Monday, December 26, 2016

Terjemahan Nasihat Ibu

SORE mulai menjadi hal yang sering
disemogakan oleh kamu juga aku.
Menunggu atau memilih menjemputnya, aku
berusaha untuk menguasai keduanya.
Sekarang awan hitam kecil peliharanku
sudah kelihatan jenuh. Mungkin karena dia
main panas matahari seharian. Aku tidak
melarangnya untuk melakukan apapun,
termasuk hilang dalam beberapa waktu. Aku
membiarkan jiwa periangnya dapat
berkembang dengan maksimal. Dengan
begitu, tidak ada lagi tangisnya di sore yang
akan datang. Semoga saja.

***

Thursday, December 8, 2016

Kamu; Desember


Aku mendiami lagu 'Desember' dari efek rumah kaca. Memakainya sebagai penabur bosa-basi di antara percakapan yang terlau panjang juga membosankan perihal kita, cinta dan apa saja. Juga tentang siapa yang selalu bernyanyi di balik awan hitam kala senandung itu didengarkan.

Aku, demkian kusebut. Aku adalah hari dimana pagi menjadi siang hingga muncul umpatan 'sialan kesiangan!'

Aku adalah pukul sembilan siang yang terpaksa sengaja terbangun oleh suara khas Ibu tersayang.

Aku?

Lalu, tercipta rasa sesak yang baru.

Aku ingin membiarkan kesempatanku terulang lagi. Biarkan aku membiarkan; memperlihatkan rasa sesak yang baru karenamu. Kamu boleh menolaknya atau sekedar mengurungkan rasa itu mencoba tumbuh rimbun. Dengan begitu, tak akan ada lagi isyarat rindu yang menggebu, yang menjadikannya hasrat lalu menguap bersanding mesra bersama langit abu-abu.

Aku melangkah keluar dari rumah menuju sekumpulan teman yang duduk di beranda tetangga. Aku ikut bergabung meski tanpa permisi juga tanpa ada yang mempersilahkan. Aku duduk dan hanya mengamati mereka dengan sesekali menanggapi pertanyaan yang berbau candaan kepadaku. Aku tersenyum; menyeringai.

Kamu, sekarang aku bisa terima.

Iya, aku mengagumi kamu.

Hari ini tentangmu hanya menyisakan perih. Aku mulai mendalami peran melankolisku dan menuliskan kisah ini.

Malam itu sampai hari ini jauh dan lama. Menahun. Berganti suasana hati. Berganti pelukan. Berganti rindu yang terpendam. Hingga, kemarin (belum lama) aku menyerah atas apa yang kuyakini selama ini ternyata salah.

Aku mengabaikanmu beberapa bulan setelah sesak paling sesak itu menyerang. Aku tidak lagi memperdulikan kisah hidupmu. Aku cukup menyapamu dari balik pintu, jika hadirmu tak sengaja mengunci pandangan dan memaksaku memeluk dalam kehampaan; membuat hati yang telah perlahan tertata menjadi tercecer tidak rata.

“Kamu, andaikan kukumpulkan dan kutuliskan ulang semua catatan perihal cinta, mungkin tak akan cukup bagimu kurasa.” Katamu selepas pulang dari keramaian dan memilih sepi bersamaku.

Kamu tidak perlu menjelaskan apa-apa padaku.

Aku selalu merasa kosong setiap kali senyummu mendarat di mataku dan jatuh terpersok lalu tersesat di hatiku; bercampur, berbaur dengan hujan yang berubah menjadi air mata. Aku kehilangan rindu; karena di matamu masih menyelami masa lalu. Kamu tenggelam dan kurasa tak akan ada lagi permukaan untukku.

Kembali, Aku mendiami lagu 'Desember' dari efek rumah kaca. Memakainya sebagai penabur bosa-basi di antara percakapan yang terlau panjang juga membosankan perihal kita, cinta dan apa saja. Juga tentang siapa yang selalu bernyanyi di balik awan hitam kala senandung itu didengarkan.

Saturday, December 3, 2016

Kamu; Hujani Soreku

Kamu, apakah jenis hujan sore ini? Hujan datang?

Aku mengikutsertakan perihal yang kukenakan. Membuat pandangan yang dihalangi papan nama menjadi kenyataan. Aku tahu, ini teramat buram untuk hal perih yang perlahan meninggalkan suram. Mengingat setubuh kenangan sesak karena pernah kehilangan kewarasan.

Kamu, apakah jenis hujan sore ini? Hujan jatuh?

Aku berada di dalam saku bajumu malam itu. Menenggelamkan pandangan dengan sengaja. Pada kombinasi warna gelap, aku tersesat dan enggan ingin kembali. Bahwa, beberapa tokoh dalam diriku menolak pulang dan ingin tinggal menetap. Aku sadar dan sedikit mewajarkan keadaan. Aku ingin satunya lagi.

Kamu, apakah jenis hujan sore ini? Hujan turun?

Aku dilanda cemburu juga rindu. Bersamamu hanya bisa menyentuh bagian terluar yang menjadikan pikiranku semakin liar. Sesekali, sekali saja, tuduhlah bahwa aku yang meminta. Menjadi tersangka mungkin menyenangkan. Dan ada bahagia di matamu juga senyummu yang perlahan menyentuh wajahku.

Kamu, marilah bersamaku, menyambutnya dengan tarian penerimaan sembari menengadah air hujan.