Jika es tehmu terlalu manis, tambahkan saja dengan kenangan kita, barangkali rasanya bisa serupa kopi. Pahit memang, tapi setidaknya masih sanggup dinikmati sampai kosong gelasmu.
Bukankah rasa hanyalah kamuflase dari hati? Bukankah orang yang mengaku jatuh cinta menganggap tahi kucing rasanya coklat? Bukankah orang yang terlanjur patah hati merasa kopi itu segar sedangkan es teh itu pahit? Bukankah ini hanya soal rasa? Atau aku yang sudah gila?
Aku suka kamu. Kamu suka dia. Dia suka orang lain.
Kita sama-sama jatuh cinta tapi tidak sama-sama dicinta. Kita juga sama-sama patah hati tapi tidak saling memahami.
Aku suka es teh. Kamu suka kopi. Kita tak perlu bertukar gelas hanya untuk merasakan keduanya membekas dihati bukan?
Jadi, pada bagian mana yang harus lebih aku perjelas?
Bukankah sudah terlihat begitu jelas?
Sekali lagi, apakah ini hanya soal rasa? Atau kamu yang juga sudah mulai gila?
<3 <3
ReplyDeleteEh?
Delete