Tuesday, December 30, 2014

Curhat buat Ibu (2)

Ibu, kenangan ini masih tersimpan indah. Seketika tidak sengaja melihat tulisannya, rasa akan cinta itu menggema, menyebar kesegala arah.

Ibu, kali ini aku tersandar dari lamunan. Tertikam belati itu sakit. Apalagi sampai tertimpa tangga. Tapi Bu, Aku......... ah sudahlah lupakan.

Ibu, sesekali benci itu datang menjemput perasaan yang indah itu. Aku menjadi muak dengan masa lalu. Sejurus kemudian mulai memerankan tokoh antagonis. Tapi Bu........ itu hanya sesekali.

Ibu, entah sejak kapan aku mulai mengenalnya, mulai memperhatikan setiap hal kecil dalam kesehariannya, mencoba menebak - nebak apa yang mau dia bicarakan. Ibu, aku pernah merasakn rindu itu ada dan begitu nyata. Tapi Bu..........

Ibu, sebatas kewarasanku. Aku menanyakan kabarnya sore ini, atau memastikan dia baik - baik saja selama ini. Tapi Bu ..........Cara dia membalasnya.......... Ah, coba Ibu ikut serta melihat.

Ibu, apakah inspirasi itu benar-benar ada? Aku mencarinya, sempat menemukannya. Tapi Bu, itu hanya sesaat. Belum sampai aku berdiri Dia telah pergi.

Ibu, senja kali ini aku mengalah pada realita. Aku hanya punya khayalan yang menenangkan diriku sendiri. Aku lelah Bu. Ajari aku mendekap hangat tubuhmu. Bu, sekarang aku tahu mencintai tak seindah bermimpi.

Ibu, aku ingin pulang sebelum senja itu hilang berganti malam. Aku takut akan malam. Bintangku sedang malas berpijar. Aku tak tahu arah pulang Bu.

Monday, December 15, 2014

Sesaat Setan tersesat

Setan menjamah alam semesta
Merapikan dasinya lalu bekerja*

Ketika Si patah hati lupa

Biasanya setiap malam minggu di bulan Januari Si patah hati berkolaborasi dengan Gerimis, bersenandung mesra-romantika ala mereka. Sungguh teramat manis suasana malam minggu mereka. Malam mingguku, ah sudahlah. Lupakan. Absrud.

***satu bulan kemudian***

Cuci muka dulu sana!  Jangan tutup mukamu pakai bantal kumal itu!

***Oh Iya ya, ini delapan belas februari***

Nama saya Ape, sudah dua dekade atau dua setengah windu yang lalu terlahir. Dan masih seperti ini, eh seperti itu.

Berdiri dihadapan cermin
Berdialog seperti biasa*

Melanjutkan lagu yang terhenti oleh waktu. Mendampingi langkah yang terhambat oleh gerak.


*hanya simbol bintang

                          

Sunday, December 14, 2014

First morning at Boarding school

Aku ingat pagi itu...

Ini pagi buta! Langit masih diterangi rembulan, terlihat cerah begitu indah. Sebelum sang fajar terlihat, embun masih menetes. Dengan sengaja udara dingin meringkuk masuk dalam selimut lelap tidurku. Ini pagi buta! Indraku belum berfungsi sempurna sepagi ini, tapi beberapa langkah kaki kudengar sayup berjalan melintas, obrolan kecil menyertai. Sirine pertanda untuk segera bangun pun mulai bergema. Dengan segala keterbatasanku perlahan mulai membuka kelopak mata ini.

Dimana ini?

PLAKK!!

***

Beberapa orang yang dipercaya, ditugaskan untuk membangunkan setiap nyawa yang masih terlelap mulai beraksi, dari suara-suara yang menyumbat
telinga, pukulan keras terarah
kepintu, hingga belaian halus menyentuh bagian tubuh yang sensitif terhadap
sentuhan. Tapi hanya desisan kemalasan yang keluar. Suasana yang harus dimaklumi kerena itu baru pukul setengah empat. Walaupun sebagian nyawa sudah ada yang terbangun. Manusia
yang disebut Pengasuh itu hanya
menggeleng-gelengkan kepala

Ayo semua bangun!!

Suara keras membuncah, memecah tetesan embun seketika. Sontak siapapun yang mendengarnya pasti langsung terkejut dan sebagian akan terbangun dengan sedikit sebal.

Arrghh.

Bagaikan sebuah robot berbentuk zombi yang sudah direka sedemikian rupa, tubuh ini mengikuti irama yang ada. Berjalan sempoyongan keluar dari ruangan mimpi menuju pusat suara yang menggema indah panggilan dari Tuhan. Menuruni tangga, menyebrangi selokan, melewati lorong sekolah (sesekali menyenggol dinding), membungkuk memberikan hormat tatkala berpapasan dengan yang pantas disegani. Jauh perjalan pagi ini, seperempat jam (mungkin) untuk sampai dipusat suara itu. Ini tempat suci. Bersuci dan berdo'a.

***

Ini hal baru bagiku, Si pemalas kurus bisa bangun sepagi ini. Hebat! Meskipun harus dengan susah payah melumpuhkan selimut lelap tidurku. Mulai pagi ini, Iya pagi ini rutinitasku akan berubah jadwal, tidak seperti kemarin. Yeah! Sebuah konsep kebiasaan terstruktur untuk awal yang baru dan lebih baik. Deretan kegiatan padat yang siap menanti.

****

Aku ingat sekali pagi itu.....

Tangan ini mengadah, bibir ini berucap do'a, mata ini berkaca-kaca, hati ini bertasbih. Meminta kepadaNya untuk yang terbaik.

Dear Ibu

Kamis, 23 Oktober 2014

Ibu, untuk kali pertama gerimis menyapaku dengan keadaan gelap. Mungkin dia ....? Ah, Aku sendiri malas memikirkannya, merangkai milyaran kemungkinan itu menjadi kata - kata atau sekedar opini belaka. Singkat kata itu adalah cerita lama, aku bosan!

Ibu, aku pernah menulis puisi untukmu. Tapi, aku tak pernah ingat dimana kenangan itu tersimpan.

Benci hilang ingatan

Aku lupa kata sandi
Lupa akan adanya isyarat
Lupa atas batasan batasan

Pulanglah
Aku sudah malas mencari
Sedemikian ini kah?

Ingatan itu gelap
Tertikam malam tumpul
Sepertinya sudah selesai
Kelas kosong beralasan

Aku disini, diruang tengah
Menunggumu kembali

Monday, November 3, 2014

Curhat buat Ibu

Ibu, pagiku hilang dalam sekejap bahkan tak mengenalnya secara utuh. Hanya sekedar membuka mata beberapa detik sejurus kemudian terlelap hingga matahari meninggi.

Ibu, menunggu menyudutkan ego sembari mematahkannya. Untuk kali ini reruntuhan langit menyuruhku diam. Tetap disini dibawah teduh penantian.

Ibu, Aku ingin pulang sebelum senja itu gelap tertikam malam. Aku takut. Bintang petunjukku pulang sedang malas bersapa denganku. Aku.......

Ibu, sampai malam ini. Aku masih terperangkap, belum bisa keluar dari rasa “nyaman” ini. Sesampainya pagi, mungkin aku masih menarik selimut lelap tidurku. Aku melupa atas sesalku semalaman suntuk. Aku ..... Aku lelah Bu. Aku ingin tidur pulas malam ini. Menikam diri dengan sengaja, sesekali rindu itu kembali pulang.

Saturday, September 6, 2014

Raja baru

Memanggil singa untuk menghadap
Ku dapati dia melepas tahta
Rembulan senandika
Sayap malaikat melindungi

Disini perdaban lama tutup buku
Isi dalam pigura baru bersumpah
Kerajaan langit mencatatnya

Selamat tidur sephia

Selamat tidur Sephia, semoga cepat kamu lupakan dia. Iya, dia yang menganggap kamu hanya kekasih gelapnya. Dia yang sanggup melupakan kamu bahkan meninggalkanmu. Hey Sephia! Dia bukan kekasih sejatimu. Kamu hanya kekasih yang tak terungkap.

Malam ini, Dia takkan datang Sephia!. Dia mencoba berpaling sayang dari cintamu. Malam ini juga, Dia takkan pulang. Tak usah kamu mencarinya, demi cintamu. Sephia, jangan pernah panggil namanya. Bila kalian bertemu lagi dilain hari. Hadapilah ini, kisah kalian takkan abadi.

Selamat tidur sephia

Saturday, June 21, 2014

Senja dibalik jendela

Simpan pesan ini
Kemana kau tahu?
Peluk aku sore ini
Jawaban dibatas pantai

Terakhir terlihat pupus
Tak ada bunga terakhir

Tetapi, diam itu indah
Duduk diatas pasir
Didepan deburan ombak
Dibawah langit sore
Menatap senja

Ah, menyebalkan
Aku kan hanya dibalik jendela
Dengan tatapan dinding kusam
Menyeringai

Thursday, May 1, 2014

Kamu; Mungkin ini rindu

Mungkin kamu lagi terlelap,
memimpikan pelangi dalam
lelapmu, menimbun ingin dalam
harapmu.

Mungkin juga dengan mata yang
masih terbuka. Kamu sedang
menyusun sebuah rencana jenius.
Penuntun masa depanmu,
pemutus masa kelammu.

Dan mungkin dengan kombinasi indramu. Kamu sedang terpusat, melahap buas halaman demi halaman buku. Menumpas keras ketidaktahuanmu.

Dan mungkin juga dengan suasana hatimu malam ini. Kamu sedang bersenandung lirih. Menyatakan rasa dalam irama.

Atau mungkin kau hanya terdiam
diberanda atau sekedar
memanjakan mata dengan
sinema.

Mungkin aku berlebihan menerka
apa yang sedang kamu rasa.

Mungkin juga sebaliknya.

Sunday, April 27, 2014

Kamu; Supercalifragilisticexpialidocious

Kamu
Setiap pijakan tak terlihat
Menempatkannya pada posisi terindah
Tepat dalam sebuah nada

Kamu
Inspirasi mempermudah hidup
Mempercepat langkah kaki
Alasan terbesar untuk tegar berdiri

Kamu
Terimakasih untuk setiap kesalahan
Menciptakan dimensi penyesalan
Merapikan diri dalam cermin

Kamu
Hidup ini sudah bahagia
Dengan pemahaman baik
Pertanyaan semu mulai temukan jawaban

Kamu
Perasan ini tak terbantahkan
Membumi dalam Aku
Hanya dalam hati

Kamu
Langitku kembali perlihatkan bintangnya
Petunjuk pulang, seandainya tengah tersesat

Kamu
Supercalifragilisticexpialidocious

Thursday, April 10, 2014

Melancholia Syndrome

Peraduan cahaya terang diantara nestapa dan derita dalam secerca udara hirup pikuk pagi ini. Mengalunkan kharismatik seorang ksatria yang akan memenangkan pertempuran pada episode hari ini.

***

Hari ini, ketika semuanya telah terbangun dari  mimpinya. Kau hanya memberi isyarat kemalasan, menarik cepat selimut  lalu tertidur kembali.

Didalam kamar, dibawah kesadaranmu dalam gelapnya ruang, sebagian darimu angkat bicara. “Wajahmu tak cerminkan penyesalan. Retaknya kejujuran terberai berantakan. Mencoba untuk memberi kesempatan, ternyata hanya ilusimu belaka. Tak ada sesuatu yang terjadi akan adanya tanda-tanda perubahan yang nyata. Kau tidak malu pada gerimis jingga yang telah dengan keindahan tetesannya menghadirkan pelangi untuk pijakan meraih mimpimu. Dengan sombongnya  dirimu merasa apatis tentang yang melatar belakangi mimpimu.
Terimakasih pun tak terucap darimu. Tak habis pikirku tentang jalan pikiranmu. Berbeda, tidak seperti saat gerimis tapi sudah menjadi hujan lebat beraroma halilintar. Ada apa dengan hidupmu, apakah kau sudah gila?” Tak sedikitpun kau membalasnya dengan suara falsmu. kau hanya menampakkan kelesuhan bahwa telah bosan mendengarnya.

Disudut ruangan tergeletak, terkapar sunyi. Mendengar semua kicauan sehari-hari. “entah apa yang mereka perdebatkan diluar sana, sehingga menjadikan larut-larut kekemudian hari sampai saat ini, dan mungkin akan berlanjut terus-menerus. tak tahu entah sampai kapan. Aku pun tak mengelak tentang semua cercaan untuk diriku, secara garis besar semuanya benar.” Lontaran dendam tanpa disengaja. Membungkam hati. Meringkuk, menghukum diri dalam kamar gelap.

Disisi lain, dalam sudut pandang orang sekitarmu yang telah mengadili privasimu. Telah membunuh setiap gerakmu. Meneriakimu dengan kata-kata kotor. Menjatuhkanmu hingga tertimpa tangga. Hmm.. Kemalangan apa yang sedang kau terpa. Mereka tak menyadari hal ini, pola pikirnya kemana-mana. Menerka yang tidak-tidak, tak serasi realitasnya. Mungkin mereka tak tahu kebiasaanmu selama ini. Mungkin juga mereka tak salah
karena kamu hanya diam. Diam-diam melakukannya. Mereka tak perlu mengerti dan mereka pun tak akan percaya.

Tapi disisi lainnya lagi, dalam sudut pandang yang berebeda dari kebanyakan mahkluk disekitarmu. Dia berasumsi lain. Dia tahu apa yang sedang kau alami. Dia mengerti benar. Dia yang paling mewakili dirimu sekarang. Suatu keadaan dimana kamu benar-benar rapuh, mengenaskan. Sebuah depresi yang berkepanjangan melahap habis sisi psikologismu. Jiwamu mungkin sedang dalam keadaan yang sangat mengkhawatirkan. Menawarkan kematian kapan saja. Tapi, kau tidak perlu berkecil hati. Tak berhak salahkan kejanggalan ini. Ini hidupmu bukan hidup mereka. Ini caramu bukan cara mereka. Ini masalahmu bukan masalah mereka. Biarkan mereka melihatmu dengan bebas, saat jiwamu berpijak pada semua cercaan itu, secara tidak langsung keajaiban akan menghampiri. Akan menyatu dengan langkahmu.

Dikamar gelap ini, disudut ruang berdinding kelabu. Dirimu seperti mengalami ilusi. Seolah-olah dirimu menjadi beberapa bagian, cerminan dirimu saat ini. Mereka bukan orang lain bagimu, itu dirimu. Mereka terlihat seperti sungguhan, bukan animasi atau semacamnya. Mereka mensuarakan beberapa hal, menawarkan pilihan yang dramatikal. Kamu hanya mengamati mereka. Mencoba mengerti maksud dari hal ini. Untuk kesekian kalinya dirimu terdiam. Dan terdiam.

***

Didalam kamar semua terombang-ambing dalam semu. Berserakan di beranda, tak terjamah kenyataan. Terlihat dari jauh terkapar lemah menghabiskan sisa malam. Mungkin akhir dari sebuah impian atau memilih menjauh dari derita. Seperti menyiksa diri dalam sepi. Setidaknya itulah yang terjadi. Tapi terkadang busur presepsi meleset tak tepat menancap. Tak pernah terlintas, semua tuduhan itu tak benar nyatanya.

Bahasa Universal

selama gerimis masih bersenandung lirih
selama jiwa masih melagu tanpa ragu

dengan bermimipi ku kan melihat harmonisasi warna indah pelangi

semestinya itu harus terjadi
kesadaran diri yang tersentak
tak menyadari
tersadarkan oleh suara malam

aku coba mengerti
aku coba pahami

setiap gerakan manufer jari-jari
mengikuti alur sendirinya

perlahan dan segenggam hentakan
mengiri seluruh imajinasiku
menuntunku untuk lebih indah

Dejavu

Kembali lagi pada suasana seperti ini, suasana yang terus terjadi berulang kali. Dimana pada suatu titik itu diri ini memejamkan mata sejenak beberapa menit dan seterusnya mendampingi imajinasi menyusuri kehidupan yang kasap mata. Entah sudah berapa kali aku mengalaminya, mungkin setiap aku terdiam hal itu terjadi. Dari sudut pandang itu aku mulai berfikir, mulai merasa apa yang telah ku alami selama ini. Diam itu sedikit usaha untuk bernyawa ganda. Berpisah dari raga supaya dapat melihat diri sendiri, melihat aura pada saat itu, apakah auranya baik atau sedang murung. Sepertinya ini sudah menjadi rutinitas dan menjelma sebagai kebisaan dan aku menikmatinya dan aku selalu menunggunya.

Pecundang

Ekspresinya terlihat dalam genggaman cakrawala, memerah kusam cerminkan ketidakpastian. Melipat kerutnya dahi menonjolkan lesungnya pipi. Senyum yang hanya terbuka jika mata orang sekitar sedang tertutup. Rasionalnya Itu mutlak terjadi kepada setiap jiwa yang bernyawa. Kepada diam dia berbicara dengan terdiam. Kepada hitam dia melukis dendam. Kepada sunyinya malam dia termakan buram.

Hidupkan gairah kesedihannya. Kembali bersembunyi dari lalu lalang masalah. Berlari sejauh mungkin untuk menjauhi masalah sembari mengepakkan sayapnya sendiri. Terbang menembus ketakutan yang terus saja mengikuti. Kemanapun ketakutan selalu mengekor dibelakangnya. Seakan semakin lama semakin mendekat bahkan melekat. Kemanapun selalu diikuti, sampai di dalam persembunyian tersembunyi sekalipun tetap mengikuti.

Dia hanyalah setubuh manusia yang hanya punya nyawa dan nama. Selebihnya tak tau apa yang dia rasa. Mungkin hanya kendala sinkronnya hati dan otak. Menyuruh berjalan untuk lebih beranipun otak dan hati tidak bisa berkerjasama.

Sepanjang hidupnya hanya didedikasikan untuk kata “pecundang”

Kamu; Kau pernah sebut itu rasa

kau pernah sebut itu rasa suka
sedari dulu ingin kau katakan
sesuatu yang telah lama terpendam
aku lega sekarang.” itu katamu

kau pernah sebut itu rasa sayang
disaat kau rindukan perhatian
terasa indah hidup ini
aku bahagia saat ini.” itu katamu

kau pernah sebut itu rasa cinta
dimana kita bergandeng tangan
berjalan diantara rintik hujan
aku merasa tenang.” itu katamu

kau pernah sebut itu suatu janji
rangkaian kata tersusun manis
dan aku menunggu kebenarannya
aku akan berjanji.” itu katamu

kau pernah sebut itu rasa cemburu
ketika pandangan matamu berbeda
aku berjalan, bercanda tanpamu
aku sakit hati.” itu katamu

kau pernah sebut itu rasa benci
setelah semua apa yang telah kau rasa
terakhir itu yang ku terima
aku benci kamu.” itu katamu

Aku Bermimpi

Aku Bermimpi

lebih dari itu aku bermimpi
meratapi miliyaran fantasi
sungguh gemulai menggeliat
caci semua hitam yang melekat

ajal hanyalah pembatas
sebuah strata atau kelas
membelakangi suatu ambisi
untuk suatu pijakan nanti

sesal itu menyedihkan
ketika malas mulai menekan
dan sesat mulai menjeremuskan
setelah datang kelamnya keraguan

aku bermimpi
aku berimajinasi
aku berfantasi
aku berekspresi

tanpa ku seseli
tanpa ku peduli

aku akan terus bermimpi
sampai mati
sampai semuanya benar terjadi

Kamu; Aku Bertanya?

lalalalala .......” aku bersenandung. Menempatkan nada-nada kedalam sebuah irama. Simponi menerjemahkan setiap ritme menjadi keindahan.

Syairnya menceritakan realita hidup ini tentang sebuah kenangan. Memutar kembali melodi sumbang jiwa ini, menjadi luka dan derita.

Mungkin karena semanis janji, berkelanjutan sampai separah ini. Berdampak terhadap psikis kejolak jiwaku.

Awal dari sensasi keheningan, kehampaan, keraguan, dan kesakitan. Aku sedikit tak percaya dengan semua hal ini, dengan semua hal yang menurutku ganjil. Ketidakpastian dirinya yang mengubahku.

Sudah aku bisikkan lembut kata untuknya. Mungkin dia tak merasa. Mungkin juga sengaja tak merasa.

Aku kembali bertanya “sebenarnya siapa yang salah dan siapa yang disalahkan?

Bersembunyi Tersembunyi

Maaf, jika pelangi indahku tersembunyi malam ini. Mungkin jika datang hari esok, pelangiku pasti akan terlihat. Tunggulah sampai redanya hujan. Pelangiku setia selalu menanti saat dimana air hujan berhenti jatuh menyentuh kehidupan.

Maaf, jika senyum manisku terhalang hujan siang ini. Mungkin hanya terlihat berdiri di derasnya hujan. Aku tidak sedang bersedih, sebaliknya aku begitu bahagia. Hujan turun dan pelampiasanku selama ini tercurahkan. Aku menangis tatkala gerimis berubah jadi hujan, tatkala muram berubah jadi gembira. Alasanku karena hanya aku dan Tuhan yang tahu apa yang terjadi, ketika tubuh diguyur hujan.

Kamu; Mencari Pelangi

Kamu, sepanjang hari ini dari kemarin. Gerimis masih bersenandung, menikam dirinya dengan sengaja untuk sebuah pelangi. 
Kamu, Aku seperti awan pekat hitam, telah jenuh dengan bebannya, ingin menumpahkannya.
Kamu, aku harap hujan lebat malam ini. Aku penat.
Kamu, pelangi mungkin takkan mengisi langit setelah hujan ini, Rembulan pun enggan.
Kamu, Aku mencari pelangi untuk membuat nyata mimpi-mimpiku.