Untuk kamu yang memilih terlelap lebih awal. Perkenankan aku untuk sampaikan ini lebih awal juga. Kamu tahu? Rindu ini tak kenal lelah, tak tahu harus kapan berhenti untuk menyerah. Pada malam-malamku yang resah, rindu ini membuatku gelisah. Pasrah.
Untuk kamu yang memilih terlelap lebih awal. Aku adalah kamu dalam rupa mimpi yang tak sengaja datang. Biarkan saja aku hadir di antara pulasmu, biarkan saja. Biarkan saja kamu terbayang di setiap nyataku, biarkan saja. Biarkan saja.
Untuk kamu yang memilih terlelap lebih awal. Kembali akan kuceritakan lagi beberapa kisah dalam rupa kata-kata;
Saat aku menulis ini, aku—kamu membaca dalam hati tetapi mekar dalam senyuman, berandai dalam ingatan.
Sejak beberapa hari setelah memakai kata sayang, kamu mengunjungi tepian. Kamu ceritakan bahwa aku adalah mimpi juga nyata. Kamu berpeluk rasa sepi, kamu teman, andai sepi itu serupa nyaman.
Aku tidak banyak bicara kecuali pada diri sendiri dan kata-kata ini. Aku pemalu dan kehilangan sepotong rasa malu. Bedanya, kamu sengaja malu untuk membunuh sepi. Kamu malu dengan bijaksana. Kamu malu bersama jatuh cinta.
Kamu masuk beserta rasa penasaran juga perasaan. Aku tahu. Aku sengaja mengintip jendela dari pandanganmu. Membiarkanmu untuk sekali lagi mengulang malu.
Bertemu, saling tukar wajah dan menyimpannya rapi dalam bentuk senyuman.
Waktu sore setelah ramai langkah kaki. Aku ruang tengah tempat di mana kamu duduk menghabiskan pandangan hingga jatuh hati pada sepasang senyum yang saling menyapa bergandengan.
Sekarang, aku tepat di arah jam dua belas dari pandanganmu. Aku serupa pulang lalu pergi untuk bergegas berhenti. Kamu. Terhenti. Berhenti mencari.
Aku harap tidak ada tamu setelah aku juga pemilik rumah yang kuminta jangan kembali. Dan, aku harus memaksa peluk ini impas atas beberapa jarak yang terpangkas.
“Peluk aku, peluk, peluk, peluk”
Untuk kamu yang memilih terlelap lebih awal. Mari terlelap denganmu yang kini sudah bersedia menetap juga mendekap.
No comments:
Post a Comment