Saturday, September 17, 2016

Kamu; Berberapa langkahmu menjelang tersenyum kembali


Kamu, langit mendung dan suasana tak jadi mendukung, sebab rasamu entah itu apa yang tak lagi terbendung. Pepohonan, jalan setapak juga semak-semak di samping kamu, meminta permohanan singkat untuk segera dijauhi. Kamu. Kamu. Kamu. Kamu tertunduk bersamaan dengan perasaanku yang bercampur-aduk. Aku mengutuk diri sendiri atas apa atau bagaimana sikap beserta kesan atau alasan lontaran yang tak disengaja. Kamu mempercepat langkah mencoba memberi jarak denganku, meskipun kamu lelah, meskipun nafasmu terengah-engah dan mungkin juga kamu (benar-benar) marah.

Kamu, aku yang masih canggung untuk memperbaiki suasa yang sudah terlanjur muram. Aku masih kaku bila kamu begitu; diam dan mengibaskan genggaman. Aku kacau dalam sepuluh langkahmu. Aku menyumpahi diriku sendiri; Bodoh! Bodoh! Bodoh!

Kamu, kalaupun wajahmu memandangiku dalam sepuluh langkahmu, pastilah kamu temukan aku yang dengan raut muka entah, tidak tahu apa yang harus diperbuat setelahnya, andai kamu lihat. Betapa cemas. Lalu aku kembali menyumpahi diriku lagi. Lagi. Lagi. Dan lagi.

Kamu, namun semuanya sekejab berubah. Enatah do'a apa yang telah diaminkan. Alam berulah. Siklus tubuhmu merasakan kembali yang telah hilang selama sepulah langkah sebelumnya. Ya, kamu mendadak bersin. Kamu tersenyum. Kamu tersenyum. Kembali lagi. Kamu mengubah arah pandangan. Kamu memandangiku. Kamu tersenyum. Aku lebih tersenyum. Aku mendekat. Semakin dekat. Aku menawarkan gengaman tangan. Kamu meng-iyakan, kita bergandengan. Bersama tersenyum kembali sepanjang sisa jalan.

Kamu, sebab langit tak seperti inginmu kemarin saat aku bergegas pulang, langit masih menahannya, menjaganya sampai kita duduk berdua. Katamu, langitpun ikut sedih ketika aku hendak pulang. Aku sering mengatakan itu berulang kali. Mencoba memberi nyawa pada setiap katamu. Kataku biasa saja meski aku lebih menyukai kata-kata, tetapi katamu selalu indah, selalu bersemayam dalam ingatan, katamu hidup diantara percakapan kita. Langit tak membiarkanmu pulang lebih awal. Langit baik dan selalu lebih baik. Saat langit menjatuhkan hujannya, kita sudah berteduh berdua menikmati segelas teh hangat untukmu, dan kopi rasa apa aku lupa untukku.

Kamu, sudah mau sore, kamu juga harus pulang, tapi kamu menahan. Sebentar. Sebentar. Sebentar lagi. Belum reda, katamu. Aku tersenyum. Namun kamu masih saja engga beranjak ketika sudah cerah suasana. Sebentar. Sebentar. Sebentar lagi. Belum benar-benar reda, katamu. Menit kelima belas. Menit kedua puluh. Setengah jam. Satu jam. Kita pulang

Kamu, aku masihlah kali pertama kali kamu temui. Masih suka bicara dalam hati. Masih tertahan jika ingin bermaksud mengutarakan. Masih tidak tahu bicara apa saat denganmu. Masih saja menyimpan masih yang kemudian perlahan tersisih.

Kamu, aku sayang, juga masih belajar.

No comments:

Post a Comment