Sunday, February 21, 2016

Kamu; Duapuluh satu

Kutemui kamu menganggap hal ini semata-mata hanya perasaan tidak enak yang sudah terlanjur tak terukur. Tak mengapa, sebab kegemaranku saat ini adalah menerima. Menerima dengan indah. Seperti kisah yang pernah terbaca waktu lalu.

Duapuluh satu, Aku tak ingin merusak bahagiamu dengan memaksa menanyakan apa-saja yang membuat hilangnya rasa kegembiraan suasana hati.

Duapuluh satu, biarkan kamu bersenang-senang meskipun rasa canggung itu selalu datang. Biarkan saja pagi teduh sampai siang lalu sore hingga malam mendung kemudian turun hujan. Biarkan. Biarkan kamu sempat bahagia dalam sehari. Biarkan aku juga disini, tetap mencoba seolah sibuk. Tetap bisa berlama-lama bersama buku. Tetap tanpa tetapi yang bersedia menunggu.

Duapuluh satu, kamu (akurasa) bukan lupa akan hal ini aku pun tak meminta mengingatnya. Sebab kamu terlupa dan benar-benar tak pernah tahu atau berusaha untuk tidak tahu.

Mimpi? Ah sial. Seharusnya aku tidur lalu pulas. Bukan terjaga sampai malas.

Duapuluh satu, selepas hujan reda, aku akan tersenyum bahagia.

Tuesday, February 9, 2016

Kamu; Menerima Rindu

Aku hanya ingin berantakan malam ini. Membiarkan semua berserakan tak karuan menjadikan aku urakan. Setidaknya berilah aku imbalan atas segala lelahku merindumu seharian. Menghabiskan banyak taruhan dalam hati yang tak terkendalikan.

Kepada langit kamar, lampu redup dan tujuh pakaian kotor. Kalikan saja kamu dengan setiap malamku, berapa banyak rindu yang harus aku terima dengan sesak dalam ratusan-minggu?

Lalu kusimpan saja pemalas dalam sangkarnya. Menunggumu dengan perasaan gelisah. Memulai sesuatu dengan serba salah. Kemarin kutemui bibir merekah karenamu yang menyempatkan waktu untuk sejenak singgah. Juga mata yang mengaku jatuh hati menerimamu, mempersilahkanmu mengisi penuh pandangannya dengan indah.

Kata hanya bertempat dalam hati. Membuatnya menjadi yang terkatakan adalah cerita bosan. Kamu terus terulang-ulang. Alasanku membungkam karena takut terbayang hingga larut malam. Habisnya waktu lamunanku tak jauh dari meramu lagi kata ini untukmu. Membuatnya menyusun kembali apa yang aku rasa setiap hari. 
Mengenangmu dalam masa lalu. Mendambamu dalam masa semu.

Terus, teruskan saja demi pelukan gelas atas telapak tangan. Aku relakan rindumu menikam sesak dalam malamku bersentuhan. Mendekapnya walau kosong. Mendekapnya walau teramat dingin. Mendekapnya meskipun masih terlalu panas. Dan tetap mendekapnya hingga terasa begitu hangat. Gerimis tiba dan aku pun bahagia. Menerima rindumu yang beranjak menjadi lagu kesukaanku.

Kamu dengan mudahnya menatap mata tapi masih enggan saja menetap lebih lama. Berhenti kepada tipuan hatiku sendiri. Aku masih menatapmu dari dekat, menukar rindu ini hingga hilang ditelan persimpangan jalan. Kuasaku harus kembali menatapmu dari jauh, dari belakang layar. Menerima kemungkinan yang jauh dari harapan. Merelakanmu yang hanya sebatas angan.

Sekali lagi, aku hanya ingin berantakan, membujuk hatiku sendiri untuk lekas lapang menerima kenyataan.