Menikmati jeda. Menikmati tanda-tanda. Menikmati apa saja. Mungkin hanya berbilang menit atau satuan waktu lainnya, kamu akan pulang. Berpuluh kali pandanganmu tak melepas dari jam dinding atau melirik ke arah sudut pojok kanan benda kesayangan yang senantiasa dalam genggaman. Kamu terus mengulang. Mengulang. Mengulangnya lagi. Hingga. Sampai pada waktu yang telah disepakati.
***
Air mulai jatuh dengan sendirinya, melewati ribuan langkah manusia yang dikejar waktu, didekap keraguan serta kecemasan yang melanda jiwa.
***
Kamu berdo'a. Kamu bahagia. Kamu bisa berhenti mengulangi apa yang terus terulang sebelum ini. Kamu merayakan dengan lahap, buas serta rasamu yang tak pernah puas.
Sebelum ini, kamu mengeluh ada yang sakit. Ada yang berusaha ditutupi untukmu jadi lebih baik. Kamu hanya bisa mengisyaratkan dalam simbol titik dua kurung tutup. Meski harus memaksakan bahwa belum waktunya mengantuk.
Sebelum ini, kamu sampaikan tidak apa-apa. Kamu biasa saja. Padahal demiku kamu jarang melakukan ini. Ini tidak biasa. Ini berbeda. Kamu memaklumi juga beberapa ada yang tersirat di hati.
Sebelum ini, kamu merasa masih, meski ada yang tersisih. Kamu menunggu, meninggalkan mereka yang merindu. Kamu beranjak dari tidurmu lalu tersenyum menanti balasanku.
Sebelum ini, kamu tidur, kamu bangun, kamu pergi, kamu ini, kamu itu, kamu sampaikan walau tidak seharusnya.
Sebelum ini, kamu tak pernah selepas ini menikmati jeda. Mengungkapkan rasa juga semua.
No comments:
Post a Comment