Thursday, April 10, 2014

Pecundang

Ekspresinya terlihat dalam genggaman cakrawala, memerah kusam cerminkan ketidakpastian. Melipat kerutnya dahi menonjolkan lesungnya pipi. Senyum yang hanya terbuka jika mata orang sekitar sedang tertutup. Rasionalnya Itu mutlak terjadi kepada setiap jiwa yang bernyawa. Kepada diam dia berbicara dengan terdiam. Kepada hitam dia melukis dendam. Kepada sunyinya malam dia termakan buram.

Hidupkan gairah kesedihannya. Kembali bersembunyi dari lalu lalang masalah. Berlari sejauh mungkin untuk menjauhi masalah sembari mengepakkan sayapnya sendiri. Terbang menembus ketakutan yang terus saja mengikuti. Kemanapun ketakutan selalu mengekor dibelakangnya. Seakan semakin lama semakin mendekat bahkan melekat. Kemanapun selalu diikuti, sampai di dalam persembunyian tersembunyi sekalipun tetap mengikuti.

Dia hanyalah setubuh manusia yang hanya punya nyawa dan nama. Selebihnya tak tau apa yang dia rasa. Mungkin hanya kendala sinkronnya hati dan otak. Menyuruh berjalan untuk lebih beranipun otak dan hati tidak bisa berkerjasama.

Sepanjang hidupnya hanya didedikasikan untuk kata “pecundang”

1 comment: