Thursday, April 10, 2014

Melancholia Syndrome

Peraduan cahaya terang diantara nestapa dan derita dalam secerca udara hirup pikuk pagi ini. Mengalunkan kharismatik seorang ksatria yang akan memenangkan pertempuran pada episode hari ini.

***

Hari ini, ketika semuanya telah terbangun dari  mimpinya. Kau hanya memberi isyarat kemalasan, menarik cepat selimut  lalu tertidur kembali.

Didalam kamar, dibawah kesadaranmu dalam gelapnya ruang, sebagian darimu angkat bicara. “Wajahmu tak cerminkan penyesalan. Retaknya kejujuran terberai berantakan. Mencoba untuk memberi kesempatan, ternyata hanya ilusimu belaka. Tak ada sesuatu yang terjadi akan adanya tanda-tanda perubahan yang nyata. Kau tidak malu pada gerimis jingga yang telah dengan keindahan tetesannya menghadirkan pelangi untuk pijakan meraih mimpimu. Dengan sombongnya  dirimu merasa apatis tentang yang melatar belakangi mimpimu.
Terimakasih pun tak terucap darimu. Tak habis pikirku tentang jalan pikiranmu. Berbeda, tidak seperti saat gerimis tapi sudah menjadi hujan lebat beraroma halilintar. Ada apa dengan hidupmu, apakah kau sudah gila?” Tak sedikitpun kau membalasnya dengan suara falsmu. kau hanya menampakkan kelesuhan bahwa telah bosan mendengarnya.

Disudut ruangan tergeletak, terkapar sunyi. Mendengar semua kicauan sehari-hari. “entah apa yang mereka perdebatkan diluar sana, sehingga menjadikan larut-larut kekemudian hari sampai saat ini, dan mungkin akan berlanjut terus-menerus. tak tahu entah sampai kapan. Aku pun tak mengelak tentang semua cercaan untuk diriku, secara garis besar semuanya benar.” Lontaran dendam tanpa disengaja. Membungkam hati. Meringkuk, menghukum diri dalam kamar gelap.

Disisi lain, dalam sudut pandang orang sekitarmu yang telah mengadili privasimu. Telah membunuh setiap gerakmu. Meneriakimu dengan kata-kata kotor. Menjatuhkanmu hingga tertimpa tangga. Hmm.. Kemalangan apa yang sedang kau terpa. Mereka tak menyadari hal ini, pola pikirnya kemana-mana. Menerka yang tidak-tidak, tak serasi realitasnya. Mungkin mereka tak tahu kebiasaanmu selama ini. Mungkin juga mereka tak salah
karena kamu hanya diam. Diam-diam melakukannya. Mereka tak perlu mengerti dan mereka pun tak akan percaya.

Tapi disisi lainnya lagi, dalam sudut pandang yang berebeda dari kebanyakan mahkluk disekitarmu. Dia berasumsi lain. Dia tahu apa yang sedang kau alami. Dia mengerti benar. Dia yang paling mewakili dirimu sekarang. Suatu keadaan dimana kamu benar-benar rapuh, mengenaskan. Sebuah depresi yang berkepanjangan melahap habis sisi psikologismu. Jiwamu mungkin sedang dalam keadaan yang sangat mengkhawatirkan. Menawarkan kematian kapan saja. Tapi, kau tidak perlu berkecil hati. Tak berhak salahkan kejanggalan ini. Ini hidupmu bukan hidup mereka. Ini caramu bukan cara mereka. Ini masalahmu bukan masalah mereka. Biarkan mereka melihatmu dengan bebas, saat jiwamu berpijak pada semua cercaan itu, secara tidak langsung keajaiban akan menghampiri. Akan menyatu dengan langkahmu.

Dikamar gelap ini, disudut ruang berdinding kelabu. Dirimu seperti mengalami ilusi. Seolah-olah dirimu menjadi beberapa bagian, cerminan dirimu saat ini. Mereka bukan orang lain bagimu, itu dirimu. Mereka terlihat seperti sungguhan, bukan animasi atau semacamnya. Mereka mensuarakan beberapa hal, menawarkan pilihan yang dramatikal. Kamu hanya mengamati mereka. Mencoba mengerti maksud dari hal ini. Untuk kesekian kalinya dirimu terdiam. Dan terdiam.

***

Didalam kamar semua terombang-ambing dalam semu. Berserakan di beranda, tak terjamah kenyataan. Terlihat dari jauh terkapar lemah menghabiskan sisa malam. Mungkin akhir dari sebuah impian atau memilih menjauh dari derita. Seperti menyiksa diri dalam sepi. Setidaknya itulah yang terjadi. Tapi terkadang busur presepsi meleset tak tepat menancap. Tak pernah terlintas, semua tuduhan itu tak benar nyatanya.

No comments:

Post a Comment