Sunday, January 31, 2016

Februari baru sehari

Hai Februari? Akhirnya datang juga. Aku mengutuk Januari dengan segala alasanku. Menyibukkan diri melewatinya. Membuat sibuk saja. Berharap Januari berlalu begitu saja, berakhir tanpa permisi tanpa ada kata "sampai jumpa lagi", hanya "selamat tinggal Januari".

Hai Februari? Maukah berbaik hati mendamaikan hari-hari? Membujuk rasa malas ini untuk segera berlalu pergi? Dan menyatakan perasaan ini sekali lagi. Eh, atau aku urungkan saja niat yang satu ini?

Hai Februari? Ah, padahal ini baru sehari. Tapi aku meminta itu-ini. Maaf Februari aku memang sedikit banyak telah menanti.

Hai Februari? Lihat nanti, lihat besok.

Thursday, January 28, 2016

Besok Libur

Perihal urusan gerimis yang tak bertahan lama. Pelangi yang enggan memaksa tercipta. Sore yang entah kemana. Dan para manusia yang hanya diam disitu saja.

Perkenankalah aku besok untuk libur. Meliburkan rindu untukmu. Meliburkan rasa lelah menunggu. Meliburkan untuk semua maumu. Dan meliburkan semua alasan atas segala malasku.

Besok libur. Besok juga akan kubeli hujan itu. Dan Akan kubuatkan pelangi setelah hujanku reda untukmu.

Monday, January 18, 2016

Kamu; Es tehku kopimu

Jika es tehmu terlalu manis, tambahkan saja dengan kenangan kita, barangkali rasanya bisa serupa kopi. Pahit memang, tapi setidaknya masih sanggup dinikmati sampai kosong gelasmu.

Bukankah rasa hanyalah kamuflase dari hati? Bukankah orang yang mengaku jatuh cinta menganggap tahi kucing rasanya coklat? Bukankah orang yang terlanjur patah hati merasa kopi itu segar sedangkan es teh itu pahit? Bukankah ini hanya soal rasa? Atau aku yang sudah gila?

Aku suka kamu. Kamu suka dia. Dia suka orang lain.
Kita sama-sama jatuh cinta tapi tidak sama-sama dicinta. Kita juga sama-sama patah hati tapi tidak saling memahami.

Aku suka es teh. Kamu suka kopi. Kita tak perlu bertukar gelas hanya untuk merasakan keduanya membekas dihati bukan?

Jadi, pada bagian mana yang harus lebih aku perjelas?
Bukankah sudah terlihat begitu jelas?

Sekali lagi, apakah ini hanya soal rasa? Atau kamu yang juga sudah mulai gila?

Friday, January 15, 2016

Warung Murung; Malam ketigabelas dibulan januari

Malam ketigabelas dibulan januari. Warung Murung telah buka kembali setelah dua hari meliburkan diri. Seperti biasa, beberapa pengunjung datang lalu-lalang lalu pulang kemudian kembali lagi, lalu pergi, begitu terus terulang-ulang lagi dan lagi.

***

Dari jauh sebelum pintu masuk, dengan langkah kaki serasa bimbang, Dia mulai mendekati Warung Murung, masuk. Suasana malam itu sepi, beberapa pengunjung sudah lama pergi hanya ada Dia. Mengamati sekitar lalu mencari tempat duduk. Seorang pelayan kemudian mendekati, menyodorkan kalimat bosa-basi selamat datang dan menu andalan, padahal pilihannya hanya dua menu saja dan sedikit tambahan (bukan minuman atau makanan). Dia kemudian menyerahkan kertas berisi pesanannya selang tiga menit semenjak Si pelayan berdiri menunggu disisi. Dalam kertas itu Dia memesan; satu teh hangat, dua puluh menit lagu melankolis dan selembar kertas beserta alat tulis.

Enam langkah pelayan meninggalkan meja, langsung terdengar lagu melankolis pesanannya. Lagu pembuka dari Pandai Besi berjudul melankolia. Dia membenahi duduknya agar terasa lebih merasa apa yang seharusnya dirasa bukan dilupa.

Belum sampai lagu melankolia habis, pesanan teh hangat pun datang berikut dengan selembar kertas dan alat tulis. Dia sedikit tersenyum kemudian menggeleng ketika Si pelayan menanyakan apakah mau ditemani bercerita atau hanya duduk saja. Dia ingin sendiri, Si pelayan lalu pergi.

Terkadang ada pengunjung yang minim berbicara apalagi sampai meminta seseorang untuk menemaninya  bercerita dan salah satunya; Dia.

Sebelas menit sudah Dia terdiam tak menyentuh pesananya sekalipun, hanya memandangi kosong selembar kertas tadi. Diam. mungkin sedang meresapi lagu berikutnya; 'sebelah mata' dari Efek Rumah Kaca. Sesekali membuang pandangan entah kemana akan terbuang.

Lagu yang masih memainkan irama melankolisnya, dimenit kedelapan belas Dia beranjak pergi. Hanya meninggalkan selembar uang lima puluh ribu juga selembar kertas yang sepertinya tak lagi kosong. Masih dengan langkah yang bimbang keluar, meninggalkan Warung Murung.

Si pelayan menghampiri meja, mengambil uang dan membersihkan debu yang sedari tadi menempel. Melirik lalu melihat isi dalam kertas tersebut.

________

Perihal hal perih bersama senandung lirih, bukan sekisah kasih putih tapi ini teramat perih, sedih.

Januari, kamu ingatkan beberapa ratus kali lagi perihal hal perih ini? Tidak bisa kah kamu memberi jeda satu atau dua masa lagi, bukan dalam sehari tiga kali? Oh, Januari, rupanya kamu masih saja menyimpan perihal hal perih ini dengan rapi, dengan begitu mendetail sampai-sampai rasa sesak, rasa menikam luar biasa malam itu masih terasa sama kuterima dengan apa adanya, dengan sedikit terluka. Januari.

Januari, masih juga kamu abadikan suasana minim cahaya malam itu, kamu hadirkan pula perihal hal perih ini setiap aku bersiap untuk tertidur. Sesak, Januari, sesak.

Apa rasanya januari? Bagaimana kamu begitu teganya melakukan kejahatan itu? Kamu kirimkan perihal hal perih ini, kamu sampaikan, kamu sajikan, kamu senandungkan, kamu isyaratkan tepat, setia menemani pagi-malam-soreku. Sesak, Januari, sesak.

Januari, apakah Aku harus menggantikan peranmu sebagai pembuka awal tahun? Apa, apa Aku harus meloncatimu, melewatkanmu dengan tertidur dalam kurun waktumu? Atau Aku yang akan memecatmu dari tatanan yang sudah ada? Januari? Tapi, apakah mungkin dengan begitu perihal hal perih ini berlalu begitu saja? Atau malah semakin menganga membabi buta? Ah, sialan!

Aku yang membencimu karena ulah perasaan ini yang begitu khusyuk merayakan perihal hal perih ini. Mendo'akan lalu mengumpatnya dengan berbagai cara. Selalu dalam hati berkata; sesak, januari, sesak. Perasaan yang merekam momen perihal hal perih ini, menyimpannya dengan sakit dan lupa cara menghapusnya, melupakannya.

Perihal hal perih ini bersemayam dalam hati sampai saat ini. Kepadamu perempuan patah hatiku.

_________

Si pelayan mengambil kertas itu, melipatnya lalu menyimpannya disaku kemeja. Bergumam, berharap Dia kan kembali meneruskan patah hatinya lagi.

Saturday, January 2, 2016

Warung murung


Mungkin seharusnya ada tempat seperti ini. Dimana  manusia patah hati, manusia depresi, manusia putus asa, manusia sedih manusia penerima harapan palsu ingin murung disuatu tempat tapi dengan cara yang berkelas, bukan hanya sekedar mengurung diri dalam kamar.

Dimana Si Pemurung bisa memesan menu yang disuguhkan dengan sederhana. Menu yang sangat minim, hanya teh hangat dan beberapa varian kopi. Ya, hanya itu. Sembari menunggu pesanan, Si Pemurung bisa sesuka hati merequest lagu melankolia dan meminta kepada seseorang untuk menemaninya untuk diajak bicara mencurahkan isi hati atau hanya sekedar menemani duduk saja tidak lebih.

Si Pemurung bisa berlama-lama disini tanpa harus memikirkan waktu, karena tempat ini dibuka selama 24 jam setiap hari tanpa pernah tutup terkecuali kalau yang punya juga sedang murung.

Disini juga para Pemurung diajak untuk memurung dengan elegan. Memerunglah dengan apa yang kamu sukai karena disini cukup terfasilitasi. Memurunglah dengan mencoba untuk menulis apa yang ingin ditulis. Memurunglah dengan mencoba bernyanyi, bermain gitar atau yang lainnya. Memurunglah dengan mencoba memulai menggambar atau mencoret-coret semaumu. Memurunglah dengan mencoba menceritakan dongengmu lalu merekamnya. Memurunglah dengan mencoba mengambil obyek disekeliling. Memerunglah dengan diam sembari melamunkan apa saja. Memurunglah, karena murung itu sungguh indah.

Dan karena tempat seperti ini belum ada, belum tersedia. Maka biarkanlah, ciptakanlah warung murungmu sendiri, dengan khayalanmu, dengan imajinasimu yang begitu luar biasa.

Karena sekali lagi, murung itu sungguh indah.