Wednesday, September 30, 2015

Kamu; Petak Umpet

Hompipah aja dulu, lalu main petak umpet. Aku yang cari kamu atau kamu yang mencari aku, gimana?

Hingga, siapa yang menemukan dan siapa yang ditemukan. Hingga kamu menyerah mencariku. Hingga aku lelah menunggumu. Hingga, aku, kamu dengan sendirinya pulang, berhenti atas permainan ini. Hingga, aku, kamu bertemu lagi. Hingga permainan ini selesai.

Sunday, September 6, 2015

Curhat buat Ibu (11)

Ibu, dia yang baik pada gerimis. Dia yang suka menemani gerimis dari balik jendela maupun tak jauh dari beranda. Dia yang begitu menikmati saat-saat bersentuhan dengan gerimis. Dia yang sanggup melupakan waktu, meninggalkan apa saja demi gerimis. Dia yang selalu setia menanti pelangi sesaat gerimis perlahan terhenti.
Ibu, dia mendapatkan apa yang dia mau. Dia meraihnya dengan keras. Dia tahu apa itu bahagia. Dia mengerti mengapa harus berjalan sejauh ini. Dia menulis, menceritakan, menyanyikan beberapa kisah hidupnya. Dia merasa masih belum selesai. Dia harus terus berlanjut.
Ibu, dia yang sesekali rindu tentang hal itu. Tentang hal yang dia sembunyikan. Tentang hal yang aku sendiri tidak begitu mengerti. Tentang hal yang masih rahasia. Mungkin tentang sepenggal kisah hidupnya, mungkin. Karena dia hanya mengangguk ketika tanyaku seperti itu.
Ibu, aku juga seperti dia yang menunggu pelangi. Aku juga menunggu dia. Juga tentang hal itu, tentang rahasia.

Curhat buat Ibu (10)

Ibu, siapa yang lupa? Gerimis tak mungkin amnesia, begitupun pelangi. Tapi sederhana saja malam juga pernah lupa.
“Pelangi tak melupa, hanya disembunyikan semesta, di antara senja yang tengah tenggelam, di bawah hujan yang tak kunjung reda.”
Ibu, lantas lupa menjadi alasan, menjadi kata kerja, bukan lagi kata sifat, lebih lagi, kosa kata yang terbuang. Lupa yang selalu disempatkan. Lupa yang jadi prioritas utama.
Ibu, lupa semesta?

Thursday, September 3, 2015

Kamu; Tentang pesan pagiku

Kamu, mungkin besok atau kapan, aku tidak akan (lagi) mengirim pesan untukmu diawal hari. Kenapa? Ya, biar kusimpan saja pesan ini. Sengaja. Ya, aku masih (terus) menulis pesan itu tiap hari untukmu kok, tapi mungkin aku urung sentuh tombol kirim. Ya, biar tersimpan saja. Tenang, ngga ada yang berganti pada ritual pagiku saat ini. Dan kamu harus tahu itu.

Kamu, sebenarnya tentang pesan itu hanya tentang siasat saja, tentang bagaimana aku bisa bangun pagi dan bagaimana aku bisa sedikit berubah nanti, begitulah. Saat malam hari aku mulai berdialog dengan diriku sendiri “besok pagi harus kirim pesan, jadi bangunlah.” Ya, pesan itu semacam alarm yang sudah diatur otak bawah sadarku untuk aku bangun sendiri, benar-benar sendiri. Aku bangun dengan sendirinya tanpa bantuan alarm atau ibu yang sesekali memanggil namaku, tidak! Aku bangun sendiri, berdo'a lalu berterimakasih. Kamu, ternyata siasat itu berhasil. Tanpa paksaan. Tanpa adanya nada sebal. Tapi, untuk ini aku tidak sedang memanfaatkanmu dan tidak pula me-me-lainya. Lebih dari itu. Kamu menginspirasiku. Bahagia.

Kamu, tapi tidak tadi pagi, aku bangun kesiangan. Entah? Mungkin? Ya mungkin ini waktunya pesan itu benar-benar aku tulis tapi tak kukirim, kusimpan saja. Aku malu. Tapi, aku tetap menulis pesan itu tadi pagi.

Kamu, anggap saja pesanku tak pernah terkirim dan kamu terima kemudian kamu baca atau hanya kamu abaikan saja. Anggap saja begitu. Karena, sebenarnya aku malu. Malu sekali. Aku juga anggap begitu. Pesan itu hanya kutulis dan kusimpan tapi tak kukirim.

Kamu, terimakasih telah menjadi cara untuk aku bangun pagi beberapa pagi ini dan untuk beberapa pagi kedepan. Terimakasih. Tentang pesan itu, yang isinya selalu sama, yang waktu kirimnya juga hampir sama, masih akan kutulis besok tapi mungkin tak kukirim, kusimpan saja. Jadi, pagi-pagimu akan biasa saja seperti biasanya, seperti sebelum pesan itu aku kirim setiap pagi selama beberapa pagi ini. Terimakasih.

Kamu, bila besok kamu bertanya atau sekedar bergumam. “Kok, pagi ini ngga ada pesan dari dia ya?” Nah, ini jawabannya. Terimakasih ya.

Curhat buat Ibu (9)

Ibu, aku bahagia sudah bisa mengungkapkannya. Walaupun aku tak meminta langsung balasannya.
Ibu, pagi memang waktu yang sempurna untuk merindukannya. Lain dengan malam. Malam begitu menyiksa ketika rindu itu tiba. Bahkan aku masih terjaga hingga pagi buta.
Ibu, aku mulai terbiasa tanpa pelangi. Karena saat ini mendung pun tak terlihat apalagi awan pekat, gerimis juga masih terikat. Saat ini, begitu indah, begitu cerah.
Ibu, Sebenarnya aku urung untuk menulis ini, untuk menceritakan padamu. Urung sekali. Aku bahkan tidak tahu mengapa. Tentang tulisan ini sudah terabaikan, mengendap beberapa hari, mungkin sudah memasuki hitungan minggu. Dan aku mendadak baik pada hal yang begitu kubenci dan kudendam.
Ibu, mungkin kata “entah” masih berada di posisi teratas yang aku sukai saat ini. Kata ini memang cerdas dan juga pas untuk segala tanya dan jawaban.
“entah?”
“entah”
Ibu, aku lebih sering bangun pagi sampai seminggu ini. Entah? Aku juga tak tahu. Ibu juga tahu, kemarin-kemarin aku lebih sering terlihat masih memaksa untuk terus tertidur. Tertidur dan terus tertidur. Entah!
Ibu, marahi aku untuk urusan sarapan pagi saja, tak usah menengok kamarku lagi saat pagi, tenang Bu, aku sudah bangun, juga sudah berdo'a juga sudah bersapa “pagi?” sekali lagi, aku tak meminta langsung balasannya.
Ibu, begitupun hari ini, pagi ini. Aku biasa saja tetapi selalu istimewa. Aku entah apa? entah bagaimana? Aku terbangun dengan sendirinya. Keajaiban. Mungkin malamnya aku sudah melepaskan, sudah menceritakan, sudah menumpaskan kecemasan, kegelisahan, ke-ke-lainnya. Aku bisa setenang, selega ini sampai aku bisa tertidur. Tertidur. Tertidur. Tertidur. Tidur. Meskipun sampai pukul dua, tiga, bahkan pula hingga lima. Karena tertidur bisa untuk menidurkan bahkan meniduri rindu ini sendiri.
Ibu, mungkin besok aku lebih sering tidak tahu, kalau aku telah dengan sadar menceritakan ini, dan ketika kau bertanya. “cinta?”  “entah, Bu”
Ibu, selamat pagi?