Saturday, April 16, 2016

Curhat buat Ibu (13)

Ibu, selamat ulang tahun.

"Ibu ulang tahun hari ini ya?" Ibu bersikap biasa saja, ketika tanyaku barusan.

Bagi Ibu, hari ulang tahun itu biasa saja. Seperti halnya besok hari sabtu atau minggu. Semacam itu. Biasa saja. Tidak perlu ada perayaan. Tidak perlu ada kejutan. Tidak perlu ada hadiah. Tidak perlu ada harapan yang dipanjatkan seusai meniup semua lilin hingga padam. Tidak perlu ada lagu yang ramai-riuh yang disenandungkan. Tidak perlu ada.

"Tidak akan ada yang memilih semua itu" jelas ibu. Meski hanya terpekur, mengenang hari dalam lalu.

Ya, bagi Ibu, Bapak, Mas dan Adek saya. Perihal merayakan momentum kelahiran adalah hal yang jarang. Jarang kami diskusikan sampai lelah. Jarang.

Sebagai apa yang aku biasa memohon. Memohon; semoga apa yang ibu semogakan lekas disemogakan. Semoga saja.

Ibu, seharusnya ucapan ulang tahun ini bisa kunikmati setiap hari. Sebab kata seseorang, kita bisa berulang tahun setiap hari.

Ibu, untuk hari ini dan selanjutnya, biarkan saja, biarkan saja.

Thursday, April 7, 2016

Curhat buat Ibu (12)

Ibu, beberapa kisah mungkin ada pelanginya. Termasuk aku yang sengaja menyuruh gerimis berhenti tempo hari.

Ibu, mengenangmu dalam puisi sudah menjadi kebiasaan lamaku. Beberapa puisi pernah aku bacakan untukmu secara tak langsung dan kurasa Ibu tidak menyadarinya.
Ibu, bukankah cara bicaraku sendiri sudah mempuisi? Membuatmu bingung tak mengerti?

Ibu, aku selalu tersenyum ketika ada gerimis. Sebelum dan sesudah gerimis. Tapi entah kenapa, tempo hari gerimis merengkuh secarik kertas yang berisikan puisi untukmu dariku? Membuatnya basah tak lagi terbaca.

Ibu, seharusnya Ibu membaca atau mendengarnya lebih dulu. Puisi tentang cinta atas segala pertanyaan Ibu perihal Dia.