. Walaupun aku tak meminta langsung balasannya.
Ibu, pagi memang waktu yang sempurna untuk merindukannya. Lain dengan malam. Malam begitu menyiksa ketika rindu itu tiba. Bahkan aku masih terjaga hingga pagi buta.
Ibu, aku mulai terbiasa tanpa pelangi. Karena saat ini mendung pun tak terlihat apalagi awan pekat, gerimis juga masih terikat. Saat ini, begitu indah, begitu cerah.
Ibu, Sebenarnya aku urung untuk menulis ini, untuk menceritakan padamu. Urung sekali. Aku bahkan tidak tahu mengapa. Tentang tulisan ini sudah terabaikan, mengendap beberapa hari, mungkin sudah memasuki hitungan minggu. Dan aku mendadak baik pada hal yang begitu kubenci dan kudendam.
Ibu, mungkin kata “entah” masih berada di posisi teratas yang aku sukai saat ini. Kata ini memang cerdas dan juga pas untuk segala tanya dan jawaban.
“entah?”
“entah”
Ibu, aku lebih sering bangun pagi sampai seminggu ini. Entah? Aku juga tak tahu. Ibu juga tahu, kemarin-kemarin aku lebih sering terlihat masih memaksa untuk terus tertidur. Tertidur dan terus tertidur. Entah!
Ibu, marahi aku untuk urusan sarapan pagi saja, tak usah menengok kamarku lagi saat pagi, tenang Bu, aku sudah bangun, juga sudah berdo'a juga sudah bersapa “pagi?” sekali lagi, aku tak meminta langsung balasannya.
Ibu, begitupun hari ini, pagi ini. Aku biasa saja tetapi selalu istimewa. Aku entah apa? entah bagaimana? Aku terbangun dengan sendirinya. Keajaiban. Mungkin malamnya aku sudah melepaskan, sudah menceritakan, sudah menumpaskan kecemasan, kegelisahan, ke-ke-lainnya. Aku bisa setenang, selega ini sampai aku bisa tertidur. Tertidur. Tertidur. Tertidur. Tidur. Meskipun sampai pukul dua, tiga, bahkan pula hingga lima. Karena tertidur bisa untuk menidurkan bahkan meniduri rindu ini sendiri.
Ibu, mungkin besok aku lebih sering tidak tahu, kalau aku telah dengan sadar menceritakan ini, dan ketika kau bertanya. “cinta?”  “entah, Bu”
Ibu, selamat pagi?

No comments:

Post a Comment