Sunday, February 21, 2016

Kamu; Duapuluh satu

Kutemui kamu menganggap hal ini semata-mata hanya perasaan tidak enak yang sudah terlanjur tak terukur. Tak mengapa, sebab kegemaranku saat ini adalah menerima. Menerima dengan indah. Seperti kisah yang pernah terbaca waktu lalu.

Duapuluh satu, Aku tak ingin merusak bahagiamu dengan memaksa menanyakan apa-saja yang membuat hilangnya rasa kegembiraan suasana hati.

Duapuluh satu, biarkan kamu bersenang-senang meskipun rasa canggung itu selalu datang. Biarkan saja pagi teduh sampai siang lalu sore hingga malam mendung kemudian turun hujan. Biarkan. Biarkan kamu sempat bahagia dalam sehari. Biarkan aku juga disini, tetap mencoba seolah sibuk. Tetap bisa berlama-lama bersama buku. Tetap tanpa tetapi yang bersedia menunggu.

Duapuluh satu, kamu (akurasa) bukan lupa akan hal ini aku pun tak meminta mengingatnya. Sebab kamu terlupa dan benar-benar tak pernah tahu atau berusaha untuk tidak tahu.

Mimpi? Ah sial. Seharusnya aku tidur lalu pulas. Bukan terjaga sampai malas.

Duapuluh satu, selepas hujan reda, aku akan tersenyum bahagia.

No comments:

Post a Comment