Thursday, November 30, 2017

Arah Mata Ingin

Ia matamu;
indah

dari sudut pandang

siapapun.

Monday, November 20, 2017

Rokok Pertama Dari Bapak

—suara dari eko fahrudin

“kau jadi pulang besok sore?” aku hanya terdiam dengan selembar tiket penerbangan di tangan kanan.

Tidak sampai menunggu besok, jika suasananya lebih baik aku sendiri yang akan datang kerumahmu. Membawa buah tangan kegemaranmu. Memberi senyum atas beberapa kisah kita di hari kemarin. Dan dengan diam-diam akan kuletakkan sepucuk surat di bawah pintu kamarmu; Surat Rindu. Sehingga, apabila kamu sedang menjatuhkan perasaan rindu, ingat surat itu; aku di situ merangakai kata penghangat untuk kau peluk berulangkali seperti halnya kau yang sering memainkan lagu kesukaanku setiap hari.

***

Malam melambat pelan dengan begitu melankolis. Seperti penulis puisi yang enggan disebut penyair. Seperti pendongeng hebat yang lupa dengan semua akhir dari ceritanya. Seolah bertolak belakang dengan beranda rumah sewaan kita. Lalu aku memutar lagu 'sebuah kisah klasik untuk masa depan', sendirian.

//Jabat tanganku, mungkin untuk yang terakhir kali
Kita berbincang tentang memori di masa itu
Peluk tubuhku usapkan juga air mataku
Kita terharu seakan tiada bertemu lagi//

Barang sudah kukemas sehari yang lalu, tidak semua kubawa hanya beberapa potong pakaian dan lembaran foto gaya konyol kita. Aku mengamati; tersenyum kecil.

//Bersenang-senanglah
Kar'na hari ini yang 'kan kita rindukan
Di hari nanti sebuah kisah klasik untuk masa depan//

Jika kalian menganggap aku lupa, jangan pernah. Aku tentu masih akan ingat. Tentang malam-malam kita yang hampir tiap hari berakhir dengan gelas-gelas kosong, obrol-obrolan tidak perlu dan candaan yang tidak kena.

Di kedai kopi, kita pernah membuat kekacauan. Memecah belah kesepian. Mengumpat pada meja sebelah secara langsung.

Dan sebagainya.

Dan lain-lain.

Dan masih ingatkah kalian?

//Bersenang-senanglah
Kar'na waktu ini yang 'kan kita banggakan di hari tua//

Sebab aku. ...

Sebab aku, sebab aku ingin terus bersama kalian, terus merangkai hal yang biasa saja menjadi banyolan gokil luar biasa.

Sebab aku juga ingin menjadi yang selalu ada di antara kalian, menyempurnakan empat sehat lima bercanda.

Sebab aku ingin menjadi seolah puitis untuk kalian cela biar aku terkesan sok romantis.

Sebab tanpa kalian hariku mungkin akan terasa datar-datar saja. Seperti yang kau baca barusan; datar.

Sebab aku. ...

Andai aku bisa, sudah kubiarkan tiket perjalanananku hangus terbakar. Andai aku bisa, tak akan ku mengiyakan kemauan Ibu-Bapakku.

Andai aku bisa. ...

Nyatanya?

Aku hanya bisa mengambil satu pilihan yang membuat siapa saja berat hati memilihnya; pergi dan pulang.

Pergi dari rutinitas kekonyolan bersama kalian dan pulang memeluk hangat rumah Ibu.

//Sampai jumpa kawanku
S'moga kita selalu
Menjadi sebuah kisah klasik untuk masa depan//

Kembali, aku membuang pandangan ke langit-langit rumah sewaan kita; Kita pernah ada di sini! Merekam kisah, berbagi walau sedang payah.

//Bersenang-senanglah
Kar'na hari ini yang 'kan kita rindukan
Di hari tua//

Meninggalkan kalian itu bukan perkara mudah. Apalagi dengan kenangan berisi banyolan-banyolan kita yang tak kunjung sudah. Selalu ada. Selalu apa saja. Tapi semuanya bukan berarti sampai di sini. Jalan kita, kau dan aku masih tak terhitung dengan keberuntungan dan kesempatan di depan sana. Jalan kita kawan, masih panjang dan lebar. Dan kita sampai pada fase di mana aku harus memilih kembali pulang ke rumah Ibu dan meninggalkan kalian dengan beribu rindu.

//Sampai jumpa kawanku
S'moga kita selalu
Menjadi sebuah kisah klasik untuk masa depan//

Kalian tahu? Sekali waktu Bapak pernah menawarkan rokok pertama kali untukku, padahal Bapak bukan perokok. Kalian tahu rasanya? antara ingin menerima atau menolak saat itu? Seperti itulah aku sekarang.

//Mungkin diriku masih ingin bersama kalian
Mungkin jiwaku masih haus sanjungan kalian//

Tuesday, November 14, 2017

Mimpi Buruk

Dihimbau untuk hati-hati pada perjalanan mimpi
buruk malam ini, karena dia dambaanmu bukan
sebagian dari obat tidur yang layak dikonsumsi.

Selesai sudah hujan.

Selesai sudah.

Selesai.

Thursday, October 19, 2017

Sehimpun Perasaan Kemarin

Yang terlupakan semestinya enggan lagi terulang. Merebut kisah masa kini dan menggantinya dengan kenangan masa silam. Begitu yang jatuh luruh, menyampaikannya pada muka yang lusuh.

Masih gerimis, masih menangis. Aku biasanya memulai ini dengan beberapa perasaan yang harus kutikam sekali waktu. Bagi pemuja perasaan murung, sore adalah pagi dalam bentuk yang hampir sama dengan kadar enggan memulai percakapan yang tidak jauh berbeda.

Aku yang tidak berhasil mendapatkan penjelasan atas jawaban yang kamu berikan malam itu. Aku kalah dalam percakapan yang sudah kusiapkan jauh hari. Aku kalah namun tidak mengerti. Seolah melihat matamu pun aku tidak berani. Tidak jelas dan kamu ingin kita tidak jelas! Bukankah itu sudah semakin lebih jelas?

Lalu. ...

Apakah dengan mengurai lagi hal semacam ini, aku bisa meneruskan mimpi menjadi sesuatu yang tidak jelas kumengerti? Apakah sedemikian ini menerima hari kemarin? Apakah ada yang lain?

Semoga saja ada. ...

Semoga saja kamu tahu. ...

Apa yang tidak pernah aku ceritakan bukan berarti ingin kusembunyikan. Lebih dari itu. Aku ingin berterus-terang dalam gelap dan menguburnya dalam lelap lalu berharap kamu menemukan sendiri secara lengkap.

Dengan jarak yang terpisah oleh satuan rindu, aku ingin melingkari tubuh yang kupeluk namun jauh. Antara ranting pohon yang jatuh berantakan dan beranda berwajah sawah yang selalu membuatku nyaman layaknya dalam dekapan rumah.

Menempuh perjalanan. ...

Mengutarakan arah hati. ...

Memilih lupa untuk tidak kembali. ...

Setibanya di kediaman malasmu, sekali saja bisakah kamu membiarakan suaramu mengutarakan nadanya dengan bebas? Membuatnya meresap dalam dinding-dinding pulas tidurmu? Dan akan selalu, selalu ada sepasang telinga yang bersedia kapan pun untuk membingkainya sebagai hal indah.

Senja semakin tenggelam, malam mulai bertingkah manja, dan demi bintang petunjukku pulang, aku rela menemanimu membiasakan bercerita dengan durasi yang sekiranya panjang. Merangkai sebab-akibat yang tidak dibuat-buat, biarkan begitu saja; mengalir tanpa pernah memaksa hanyut.

Namun, semenjak kisah perih itu melumpuhkan. Setelah senyummu tiba - tiba meredup untukku, aku berpesan; Jika dipertemuan yang akan datang aku masih terhitung merindukan kamu, mungkin itu hanya ingatan yang merubah rupa menjadi masa lalu, yang kamu lupa semenjak menjauhkan jarak pelukan dengan hariku.

Meski perasaan yang patah ini sulit untuk dirangkai kembali dengan penjelasan, tetapi melalui kamu, jendela adalah sepasang matamu dikemudian hari, dilain kisah dan di dalam senyum yang kunamai 'pulang'. Seperti sebelum ini, akan kunamai kamu pulang, tempat dimana kenangan itu tumbuh sesak dan semakin tambah sesak.

Dan kelak, aku ingin kenangan itu serupa di mana lokasi tidak tersedia dalam jalan pulangku menuju pelukmu. Perlahan dengan begitu cepatnya menghilang.

Hingga ...

Pada akhirnya, aku dan kamu adalah sehimpun perasaan kemarin yang pernah saling lama menatap hingga berujung dekat lalu menjauh pergi tak terlihat.

Tuesday, September 26, 2017

Payung Kertas

Beberapa kali, langit tak berharap mendung pada selembar kertas yang dilipatnya rindu menjadi rintik hujan di antara hal yang tidak teramat begitu cemas.

Memulai mengantarkan kembali senyuman terhadap mata yang manis tanpa bermaksud menaruh rasa berlebihan. Seperti berlayar menuju perlabuhan terakhir dan terindahku, misalnya.

Dari jauh mungkin kamu berharap ada sekilas waktu untuk mengungkapkan perasaan. Menumpahkannya dalam semangkuk asmara. Sehingga, apa pun yang akan kamu terima lebih dari apa yang dimaksud dengan cukup.

Tapi. ...

Sore bolehkah sekiranya aku meminta kekasih menyimpan kenangan itu saja? Tidak, dan jangan biarkan yang sedikit tersisa itu menjadi tuan rumah lalu mengusir tanpa pernah ingin lama-lama berpikir? Merubah suasana yang teduh dengan romansa hari kemarin yang tidak kunjung berakhir?

Iya. Kamu tetap seperti ini saja. Tetap menawan hati. Tetap mempesona. Tetap menyuguhkan senyuman, tanpa mengenakan kesedihan sebagai alat untuk berpelukan.

Aku jatuh cinta. Hampir setiap langkah, semenjak tidak ada lagi hari-hari seperti kemarin, sore ini dan pagi dalam kemasan matahari keemasaan tanpa kecemasan. Aku ingin sekali menghadiahkan kamu dengan sebuah payung kertas berhias anggrek dengan taburan biji bunga matahari yang mekar mewangi.

Mungkinkah?

Friday, January 27, 2017

Tak Pernah Seluruh, Tetapi Sebagian Penuh

Aku sering dihinggapi sebuah kata yang membuat semuanya jadi lebih punya nyawa. Seperti ini, seperti ini dan seperti ini. Aku kehabisan beberapa tanggal merah dalam bulan ini. Aku rasa sesingkat ini tidak berakibat mendalam pada lamanya dendam. Kecuali kata ini. Iya, kata sebelum ini dan setelah ini.

Seperti sebuah kalender, aku juga ingin punya banyak angka dan membuatnya beranak-pinak hingga tak pernah habis.

Aku bisa saja membakar rumah dan lari dari diri. Aku bisa saja! Kalau pun aku ingin, sudah saatnya mereka tidak perlu memakai peran lagi untuk membuatku nelangsa. Mereka bisa secara jelas–terang mamaki tepat di hadapan wajahku berulang kali hingga sesuka hati.

Di dekat perapian; tak pernah seluruh, tetapi sebagian penuh.