Lalu kamu memilih aku untuk dijatuhi hukuman
atas senyummu semalam.
Di langit-langit mulut
kamu menyimpan sesuatu.
Kamu menjelma menjadi sesuatu
yang aku cemaskan atas hari ini
juga kemarin.
Aku mengampu dua matamu sekaligus.
Tanpa paksaan dan melebihkan perasaan
menuju apa itu kamu
selebihnya berputar di antara percakapan
yang salah tingkah pada pagi
rupanya terjadi lagi
aku memberi tanpa kamu pinta
rasa demi rasa setiap gerak jemari menyentuh
menatap lama layar kesukaan kita
tidak ada penjelasan atau alasan
sebab hanya butuh jawaban sebagai balasan
Bahkan aku menuliskan kamu dalam
berisikan puisi sepasang hati
kembali pada mendung yang menunggu
kami sepakat! Aku, kamu akan terikat
Kamu juga berharap
tidak ada mengejar perihal lelah menanti.
Di dekat jendela senyum itu juga merekah
menjadi mekar bersambut rembulan
pagi lalu sore, siang terlewati.
Aku juga, membiarkan maaf bertumpu pada
setiap awal mata membuka
ini bisa kunikmati selepas lelap untukmu, untukku.
Menerima dengan cara yang kamu suka
tersenyum sendiri sembari melihat sekitar
tersenyum lagi tatkala tak bisa menahan lagi
Katamu aku sayang, kamu sayang. Entah ini
sudah bisa dikatakan perasaan atau lebih dari perasaan
Sejauh ini meski tak begitu memakai jarak.
Sejauh apa yang tak pernah kamu ukur
tumbuh merangkak seiringan bersama sejalan
Menuju apa itu kamu. Menyukaimu berakibat rindu.
Mempesona, sampai kamu juga merasa sama.
No comments:
Post a Comment