Tuesday, January 23, 2018

Merayu Api Bertamasya

Sore kali pertama ketika api menyala sebagai wujud lilin yang berubah romantis, berhias kerlip lampu jalan yang sebagian kecil cahaya jatuh menimpa sungai di dekatnya, indah! Tak terkecuali juga parasmu yang tersipu, tersapu angin lirih. Lewat suasana ini, ingin aku meraih matamu yang kuanggap mencuri pandanganku secara turun-temurun. Membiarkan sepuluh detik percakapakan kita berantakan dalam hati masing-masing, saling melempar tanya dan menyimpan jawaban-jawaban yang liar—yang tidak masuk akal. Lalu aku menawarkan pilihan tempat duduk untukmu, dengan harapan rasa gemas ini segera berlalu, dan begitu anggun kamu hanya membalasnya dengan bahasa tubuh. Aku mengerti atau sama sekali tidak mengerti. Silakan duduk di sampingku jika ingin disayangi!

Hai?

Seperti biasa, kamu memerankan dirimu saat di dekatku dengan sedikit dialog dan banyak sekali diam. Asalkan kamu bersedia, aku selalu ada. Meski sore ini begitu malu, udara semakin didera rindu, aku tak merasa gugup pada meja yang kamu jadikan sandaran pipi merah jambu manjamu. Oleh apa dan sebab apa aku masih ingin berlama-lama di lingkaranmu. Bertahan demi hari-hari esok yang masih sepertinya. Dan tetap mengupayakan beberapa cerita karangan sendiri supaya layak diangkat ke layar lebar! Atau setidaknya jadi buku—yang kamu bakar marah seketika hingga menjadi abu—sampai-sampai kamu hirup sesak penuhi rongga asmaramu! Kemudian memujamu secara berkala untuk mengatasi mimpi burukku saat aku bangun tidur nanti. Namun, apabila kamu sudah tidak ada lagi narasi drama denganku, bolehkah kiranya aku memberi semacam tepuk tangan penghibur pertunjukkan?

Baiklah.

Dalam kurun waktu belasan hela nafas, setelah adegan percakapan mengahafal naskah yang tidak masuk daftar pertemuan. Kita masih diam, namun bukan terdiam. Diam-diam yang sebenarnya tak ingin diam. Malahan jika kamu bertanya padaku perihal kita, aku sungguh ingin mendiami hatimu secara diam-diam, seperti halnya kamu yang senantiasa dari awal berjumpa sudah mendiami hatiku walaupun kamu hanya diam.

Aku jadi malu mengingatnya. Tidak akan kukatakan dulu. Namun dulu rindumu seringkali meranggas malam-malamku. Membuat sepetak kamarku kalut berserakan. Mencoba mencari pembenaran atas segala resah antara benar atau salah, rasa jatuh cinta ini, rasa kagum ini.

Tentu dengan adanya kata bersama untukmu dengan yang lain membuat siapa saja bertanya, masihkah ada harapan?

Aku.

Aku.

Harusnya aku bisa lebih sedikit menerima yang kukira kurang banyak. Menyimpan atau membagi pada yang tidak berkenan memeluknya. Dan berharap untuk tidak kembali pada kekasih yang bagiku bagai sang surya yang menyinari dunia, terdengar seperti lagu masa kecil kurasa. Tapi, untuk pemurung sepertiku, sepertinya ada hal besar yang kudambakan setiap hari, cukup ada semacam pagi untuk berkecil hati. Itu saja. Aku hanya saja bukan pemalu, lebih pada kurang menangkap suasana riang-gembira di sekitar. Meski setiap aku mengubah air muka menjadi bahagia tak akan terganti paras murungku yang jelita nan malas ini dilihat mata.

Akhirnya kukatakan juga.

Kamu, aku kangen. Tepatnya rindu. Lebih menariknya aku mengulur jarak antar kita agar tercipta ruang yang bisa kita nikmati antar muka.

Kamu, aku juga benci. Tepatnya sebal. Lebih tinggi dari angka terendah suhu di kotaku, betapa warna kesukaanmu membuatku mudah kembali buta warna.

Maaf. Aku meminta maaf. Aku pernah sekali meminta perhatianmu dalam bentuk yang tidak masuk akal.

Dan kini?

Kenapa?

Kenapa kamu tidak dari kemarin-kemarin datang?

Ah!

Hanya sisa-sisa.

Sia-sia!

No comments:

Post a Comment