Monday, June 20, 2016

Kamu; Menyatakan mimpi

Seharusnya sore ini, aku sudah di depan rumahmu. Mengetuk pintu, menunggu jawaban. Lalu kamu membukakan pintu sembari tersenyum tak menyangka. Aku datang tiba-tiba. Kamu terkejut. Hingga tanpa disadari kamu menawarkan peluk atas segala rindumu. Aku mengambil tawaran itu dengan wajah menyenangkan. Kamu sudah kelewat mengutarakan rasa itu, sebab sebenarnya kamu menahan malu bercampur rindu.

Aku tertegun terdiam. Aku mengeja namamu namun tertahan, tak sempat terucap. Hingga akupun memejamkan mata perlahan. Kamu mendekat. Semakin dekat. Semakin jelas deru nafas di telingaku. Debar jatungku berdetak tak menentu. Aku rasa ini benar terasa. Kamu hanya berjarak setebal buku tentang cinta. Kembali mengeja namamu. Kembali aku terdiam.

Aku mulai berandai-andai kamu beserta angan yang harus kugapai. Kamu di sini saja, rayumu. Aku mengangguk mengerti. Mungkin ini juga bisa dikatakan balasan atas tidak perlunya alasan. Kamu rindu seketika bersambut hangat dengan pelukku. Kamu mendegap lembut, memeluk.

Aku membuka mata. Jelas, ini ruangan kamar, bukan di beranda rumahmu. Mimpi? Kurasa tadi aku tak seperti mimpi. Senyummu. Rona memerah wajahmu. Bola mata indah itu. Hangat peluk. Mimpi? Hmmm Aku bermimpi, ternyata pulas ini mengantarkanku menuju kamu. Sepertihalnya kamu bercerita perihal aku yang datang di mimpimu. Aku hanya menyesali, mengapa sesingkat ini? Eh? Lalu aku tersenyum lebar menahan ingatanku untuk lupa, kemudian beranjak mencuci muka.

No comments:

Post a Comment